
Happy Reading
Mereka pun bingung dan tidak menerima hukuman dari abinya,
“ Nggak lah bi, nia pokoknya nggak mau semua, titik nggak pake koma pokoknya Aku nggak mau pokoknya. ” Kata Rania yang tidak menerima.
Rayhan menginjak kaki Rania,
“ Dek, kamu apa-apaan? Nggak boleh kayak gitu sama abi. Bisa-bisa hukuman di tambah nanti sama Abi. ”
“ Hm boleh kalau gitu. Abi pilih begini, abi akan copot hukuman kalian berdua, soalnya abi ada ngajar hari ini, jadi mau nggak mau abi copot hukumannya. Kalian berdua bisa pergi, lanjut pekerjaan kalian. Tapi, jangan lupa! Jangan buang-buang makanan karena itu mubazir! Ngerti kalian, ” jelas abi dengan menasehati mereka berdua.
Mereka mengangguk dan abi pergi.
“ Selamat, ” ucap Rayhan dengan membuang napasnya.
“ Eh bang. Aku nggak selamat ini, gimana lagi? Hapalan banyak banget bang. Terus aku belum hapal lagi, ” desah Rania.
“ Hapalan apa dek emang? ”
“ Hapalan surat yang susah itu lho bang, ” jawab Rania.
“ Ooo yang itu, ”
“ Gimana bang? ”
“ Nggak tau, itu udah urusan kamu kok. Abang mau ngajar juga, kalau begitu abang pergi dulu. Hati-hati nanti ya, ” Rayhan pun pergi.
“ Hhhh abang ini nggak bisa di percaya, ”
Dengan menghentak-hentakkan kakinya karena dia tidak mau kena marah abinya di depan teman-temannya nanti.
__ADS_1
Baru saja Rania naik kelas... Tapi sudah membuat ulah.
Rania mengambil buku pelajaran dan buku catatannya.
“ Assalamu'alaikum umi, ”
Rania masuk ke dalam rumah, ternyata tidak ada siapa-siapa di rumah.
“ Beuh pengen makan, gara-gara abang ini, nggak jadi makan. ”
Rania berjalan ke arah meja makan dan menghempaskan bokongnya di kursi.
“ Dari tadi ini perut udah keroncongan di tambah abi marah-marah nggak jelas, ”
Rania mengambil piring dan beberapa lauk.
Dia pun makan dan sampai benar-benar kenyang akhirnya.
“ Glekk... ”
Rania mengambil gelas dan menuangkan air putih. Rania melihat jam, ternyata sudah jam
dua siang.
“ Ha, apa? Aku makan sampai setengah jam sendiri. Waduh, aku di marah nanti sama abi yang pasti. Udah telat terus nggak hapal lagi, ”
Rania pun dengan cepat meminumnya dan mengambil bukunya dengan cepat.
Rania membuka pintu dan menutupnya dengan terburu-buru.
Dengan berlari dan dengan napas ngos-ngosan. Akhirnya sampailah di depan kelasnya,
__ADS_1
“ Eh aduh... ”
Karena terkejut dengan pintu yang tertutup kelasnya dan Rania menarik napasnya dalam-dalam.
“ Kok aku kayak orang mau mati gini ya, ”
Akhirnya Rania memegang permukaan pintu dan Rania terkejut karena abinya keluar dari kelas.
“ Astagfirullahalazim. ” Teriak Rania sampai teman-temannya pun ikut terkejut.
“ Masuk... ” Ucap Abi,
Rania pun mengekor dan abinya berhenti di depan teman-temannya.
“ Assalamu'alaikum warohmatulohi wabarakatuh... ” Ucap Abi dengan keras,
“ Waalaikumsalam warohmatulohi wabarakatuh... ” Ucap mereka serempak,
“ Dengan ini saya mau bicara dengan murid saya sendiri yang tidak tau waktu dan tidak mematuhi peraturan yang di buat, ”
Rania merasa kesal, karena tidak di suruh duduk.
“ Bisa-bisa punggung sama kaki kena rematik nanti... ” Gumam Rania
“ Kamu tau waktu itu nggak boleh di buang-buang. Apa yang ada di pikiran kamu? Saya tanya, kenapa kamu telat ha? ” Ucap Abi dengan sedikit keras.
Membuat semua teman-temannya terdiam, tidak berani menanggapinya, karena mereka tidak mau urusan dengan Rania. Mereka semua takut dengan sosok Rania yang tidak kenal ampun, bisa-bisa tujuh hari-tujuh malam. Mereka kena imbasnya, kecuali teman-teman yang akrab dengan Rania. Sebenarnya semua akrab dengan Rania, tetapi kalau ada yang mengolok-olok dan merendahkan seseorang. Maka, Rania lah yang maju.
“ Hm maaf Pak Kyai, ” Ucap yang tersulut di mulut Rania.
“ Saya tidak butuh maaf, tetapi saya butuhnya penjelasan. Bukan butuh maaf saja, ngerti kalian semua. Jangan di contoh perilaku seperti ini! Saya tidak mau kalian seperti ini, murid yang masih baru naik kelas, udah kayak gini. Apalagi nanti? Mau di jadikan apa? ” Ucap Abi.
__ADS_1
“ Ya, sekalian di jadikan koleksi apa nggak di taruh di museum aja sekalian. Susah amat, ” Ucap Rania di dalam hatinya.
Bersambung...