
Happy Reading
Ibu itu pun menunggu dokter yang sedang memeriksa Rania.
" Ya Allah nanti gimana kalau bayar? "
" Uang hasil jualan aja tadi di ambil bapak. Terus ini gimana bayarnya? "
Ibu pun mondar-mandir dan dokter pun keluar.
“ Ibu keluarganya? ”
“ Maaf bukan Pak, saya cuma menolong saja Pak. ” Jawab Ibu Nana.
“ Maaf Bu, saya mau ngomong sama keluarganya. Ada yang lebih penting yang pengen saya bicarakan
dengan keluarganya, bu. ” Jelas dokter,
“ Ya udah sama saya aja Pak, saya akan membicarakannya dengan keluarganya Pak. ”
“ Bagaimana ya bu? Ya udah kalau gitu, ke ruangan saya dulu bu. ”
“ Baik Pak. ”
Akhirnya Ibu Nana pun mengikuti intruksi dokter untuk mengikutinya.
Sampailah di ruangan,
“ Silakan bu, ”
Akhirnya Bu Nana pun duduk di kursi dan mendengarkan secara jelas.
“ Begini bu, saya mau jelaskan kalau pasien mengalami tumor otak stadium dua, bu. Sebelumnya pasien pernah mengalami gejalanya, tetapi selalu dia abaikan. Jadinya, untuk mencegahnya. Pasien harus melakukan operasi pengangkatan tumor, jadi mau nggak mau harus cepat untuk mengangkatnya. Kalau itu pun keluarga menerima dan pada stadium awal bisa jadi harapan
lebih besar sembuhnya, bu. ” Jelas dokter dengan menuliskan resep obatnya.
__ADS_1
“ Nanti akan saya jelaskan, pak. ”
Bu Nana sebenarnya terkejut dan rasanya sesak sekali dadanya.
“ Ini resep obatnya bu, nanti silakan ke apotek mengambilnya, bu! ”
Dokter menyerahkan kertas kecil seperti catatan dan Ibu Nana pun menerimanya.
“ Baik Pak, kalau begitu saya permisi dahulu. ”
Dokter pun mengangguk, Ibu Nana membuka pintunya dan menutupnya kembali.
“ Ya Allah anak itu kok miris sekali dan kasihan sekali, tetapi aku nggak punya uang untuk membayar semuanya. ”
Ibu Nana pun melihat resep obatnya yang begitu banyak.
Akhirnya mau nggak mau, Ibu Nana pun melangkah ke ruangan UGD, dimana Rania berada?
“ Assalamu'alaikum. ” Sapa ibu Nana dengan mendekati Rania di atas ranjang.
“ Sudah nak. Jangan bangun! ”
Ibu Nana pun membantu Rania untuk kembali tidur dan ibu Nana mengelus pelan kepala Rania.
“ Nak. Perkenalkan Ibu namanya ibu Nana, penjual pecel keliling nak. Pas tadi, ibu lihat kamu pingsan di taman. Terus ibu tolong kamu, ibu panggil warga, terus ibu suruh warga buat bawa ke rumah sakit. ” Jelas ibu Nana mengelus-elus tangan Rania.
“ Makasih bu, maaf merepotkan tadi. ”
“ Nggak kok nak. Sesama manusia harus saling membantu dan sesama meringankan. ”
“ Maaf nak, ibu mau jelaskan kalau kamu mempunyai penyakit tumor otak stadium 2 nak. Kata dokter seperti itu nak, kamu harus menjalankan operasi pengangkatan tumor otak yang bersarang di kepalamu nak. Ibu cuma ingin kamu sembuh nak, tapi ibu tidak bisa membantu nak. Maaf ibu nggak bisa bantu nak, ibu cuma bisa membantu dalam do'a. Ibu tidak punya uang banyak nak, tapi ibu punya cincin ini untuk kamu tebus obat kamu nak. Ini cincin pemberian suami ibu, pada saat ijab kabul nak. Ambilah buat nebus sama ketemu keluargamu nak. ” Lanjutnya dengan sedikit meneteskan air matanya.
Rania meneteskan air matanya dan membuatnya terharu dengan ibu Nana.
Rania pun menolaknya dengan halus dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“ Nggak usah bu, maaf Bu. Belum kenalan, nama saya Rania bu, maaf kalau merepotkan. Saya punya sedikit uang tadi, saya akan tebusnya sendiri bu. ”
“ Tapi nak. Ya udah kalau nak Rania nggak mau juga nggak papa, tapi inget nak. Kamu harus menjelaskan penyakitmu ke keluargamu nak. Ini penyakit sungguh berbahaya, kalau dalam kurun waktu, kamu nggak bisa terlambat untuk mengobati tumor yang tumbuh di kepalamu nak. Kamu harus pikirkan baik-baik ya nak, ibu nggak mau kamu patahkan semangat kamu nak. ”
“ Iya bu, insyallah Rania bisa. ”
“ Ya udah nak. Ibu pamit dulu, assalamu'alaikum. ”
Ibu Nana pun mengecup pelan kening Rania dan mengelus pelan kepala Rania.
“ Semoga kita bisa ketemu kembali nak. ”
Rania pun menyalami tangan Ibu Nana dan ibu Nana pun tersenyum.
Akhirnya ibu Nana hilang dari pandangan Rania,
Rania pun turun dari brankar dan melangkah ke apotek untuk menebus obatnya.
“ Sus saya mau tembus obat ini. ”
Rania menyerahkan dan suster terkejut seketika karena resepnya bukan resep penyakit biasa.
“ Baik mbak, tunggu terlebih dahulu. ”
Rania pun duduk di kursi yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit.
Bersambung...
-Jangan lupa like dan komen positif ❤️❤️❤️
-Jangan lupa mampir untuk follback instagram
author 😜😜😜
@dindafitriani0911
__ADS_1