Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Temenku Beda


__ADS_3

"Hai mbak..." Sapa istrinya Fadli dengan berjabat tangan dengan Rania, Rania meremang pandangannya.


Lantas ia, mencoba untuk meraih tangan Irsyad untuk menjelaskan siapa perempuan ini?


"Oh iya, ini sayang... Ini istrinya dokter Fadli, namanya siapa, lupa gue?" Fadli pun memainkan bibirnya dan istrinya Fadli itu tersenyum.


"Nama saya Dina mbak, maaf mengganggu... Ini ada sedikit oleh-oleh," Dina menunjukkan buahnya yang ia bawa. Meskipun ke sini, cuman bawa buah tapi bagi Irsyad masih kurang. Karena suaminya itu nggak punya sopan santun atau gimana?


"Iya tau, istri ku mesti tau. Nggak mungkin 'kan ia mau nungging buat tanya-tanya, siapa yang bawakan buah ini." Ucapnya dengan ketus, masih kesal dengan Fadli yang memainkan handphone tanpa mengajaknya mengobrol.


Keluar kek, apa ngobrol ke kantin kek.


"Ehem, matanya tu jangan terlalu jeli sama handphone yah!" Sindiran halus tapi menohok bagi Fadli.


Seakan terpancing, Fadli beranjak dan berlalu ia pergi, melangkah keluar.


"Weh, kok keluar?"


"Makanya tadi, jangan asal nyeplak ngomong!" Rania pun menasehati suaminya itu, Dina terkekeh.


"Agak gitu... Ya udah, aku mau susulin suami ku dulu... Aku pergi dulu, assalamu'alaikum..." Ucap Dina dengan beranjak pergi.


Tanpa di sadari Irsyad pun membuka bingkisan buah tersebut, ia kepo seberapa banyak sih yang di bawa?


Wkwkwk...

__ADS_1


"Mas..." Dina mengejar Fadli.


"Hem... Ngapa? Aku mau ke ruang meeting dulu ya, kamu ke ruangan aku aja. Apa nggak balik ke ruangan Rania nggak papa," Ucap Fadli dengan berbalik badan.


Ia pun mendekati istrinya.


"Kenapa? Kok kamu sama temen mu gitu, nggak boleh mas... Macam teman itu sudah saudara, anggap saja begitu." Fadli menggeleng.


"Sayang, temenku itu beda. Tiap kali bertemu, bawaannya yang ada berantem terus. Apa nggak kesel coba? Capek, tiap kali bertemu berantem." Istrinya pun mencoba untuk mengelus punggungnya.


"Ooo gitu yah, ya nggak usah di bawa emosi dong. Sapa baik-baik, terus ya kita harus tahan emosi kita. Jika di turutin emosi kita, dan meledak-ledak. Apa yang terjadi? Salah satunya pasti ngalah untuk keluar, dan memusuhinya." Ujar Dina dengan baik-baik, dan tersenyum.


"Macam anak kecil, kalian itu sudah dewasa kok sikap dan perhatiannya, sama persis macam anak kecil. Bayangin, anak kecil itu kalau nangis satu, nangis semua. Udah punya anak nih, gimana sikap kedewasaannya?" Dina terkekeh.


Abi dan Umi sudah mendarat cepat di perumahan komplek elit, benarkah rumah besannya di sini?


Salah, bisa tanya orang lain nanti.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam, eh Abi sama Umi." Ya, satpam rumah sudah kenal sama mereka ketika pernikahannya Rania dan Irsyad yang lalu, meski agak sedikit lupa. Wajahnya masih di ingat.


"Pak, Nyonya sama Tuan ada di rumah?"


"Emmmhhh, gini Abi, Tuan sama Nyonya nggak ada di rumah, nemenin nona Kirana di rumah sakit Abi..." Jawab satpam rumah, Abi melongo sementara Umi hanya terdiam.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Kecelakaan Umi..."


"Innalillahi..." Ucap Umi dengan pelan.


"Ya sudah, kita ke sana. Oh iya, rumah sakit mana? Soalnya nanti kalau nyasar gimana? Bakalan nggak ketemu."


"Kalau mau ke sana, sekalian sama teman saya itu Pak. Katanya mau ke sana, nganterin makanan dan pakaian. Kan nggak usah buang-buang uang buat bayar angkotnya," jelas satpam rumah yang membukakan pintu gerbang selebar-lebarnya untuk lewat jalan mobil yang mau keluar.


"Tapi, bi... Nggak enak sama besan kita nanti, nebeng terus." Bisik Umi, Abi menggeleng.


"Sama-sama searah aja lho bu, ayo lah kasian yang ngajak... Nanti di kirain kita apaan gitu," Abi sama Umi pun masuk ke dalam.


Sesampainya di dalam, mereka menunggu di teras depan rumah.


"Sabar ya, Umi dan abi masih siap-siap dulu. Makanannya masih matang, kalau mau makan nggak papa ke dalam saja." Ucap bibi yang menyiapkan tas besar yang berisi pakaian.


"Nggak usah bu..." Jawab mereka serempak.


Bersambung...


Jangan lupa like dan komentar positifnya 👍.


Makasih ❤️

__ADS_1


__ADS_2