Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Irsyad Mulai Curiga


__ADS_3

Dokter Fadli mempersiapkan kepulangan Rania ke rumah, ia mempersiapkan harus matang-matang. Pagi ini Rania di izinkan pulang, maupun keadaannya lemah ia tetap harus pulang. Suaminya juga pulang hari ini dari luar kota.


"Pak nanti ke sini lagi?" tanya Rania dengan ramah dan dokter Fadli membantunya untuk turun, bersama di dudukan di kursi roda.


"Iya bu, nanti ke sini lagi. Saya akan di sini menunggu ibu, dan saya akan persiapkan operasi ibu besok pagi. Besok ibu jadwalnya operasi ya bu, kami akan bersembunyi dalam segi apapun masalahnya." Ucap dokter Fadli membantunya mendorong kursi roda, mbak Nurul membawakan tas besar yang berisi pakaian serta alat-alat yang di butuhkan.


"Tapi dok?" Rania tetap saja ingin bertahan untuk tidak melakukan operasi dalam waktu dekat ini. Yang pasti Irsyad akan curiga dengannya.


"Baiklah nanti akan saya persiapkan matang-matang, dan nanti saya akan bicarakan dengan pemilik rumah sakit." Ucap dokter Fadli, hampir saja terceplos dengan perkataannya.


"Gimana apa saya antar saja ibu ke rumah? Atau ibu sudah pesan taksi?" tanya dokter Fadli.


"Tadi sudah pesan taksi, dan biarkan saya saja yang menuntun ibu Rania ke depan." Balas mbak Nurul.


Dokter Fadli mengangguk, membantu Rania untuk mengangkat tubuhnya dari kursi roda.


"Semoga sembuh ya bu," seru Dokter Fadli dengan ramah.


"Iya, makasih dok... Kami permisi dulu, assalamu'alaikum..." Ucap Rania, Rania di bantu mbak Nurul ke depan.

__ADS_1


***


Pulang ke rumah, Rania duduk dan melepaskan hawa yang sedikit dingin, membuatnya membawa jaket tebal.


Selonjoran di ranjang.


Ia melakukan rutinitas seperti biasanya, melipat baju kemudian ia taruh di lemari.


"Bu, jangan melakukan yang berat-berat!" Ucap mbak Nurul dengan membawa minum untuk Rania.


"Nggak papa, nanti kalau mas Irsyad curiga gimana? Aku nggak boleh sakit, harus tetap keliatan bugar seperti biasanya." Ujar Rania.


"Assalamu'alaikum... Eh mbak, kok ada di sini? Kenapa?" tanya Irsyad dengan bingung, menatap tumpukan baju yang di tata oleh istrinya di lemari. Irsyad menyunggingkan senyuman, dan mbak Nurul pelan-pelan keluar.


"Wa'alaikumsalam mas," Rania pun menyalami tangan Irsyad, Irsyad mencium kening Rania.


"Apa kabar? Kok pucet gitu, kamu sakit?" Rania menggeleng, karena Irsyad mengerti bibir Rania kering begitu. Timbul pecah-pecah, dan Irsyad membawanya duduk di ranjang.


"Kamu sakit?" tanya baik-baik Irsyad, Rania mengulas senyuman.

__ADS_1


"Nggak papa, nggak usah bingung seperti itu. Aku nggak sakit kok, gimana di sana kamu mas? Betah nggak? Kayaknya kalau nggak sama istrinya betah ya, mas?" Ucap Rania, Rania menyenderkan kepalanya ke pundak Irsyad dan memeluknya.


"Nggak, aku nggak betah kalau nggak ada kamu. Apalagi dengan kecupan maupun kehangatan yang ada di diri mu itu tiba-tiba aku kehilangan gitu saja, padahal cuma sehari doang. Dan rasanya dingin gitu," jawab Irsyad.


Mengelus-elus kepala Rania yang berbalut hijab rumahan, dan Rania masih saja tersenyum.


"Kamu sudah makan?" tanya Irsyad, dia benar-benar bingung dengan kondisi Rania. Yang pucat dan ketika di ajak mengobrol, tidak ada tenaga untuk mau mengobrol.


"Sudah mas, tadi makan sama bubur yang ada di samping perempatan itu. Enak buburnya," padahal menelan pil pahit dari dokter dan memakan bubur yang rasanya hambar sekali.


Pingin Rania ganti makanannya.


"Ya sudah, aku mau ganti baju dulu. Biar leluasa sama kamu," Irsyad pun ke ruang ganti, mengganti bajunya dan Rania menahan isak tangis yang akan keluar, dia pun melangkah ke kamar mandi dengan langkah yang berat.


Bersambung...


Jangan lupa like dan komennya, ❤️❤️


Terima kasih 😌🙏

__ADS_1


__ADS_2