
Irsyad di rumah di telepon oleh asistennya, kalau hari ini dirinya ada jadwal untuk praktek dan ada seseorang yang akan melakukan operasi.
"Ya sudah mau gimana lagi? Aku harus ke rumah sakit sekarang juga." Irsyad membawa tas kerjanya, sesampainya di depan.
"Mas, ini kuncinya mana?" tanya Irsyad kepada mas Onyon.
"Iya Pak, ini."
Mas Onyon memberikan kunci mobil dan tersenyum ramah.
"Jaga rumah dulu!"
"Iya dari kemarin juga gitu Pak," jawab mas Onyon. Irsyad berhenti sejenak, dan menghadap mas Onyon.
"Maksudnya?" Irsyad bertanya kembali.
Mas Onyon sudah keceplosan dengan kemarin, ia di rumah sendiri tanpa ada seorang pun yang menemaninya.
Tapi, sekarang dirinya juga masih selamat walaupun ada yang mengganjal di hati.
Karena angin bersliweran, bertiup kencang.
"Anu Pak, itu kemarin saya nggak ada yang menemani saya ketika ada kucing yang bersua terus saya keluar dari rumah gitu." Perasaan Irsyad tiba-tiba muncul tidak percaya dengan perkataan mas Onyon. Apalagi itu alasan yang membuat Irsyad nggak nyangkut di pikirannya.
"Baiklah kalau gitu, saya permisi dulu... Itu gerbangnya tolong bukain!" mas Onyon berlari, membukakan gerbangnya.
__ADS_1
Tinn, suara klakson Irsyad bunyikan dan mas Onyon mengangguk.
"Aduh hampir aja keceplosan, kalau nggak aku yang di pukul habis sama istri ku." Ujar mas Onyon dengan menutup gerbang kembali. Menganggap semuanya enteng tinggal sebar dan asal ceplas-ceplos gitu aja. Mas Onyon menggeleng sempurna, belum juga punya anak kok sebegininya hidup. Di uji beberapa kali, mas Onyon menatap semuanya. Hidupnya jika tertata sempurna maka dunianya bersama istrinya semakin indah.
***
Rania pun di ruang tunggu, menunggu dokter Fadli yang belum datang sejak tadi.
Menunggu di samping arah resepsionis, pintu depan rumah sakit.
"Bu, kita ke dalam aja ya, bu!" Ucap mbak Nurul dengan menyarankan.
"Nggak usah di sini aja. Enak di sini, kalau di dalam nggak itu... Dingin, nggak kayak di sini adem ada hawa dari angin. Nggak selalu di AC terus," Rania mengecek apa yang harus ia bawa.
Mbak Nurul menilik sekali lagi.
Benar terkaannya jika itu majikan laki-lakinya, kenapa ada di sini? Dan yang mengobrol itu adalah Irsyad bersama dokter Fadli.
"Bu, kita ke dalam yuk! Sebentar lagi dokter Fadli akan menyusul." Agar menghindar, mbak Nurul mengajak Rania ke dalam. Akhirnya menurut.
"Di sini dulu, nanti 'kan dokter Fadli akan ke sini. Apalagi ini ruangannya," Mbak Nurul pun menengok ke sana dan tidak ada siapapun.
***
"Aku ke ruangan ku dulu ya, Syad." Ucap dokter Fadli menepuk pundak Irsyad.
__ADS_1
Irsyad ada urusan dulu bersama dokter lain, dan mengobrol tentang operasi yang akan di jalankan hari ini.
"Mari dok! Saya permisi dulu." Dokter Fadli pun melenggang menuju ke ruangannya.
"Hem baiklah, saya nanti akan persiapkan. Saya mau ke ruangan dulu ya dok... Sampai berjumpa nanti, di ruang operasi." Ucap Irsyad, dokter itu tertawa dan menepuk punggung Irsyad dengan pelan.
"Emangnya taman, ruang operasi itu ya gitulah... Kita menyelamatkan pasien dan nggak ada namanya ada hawa sejuknya." Kekeh dokter itu, yang sudah usianya setengah abad.
Irsyad menghormati betapa bangganya sekarang sudah menjadi seorang dokter, karena dokter inilah yang mengajarkan Irsyad pada semua bidang termasuk pada agama dan dunia nyata.
Pada saat koas itu Irsyad mendapatkan banyak ilmu dari dokter ini, sepatutnya kita bangga mempunyai guru yang seperti ini.
Irsyad menganggap dokter ini adalah orang tuanya, Irsyad bersalaman sama dokter ini dan tersenyum ramah.
Irsyad melangkah ke ruangannya, ada beberapa langkah saja dari ruangan dokter Fadli. Sepuluh langkah, sampai di ruangan dokter Fadli, sedangkan yang sininya ruangan Irsyad.
Menatap ada perempuan yang berbalut hijab, seperti istrinya, dan dokter Fadli masih mengobrol sama perempuan itu.
Persis sekali, apalagi dengan baju perempuan sebelahnya. Nggak asing lagi, dokter Irsyad pun menghampiri tetapi suster memanggilnya.
Bersambung...
Like dan komen...
Makasih 😊
__ADS_1