Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Rumahnya Sederhana Dari Luar


__ADS_3

Happy Reading


Sampailah di perkarangan rumah Irsyad, Rania takjub dengan rumahnya dari sisi depan, emang sederhana tapi nggak tau juga di dalamnya.


"Mas ini rumah kamu?"


"Iya rumah kita berdua dan anak-anak kita nanti. Kita akan tinggal bersama-sama dan kalau kamu mau apa-apa tinggal ngomong saja! Nggak usah sungkan untuk kemana-mana." Irsyad pun membukakan pintu mobil untuk Rania dan Rania tersenyum kepada suaminya, cinta akan tumbuh di perbukitannya kalau begini caranya.


Rania memasuki rumah, sebelumnya Irsyad membuka pintunya dengan kunci dan pintunya terbuka lebar-lebar. "Assalamu'alaikum, ada orang?" Tanya Rania dengan melangkah ke dalam.


"Kamu ini, emang kita bukan orang?"


"Hehehe iya mas, kita orang ya."


Rania meletakkan tasnya di atas meja dan menatap semua ruangan, melangkah satu langkah dan Rania melongo, mulutnya huruf O.


Irsyad menutup mulutnya, takut kalau kemasukkan nyamuk nanti. Masuk ke dalam mulut secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Jaga mulutnya!"


"Iya mas, maaf."


Rania memandang semua ruangan, ya ruangan di dalam lebih mewah daripada di luar rumah. Kalau luar rumah emang biasa dan sederhana.


"Assalamu'alaikum Pak bu. Maaf kita tadi telat, gara-gara Mas Onyon nih, tadi pake segala macet terus segala alesan perutnya beser lagi." Adu perempuan yang umurnya sudah kira-kira sekitaran 30 tahun lebih.


"Wa'alaikumsalam, nggak papa kok. Yang penting kalian sampai di sini, kenalkan ini istri saya. Dan adek ini mbak Nurul, dia yang akan membantu kamu di sini. Kalau ada apa-apa langsung saja lapor sama mbak Nurul iya."


"Bisa saja bapak ini, bapak emang dari dulu baik bu sampai kita kerja sama beliau itu di beri kemudahan terus. Nggak ada yang namanya lelah kerja dengan bapak." Ucap mbak Nurul dengan memukul lengan Mas Onyon.


Suami istri saling membantu dan itupun kalau mereka sama-sama sulit.


"Sudah kalian ini tiap hari bertengkar terus karena hal kecil saja sampai di bahas berhari-hari." Irsyad duduk di kursi dan memegang tangan Rania.


Sedangkan, mas Onyon memonyongkan bibirnya, menunjukkan majikannya yang menggandeng tangannya. Iri, haha...

__ADS_1


"Ngapo? Iri to, wes lah." Ucap mbak Nurul dengan logat bahasa jawanya dan mencubit pinggang mas Onyon. (Ngapa? Iri ya, Udah lah.) Mas Onyon mendesis seperti ular.


"Kalian, silakan pergi ke kamar belakang itu ya! Kalau mau di bersihkan lagi juga nggak papa, jugaan beberapa yang masih di bereskan kemarin sama orang-orang yang saya perintahkan untuk mengisi barang-barang untuk rumah ini." Ucap tegas Irsyad dan mereka mengangguk-angguk, pergi dari pandangan Irsyad dan Rania.


"Kamu mau apa?"


"Nggak mau apa-apa mas, aku cuma mau istirahat saja." Kepalanya serasa pusing dan jangan sampai suaminya tau dengan penyakitnya. Rania harus menyembunyikan dalam-dalam, kalau tidak bisa curiga dengan gerak-gerik Rania.


"Yaudah kalau gitu, aku tunjukkan kamarnya. Sekalian mau bereskan pakaian yang di koper."


Irsyad membawa kopernya dan tas yang berisi pakaian Rania bersamanya.


Mereka pergi ke kamar yang di tuju, Rania membuka kamarnya dan sekali lagi dia terkejut.


"Mas, kamarnya bagus banget. Ini besar daripada kamarku, terus ini lagi udah ada semuanya lagu, lengkap." Ada lemari, ranjang yang ukuran besar, kamar mandi, tempat make-up, dan semuanya pun lengkap.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Komentar positifnya ya, Oke... ☺☺☺


__ADS_2