
Tok-tok...
Suara ketukan pintu berhasil membuat Rania menghentikan pembicaraannya. Dan membuka pintu kamar, siapa yang mengetuk pintunya tengah malam?
"Maaf Bu, mengganggu..." Ucap mbak Nurul dengan sopan.
"Iya, ada apa mbak kok tengah-tengah malam ketuk pintu ke sini?" tanya Rania.
Mbak Nurul bermuka seperti sedih, dan Rania bingung, kenapa tiba-tiba mbak Nurul sedih?
"Mbak, ada apa?"
Mbak Nurul mencoba menarik napasnya pelan-pelan, lalu membuangnya.
"Bu. Bapak ibu dan uminya ibu. Ada di luar bu... Katanya suruh panggilin bapak sama ibu." Ujar mbak Nurul.
Rania terkejut, bisa-bisanya abi dan uminya datang tengah malam. Ada apa?
"Ya sudah. Mbak tidur saja! Biar kami yang akan keluar." Mbak Nurul menggeleng.
"Nggak bu, kami akan membantu bagaimanapun keadaannya!" Rania mengangguk, Rania kembali ke kamar dan Irsyad menatap Rania dengan heran.
"Ada apa?"
"Umi sama Abi ke sini mas... Kita keluar dulu! Nanti kita cerita lagi," Padahal keadaannya masih di landa kekhawatiran dengan penyakit Rania yang akan di ungkapkan secara bebas di hadapannya sekarang.
"Iya, aku ganti baju dulu. Kamu keluar dulu! Nanti nyusul." Rania mengangguk, mengoleskan minyak kayu putih di kepalanya yang agak cenat-cenut rasanya.
__ADS_1
Rania menarik handle pintu, dan berjalan keluar, menuju ke ruang keluarga.
Umi menangis di pelukan Abi, dengan terseguk-seguk. Abi menenangkan Umi, yang di landa kesedihan.
"Assalamu'alaikum, umi... Abi," seru Rania dengan sopan, membuat mereka mengalihkan pandangannya dan beranjak berdiri.
"Wa'alaikumsalam, nak..." Umi menyalami Rani, dan Rania berpindah ke abinya.
"Nak, maafkan kami kalau mengganggu waktu tidur kalian, kami ke sini cuma meminta bantuan kalian untuk membantu tante kamu yang ada di Palembang sana mengalami kesulitan nak," Jelas Abi dan Rania mengeryit keningnya.
"Siapa abi?"
"Ya tantemu yang tinggal di Palembang itu, masa nggak kenal sih nak." Umi ikut menimpali.
"Oh itu, memangnya ada apa umi dan abi?" Umi menangis keras lagi.
Agar masalah bisa di selesaikan bersama-sama, umi masih menangis. Rania menenangkan uminya, dan tidak bisa berkata lain jika masalah ini menyangkut uang. Karena uang itu ada di tangan Irsyad, bukan Rania yang punya.
***
Setelah beberapa lama, Irsyad pun memunculkan wajahnya ke hadapan mereka. Rania sampai tertidur-tidur karena menunggu terlalu lama.
"Syad, ini istri mu sepertinya ngantuk..." Irsyad beralih menatap istrinya, benar istrinya sudah terlelap sampai mulutnya ternganga sedikit.
Kelelahan, iya... Mempunyai penyakit, tapi penyakit apa?
"Iya, aku pindahkan dulu abi... Umi, biar nyaman karena kasian liat dia seperti ini tidurnya." Irsyad menggendong Rania, belum di angkat tapi Rania sudah terbangun.
__ADS_1
"Mas... Turunkan!" Irsyad menurunkan tubuh Rania, dan abi terkekeh pelan.
"Ayo lanjutkan lagi! Silakan cerita abi, umi sama suamiku yang ganteng ini!" Mengakui juga ini ketampanan Irsyad, Irsyad tersenyum.
Rania duduk di samping Irsyad, agar bisa mendengarkan jelas apa yang akan di tutur kan oleh Irsyad.
"Irsyad... Abi, umi minta maaf sebesar-besarnya, kalau kami menyulitkan kalian di sini. Sebenarnya tantenya Rania yang ada di Palembang, itu suaminya terkena kanker paru-paru stadium tiga dan harus di operasi di rumah sakit yang ada di kota. Dan maaf benar, umi dan abi tidak bisa membantunya. Sebagai ini, umi dan abi ingin menolongnya, apa boleh buat. Pondok pesantren kami pun masih ada kendala untuk pembangunan masjid. Nah, kami ingin meminjam uang dengan senilai dua ratus juta, nak... Maaf kalau lancang, kami ingin segera mendapatkan hari ini juga." Jelas Abi dengan panjang, umi benar-benar menangis. Karena adik laki-lakinya baru membutuhkan sekarang. Kemana saja dahulu?
Sudah terlanjur begini, pastinya biaya akan semakin besar.
"Kok, abi dan umi nggak ngomong saja dari awal. Biar kami transfer uangnya langsung." Ucap Irsyad.
Terkejut dengan penuturan Irsyad, Rania menggigit jari.
"Lah, boro-boro transfer. Sananya saja tidak punya rekening nak, besok kami akan bawakan uang itu ke sana. Kami besok ke Palembang dan kalian besok mau ke sana nggak, ikut? Tapi, makasih ya Syad, kami benar-benar menyusahkan kalian. Maaf," Ucap Abi dan Irsyad menggeleng.
"Tidak apa-apa, tapi maaf kita tidak bisa besok. Karena Irsyad mau ada ini peninjauan rumah sakit yang mau di bangun." Jawab Irsyad.
"Abi dan umi nggak papa ke sana? Berdua lagi, mas besok aku boleh 'kan ikut mereka?" Rania memaksa untuk tetap ikut.
"Nggak! Suami mu bisa mati kejer di rumah karena kamu nggak ada di rumah.." Ucap Abi.
Irsyad mengusap kepala Rania.
"Kali ini aja!" Irsyad menggeleng lemah.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih... Wkwkwk, ada haluan lagi waduh harap bersabar ye 🙂