Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Pikiran Tidak Tenang


__ADS_3

"Boleh bu', silakan! Tapi saya memohon untuk tetap tenang ya bu'. Karena pasien juga belum sadar," Ucap suster dengan mengecek infus dan mbak Nurul duduk di kursi.


"Baiklah sebentar lagi pasien akan sadar bu, mohon di tunggu. Saya mau keluar dulu bu." Ucap suster dengan menarik handle pintu dan menuju keluar ruangan.


"Bu ayo lah! Gini juga khawatir dengan keadaan ibu. Apalagi ini rumah sakitnya bapak lagi, gimana kalau ketauan nanti?" Ujar mbak Nurul.


Pelan-pelan Rania membuka matanya, matanya serasa menempel dan menatap sekeliling ruangan.


"Ya Allah ternyata aku di rumah sakit," Rania terkejut dan dia pun terbangun.


Mbak Nurul ikut terpenjat.


"Eh bu jangan bangun! Keadaan ibu masih lemas seperti ini kok ibu bangun. Udah bu, tidur aja. Biar nggak semakin sakit nanti," kata mbak Nurul dengan membantu Rania untuk tidur.


"Ini ada di mana mbak?"


"Di rumah sakit bu, ibu sakit." Balas mbak Nurul dengan merapikan selimutnya.

__ADS_1


"Mbak..." Seru Rania dengan pelan, dan mbak Nurul menjawabnya dengan anggukan. Mengerti apa yang di maksud Rania.


"Ibu istirahat dulu! Nggak usah capek-capek, nanti saya malahan yang di marah sama bapak. Tenang aja, mbak nggak akan bilang dan berusaha untuk menutup ini semua dari siapapun bu." Ucap mbak Nurul dan Rania serasa pusing kembali, merasa ada guncangan yang berkelebat di kepalanya.


"Mbak... Tolong panggil dokter!" Ucap Rania dengan pelan.


"Baik bu," mbak Nurul memencet-mencet tombol darurat yang di gunakan di rumah sakit untuk memanggil dokter.


***


Perasaan Irsyad tidak enak, dari tadi memikirkan sang istri. Dengan menelepon istrinya tidak di angkat, dan pembantunya sama.


Irsyad mondar-mandir, temannya pun heran dengan tingkah laku Irsyad.


"Kamu ada apa syad? Kok kamu mondar-mandir aja dari tadi." Temannya menyesap minuman yang ada di meja.


Sudah di sediakan, rapat sebentar lagi juga mau mulai. Irsyad kembali menghubungi sang istri dengan rasa cemas.

__ADS_1


Kepalanya sedikit pusing, karena Rania tidak menjawab telepon Irsyad.


"Ya Allah angkat dong, kamu kenapa sih? Dari tadi nggak di angkat-angkat lagi. Kemana saja ini jugaan pembantu? Coba beri penjelasan sedikit atau gimana gitu." Gerutu Irsyad dengan memutar-mutar badannya.


"Eh syad, emangnya kenapa sih? Kok nggak bisa diam dulu! Itu 'kan masalahmu di rumah kok di bawa ke sini juga cuyy... Ini kerjaan nggak ada namanya mencampuri rumah tangga, maklum kita jomblo." Ucap temannya.


"Iya maka dari itu jomblo itu tidak tau apa-apa tentang perasaan, jadi harap maklum juga masalah pribadi kebawa ke pekerjaan. Dia 'kan juga sudah berkecimpung lama menjadi dokter, apalagi menjadi dokter begituan, butuh kesabaran dan pikirannya harus jernih." Ucap salah satu temannya yang membela Irsyad.


"Sudah! Kalian ini, pak kita sebentar lagi ada rapat jadi di tunda dulu pikirannya sama yang di rumah ya Pak. Jangan sampai mereka juga ikutan turun tangan nanti! Bisa di bahas kalau sudah selesai rapat sama istri bapak." Nasihat dari sang komando.


"Iya Pak maaf sekali lagi," ucap Irsyad dengan membenarkan posisi duduknya, tetapi pikirannya tidak tenang dan tidak bisa senyaman jika dirinya bekerja.


Ada rasa yang mengganjal.


"Itu dia! Mari Pak!" Orang-orang pun mendekati tamu yang merasa sangat terhormat, Irsyad mengikuti saja bukan berarti menghormati secara berlebihan dan Irsyad menganggapnya sepantaran lah, nggak terlalu istimewa sekali.


...Bersambung......

__ADS_1


Terimakasih 🙏💕


__ADS_2