Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Bersih-bersih


__ADS_3

"Kamu dimana?" Irsyad kelimpungan sendiri, ia dengan jalan tertatah-tatah, dan melihat semua ruangan tidak ada suara satupun.


Irsyad ke taman, pandangan pertama kalinya. Ternyata istrinya ada di sini, Irsyad menghampiri istrinya yang mengomandani mas Onyon untuk membersihkan kolam renang, sedangkan ia menata tanaman samping kolam ikan.


"Rania..." Panggilnya.


Keadaan yang masih lusuh, belum mencuci mukanya. Rania sedikit menahan deheman, akhirnya ia keluarkan.


"Jorok amat kamu mas! Kasian yang liat, sana basuh muka baru bangun aja sok-sok 'an langsung jumpai istrinya. Nggak malu tuh? Punya jejak di wajah," Irsyad mengecek dan benar kata istrinya. Ia pun langsung tanpa basa-basi, mengucurkan krannya yang ada di taman.


Hahaha... Tanpa masuk, ada kran langsung serbu aja. Dekat nggak papa, tapi membuat Rania menggelengkan kepalanya.


Jadinya basah semua. Ya udah, mendingan Irsyad di ajak berkebun.


"Mas,"


"Hem... Ngapa?" Irsyad melihat Rania basah, Irsyad mengecek suhu tubuhnya. Siapa tau Rania akan sakit lagi.


"Kamu, nih emangnya nggak ada kerjaan lain apa? Ini jadi basah semua 'kan, kamu nih baru sembuh kok." Sentaknya membuat Rania sedikit menyentakkan kakinya.


"Marahin terus!"


Rania pun memasukkan satu-satu ikannya, dan Irsyad melihat itu, ingin melarangnya tapi Rania sudah mengingatkan. Jika kamu melarang, aku akan pergi.


"Bantuin ngapa Pak bos! Majikan ya, seharusnya nggak selalu angkat kaki sana-sini. Tanpa ada rasa kurangnya gitu?" Sindiran keras untuk Irsyad, membuat Irsyad tidak menanggapinya.


Dan pura-pura tidak mendengar.


Ia memilih masuk, dan Rania menggelengkan kepalanya, benar-benar suami nggak guna.


"Sabar bu, namanya juga bapak. Orangnya suka gitu, kadang males. Terus pura-pura nggak denger, udah lah bu... Mending ibu susulin bapak, kita aja yang bersihin." Elak mbak Nurul, dan Rania menggeleng.

__ADS_1


"Aku tetap bantu mbak, sampai selesai." Ucapnya dengan membersihkan sisa-sisa kotoran yang ada di kolam ikan.


Mas Onyon memberikan kode, untuk tetap menurut saja. Kenapa susah-susah untuk jawab 'iya' jugaan kalau banyak orang cepat selesai pekerjaannya.


Setelah selesai semuanya, kembali tertata rapi dan Rania mengelap keringatnya yang membasahi pipinya, jatuh di tanah.


Membuatnya menyeruput air hangat, dan melihat semuanya sudah kembali lagi seperti awal. Rania terkagum, karena beberapa tanaman yang di beli di online shop, sudah tiba paketnya.


Satu toko, jadinya nggak susah-susah beli barangnya. Mas Onyon membantu mas-masnya untuk mengeluarkan tanamannya di mobil itu dan Rania membayar transaksinya kepada sopirnya.


"Makasih ya, bu... Sudah mempercayai kami untuk membeli tanaman kami," setelah semuanya sudah selesai. Mereka di suruh untuk bersantai dulu, Rania membuatkan mereka minuman dingin serta cemilannya.


Entah orang-orang pada kemana, sampai tiga orang itu masih sibuk di taman.


"Sekali lagi makasih bu, kami jalan dulu... Permisi selamat Sore Bu..." Mobil itu pun berlalu, Rania memilih-milih bunganya.


Harganya nggak terlalu mahal tapi, ini buat keindahan mata dan Rania menatanya di taman sampai benar-benar matahari tampak jelas senjanya. Ia lupa jika harus masak untuk keluarga, dan membuatnya masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dapur.


Untung saja mbak Nurul ada di dapur, lagi menumis bumbu.


"Mbak..."


"Eh, iya bu... Kenapa?" Mbak Nurul lagi fokus, dan Rania sedikit berbisik dengan nada keras.


"Mbak, em.... Tolong ambilin baju ganti ya, mbak! Ini saya tadi lupa dan badan saya kotor, mau ke kamar takutnya nanti kamarnya jadi kotor jadinya tolong ya, mbak! Ambilin baju ganti saya," Mbak Nurul mengangguk dan mematikan kompornya.


Berjalan ke kamar majikannya, dan mengetuk pintu kamar majikannya. Tidak ada sahutan sama sekali, kemungkinan pak bos lagi ada di ruang kerjanya karena kesibukannya yang melanda, dan beliau masih cuti tapi bisa-bisanya di kasih pekerjaan numpuk.


Mbak Nurul setelah memberikan baju ganti kepada Rania, mbak Nurul menyiapkan beberapa hidangan yang tersaji di meja makan. Air liur Rania ingin menetes rasanya, enak kali ini baunya.


Rania mengelus perutnya yang tertutup kerudung, dan membantu mbak Nurul menyiapkan piring serta gelas, "Mbak pada kemana nih? Kok belum pada datang sih, tadi juga maghrib, pada kemana emangnya? Cuman aku, mas Irsyad, terus sama kalian berdua. Yang lain?" Mbak Nurul hanya menggeleng, ia tidak tau.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," dari arah pintu ruang tamu, terdengar salam dan Rania mendekat.


"Wa'alaikumsalam, eh bi... Mi, kok kalian berdua pergi. Kemana emangnya?" tanya Rania dengan menyalami mereka berdua. Mereka duduk, "Nggak, tadi kita sempat pergi jalan-jalan. Eh udah maghrib, sekalian mampir ke masjid." Jawab umi dan Rania ber- oh.


"Ya udah, kita makan dulu yuk! Dan Rania mau panggil mereka semua," Ucap Rania dengan bersemangat dan Rania memanggil suaminya, sementara mbak Nurul dan mas Onyon bagi tugas.


Memanggil mereka semua, abang Yahya kemana? Pandangan Kirana tertuju dengan kursi yang masih kosong tersebut.


Orang tuanya sudah balik ke sini lagi, pada saat sore tadi dan sementara abang Yahya kemana?


"Pah, mah..."


"Eh iya kak, ada apa?" Jawab mamah dengan lembut, dan Kirana mendekat ke mamah.


Memeluk mamah, dengan terpaan angin yang dingin ini. "Iya dek, ada apa? Kamu kok kayak lesu gini, makan dulu. Sepertinya kamu akan bersemangat lagi, 'kan menambah energi yang pasti. Yuk makan! Ngga usah cemberut, ngga bagus untuk kamu membenci ataupun begitu, apalagi di depan rezeki." Tutur mamah dan Rania menuangkan nasi untuk mamah.


"Cukup nak!" Rania mengangguk. Dan melanjutkan ke yang lain, menuangkan nasinya ke piring-piring yang sudah terbuka.


"Mah, ini abang Yahya kemana?" Irsyad mulai bertanya, dan membuat hati Kirana tersentuh dengan ucapan tadi siang.


"Pulang nak, besok ke sini lagi katanya. Rezeki nggak boleh di tolak katanya, tapi abang mu tadi ada urusan mendadak yang nggak bisa di alihkan kepada orang lain, jadinya mendadak pulang." Sahut papah, mendapati adeknya yang ingin melelerkan air mata.


"Dek, makan dulu! Nggak usah pikirin yang macem-macem!" Melihat ada ketenangan di hati Kirana, Irsyad tersenyum tipis. Dan melanjutkan makan malamnya bersama keluarganya hari ini.


Bersambung...


Jangan lupa like dan komennya ❤️


Mata ku lelah, membuat ini dadakan nggak bisa ku tabung. Hahaha 😫, sukanya gitu. Maaf kalau kemarin nggak sempat untuk update, karena ku di landa tugas yang buanyak.


Makasih sudah mendengar curhatan ku ini 😂, tetap jaga kesehatannya teman-teman 😊.

__ADS_1


__ADS_2