Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Jalan Kesembuhan


__ADS_3

Dokter pun memeriksa keadaan Rania, dan tersenyum. "Dokter Fadli sebentar lagi akan datang, dan tunggu sebentar ya bu." Ucap dokter dengan memeriksa keadaan badan Rania.


"Bukannya..." Ucapan mbak Nurul ia urungkan, dan Rania menatap mbak Nurul.


Ada apa sebenarnya?


"Mari bu!" Ajak sang dokter, berjalan keluar ruangan kemudian di susul dengan dokter Fadli.


Dokter Fadli mendorong handle pintu dan melangkah masuk ke ruangan Rania.


Terkejut dengan keberadaan mbak Nurul, karena mbak Nurul ini adalah pembantu yang sudah lama di pekerjakan oleh Irsyad dan mbak Nurul memberikan kode, tetapi akhirnya dokter Fadli menatap Rania.


"Bu..." Panggil dokter Fadli.


"Gimana keadaannya? Oh iya bu, itu gimana operasinya? Agar segera di lakukan bu, biar itu kankernya nggak menjalar kemana-mana. Bisa jadi ini akan merebak di otak, kemudian secara menyeluruh akan menyerang tubuh ibu." Jelas dokter Fadli dengan mengeluarkan senyumannya.


"Nanti saja Pak! Bisa nanti di konsultasikan lagi, saya mikir-mikir dulu." Ucap Rania.

__ADS_1


Mbak Nurul menggigit bibirnya sampai begini mbak Nurul tidak bisa menjaga rahasia ini.


"Ya sudah, saya mau ngecek dulu keadaan ibu. Apa ada gejala lain selain pusing yang berkelebat di kepala ibu?" tanya dokter Fadli dengan memasang stetoskopnya ke telinga.


Mencari detak jantung, dan memeriksanya.


"Tidak dok, cuma saja pusingnya nggak karuan gitu dok." Balas Rania.


Dokter Fadli pun menghela napas.


"Sesegera mungkin untuk di lakukan operasi bu, sebisa dan sekuat tenaga tim operasi untuk melakukan ini bu. Tapi jika ibu tidak melakukan operasi secara dekat, kanker ibu akan berlanjut ke stadium tiga bu." Dengan memberikan kejelasan, agar Rania menyetujui tindakan operasi.


"Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu. Jika di izinkan, boleh besok melakukan tindakan operasinya. Mengangkat sel tumor yang ada di otak ibu. Kemungkinan masih kecil tumor itu," ucap Dokter Fadli dengan berjalan ke luar.


Mbak Nurul mengikuti dokter Fadli keluar.


"Dok..." Seru Mbak Nurul, membuat dokter Fadli menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Iya ada apa ibu? Maaf bu," dokter Fadli pun menyalami tangan mbak Nurul.


Sebagai tanda hormat kepada orang tua.


"Oh iya tadi ibu di sana kenapa?" tanya dokter Fadli, dokter Fadli bingung. Ia pun akhirnya bertanya secara langsung kepada mbak Nurul.


"Iya, dok. Saya adalah majikan dari ibu tadi, ibu itu adalah istri dari Pak Irsyad, dok. Hem, maaf dok sebelumnya ini jangan di beritahukan sama Pak Irsyad, dok. Saya mohon, itu semua atas perintah ibu, dok." Ucap mbak Nurul dengan memohon.


"Tapi?" Dokter Fadli pun kaget, selama ini dia tidak pernah tau menahu pasiennya itu. Sampai-sampai pasiennya itu menyembunyikan penyakitnya sendiri, dan dokter Fadli memegang snelinya, bingung.


"Baiklah bu, begini bu kalau Irsyad tau ini semua gimana bu? Apalagi Irsyad juga orangnya nekat, nggak peduli sekitarnya. Demi apapun, dia melakukan itu untuk keluarganya, apalagi dengan istrinya bu." Ujar dokter Fadli, mbak Nurul meneteskan air matanya.


"Iya dok... Maaf, biarkan Pak Irsyad mengetahui ini semua dengan caranya. Karena setiap rahasia pasti akan kebongkar dengan sendirinya. Begitu dok, saya tidak ingin Pak Irsyad tau dengan omongannya orang lain." Ucap mbak Nurul.


"Ya sudah nanti aku akan berusaha untuk kesembuhan bu Rania, saya pergi dulu ya bu... Soalnya ada urusan lain yang belum saya selesaikan... Assalamu'alaikum." Kata dokter Fadli dengan berpamitan dan memegang tangan mbak Nurul.


"Semua pasti terlewati bu, InsyaAllah... Jika Allah berkehendak, pasti Allah akan memberikan jalan kesembuhan bu." Lanjut dokter Fadli, mbak Nurul mengangguk dan mengelap air matanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2