Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Papah Sudah Tau


__ADS_3

Suara handphone membuat Irsyad terperanjat, agak sedikit menaikkan pundaknya. Siapa lagi yang menelepon.


Seperti nomor tidak di kenal.


"Hallo, assalamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam, nak kamu ada di rumah sakit? Saya mau periksa nih, ini tadi pusing terus nggak tau kenapa sekarang tambah geter-geter gitu."


Irsyad menghela nafas panjang.


Bagaimana ini? Bukannya ada dokter umum yang menjaga dan bisa bertanya dengan suster atau siapa lah.


Kok, sudah dapat nomor Irsyad saja.


Sudah di matikan sambungan teleponnya oleh Irsyad, dan orang itu berusaha untuk menelepon balik, tapi tidak ada sahutan sama sekali.


Notifikasi whatsapp begitu banyak, dan ia lebih cepat mematikan teleponnya. Melihat beribu-ribu pesan yang di kirimkan oleh adeknya tersebut.


Hatinya berdesir, entah ini ada kemungkinan angin nyelip.


"Ya Allah, adek kecelakaan setelah pulang dari kampus... Gimana ini?" Irsyad pun masuk ke dalam ruangan operasi, ingin menjumpai Fadli. Dan mengatakan ia titip istrinya dahulu, nanti ia akan kembali ke sini.


Irsyad datang, dengan nafas memburu dan Fadli mendengarnya sangat kentara suaranya. Ia terkejut, kenapa Irsyad tiba-tiba datang?


"Loh ngapa Syad?"


"Fadli, adekku kecelakaan, dan aku harus ke sana. Melihat gimana keadaannya... Aku titip istri ku dulu ya, Fadli... Sebentar saja," dengan nafas terengah-engah dan Irsyad keluar dari ruangan operasi menuju ruangan ICU yang di mana adeknya sekarang dalam keadaan kritis.

__ADS_1


Ya Allah cobaan apalagi ini.


"Assalamu'alaikum, mah... Pah," Irsyad berhambur ke pelukan orang tuanya lalu ia bersimpuh, meminta maaf.


Ia menangis, dan mencium paha orang tuanya dengan begitu mamah ikut menangis, memeluk papah.


"Kak," seru papah.


"Iya, Pah... Maaff, kakak nggak bisa menghadiri acara wisuda adek Pah..." Tatapan sendu, membuat Irsyad berurai air mata.


Irsyad meminta maaf, dan tidak bisa di pungkiri hari ini adalah hal yang membuatnya di uji bertubi-tubi untuk pilihannya.


Hanya saja, ia ingin bahagia.


Dan sekarang? Kenapa adek dan istrinya sama-sama mengalami nasib yang sama? Hanya saja, mereka berbeda arahnya.


"Iya, mah... Maaf, jika hari ini aku menemani Rania untuk berjuang di garis operasi mah." Ya, akhirnya Irsyad mengucapkan sekarang, dan ia tidak ingin berbohong lagi karena masalah pasti bisa selesai.


Mamah dengan mulut menganga, tak percaya apa yang di katakan Irsyad, anaknya itu. Papah hanya diam tak bergeming.


Betul, jika papah sudah tau kalau istrinya Irsyad sakit dan papah saat itu menemui Rania yang berobat di rumah sakit ini.


Flashback On


Papah Irsyad.


Aku samar-samar menatap Rania yang sedang menunggu di loby rumah sakit, berjalan ke resepsionis rumah sakit.

__ADS_1


"Bukannya Rania?" Aku membuntuti Rania yang sedang berjalan menuju ruangan dokter Fadli.


"Hah, aku nggak boleh ketinggalan jejaknya. Dan bisa jadi, ia ke sini cuma ada kepentingan buat ketemu Irsyad." Ucapku di dalam lubuk hati.


"Ya Allah, kayaknya mau ke ruangan dokter Fadli. Dan oke, aku harus gali informasi itu." Aku dengan memindik-mindik seperti maling, setelah menunggu cukup lama.


Akhirnya Rania keluar dan menuju ke apotek, baru ini kesempatan ku untuk menemui Fadli, karena ini aku tidak boleh melewatkan. Apalagi menantu ku ini tidak membawa siapa-siapa. Berarti ia memboyong badannya sendiri, untuk periksa kepada Fadli, teman Irsyad satu ini.


Untung saja anakku tidak melihat ku, karena ia lewat dan menuju ke ruangannya.


Dan baru aku masuk ke dalam.


Ia terkejut, sepertinya aku memang menyeramkan karena sampai di takuti oleh semua orang. Hahaha, batinku dengan menderu-nderu.


"Assalamu'alaikum, Dil... Apa kedatangan om membuatmu terganggu?" Fadli terkekeh.


Menarik tangan ku untuk duduk di kursi yang ada di sana, "Wa'alaikumsalam, anggak kok om... Kok om ke sini? Bukannya malah ke ruangan Irsyad, om?"


"Iya, tadi ada rapat sama direktur rumah sakit... Om, cuma mau tanya sama kamu, boleh?" tanya ku sembari menepuk pelan punggung Fadli.


"Yah, om... Nggak papa kok, yuk om! Silakan mau tanya apa aja, kalaupun Fadli sanggup, Fadli akan jawab kok om..." Sahut Fadli.


Bersambung...


Jangan lupa like dan komennya 🤗


Makasih ❤

__ADS_1


__ADS_2