Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Demi Suatu Apapun Aku Harus Sembuh


__ADS_3

Happy Reading


Pagi hari, Rania setelah pulang ke pasar, dia pun ke dapur, membantu uminya yang sedang memasak.


Setelah selesai makan bersama, akhirnya Rania pun membersihkan meja makan dan mencuci piringnya.


“ Ya Allah sakit banget ini tangan, kayak nggak ada rasanya. ”


Rania pun menghentikan pekerjaan dan melangkah ke meja makan, menghempaskan bokongnya di kursi.


Kakinya pun mati rasa, Rania tetap tenang, tetapi rasanya sakit juga berkelebat di kepalanya.


“ Ya Allah... Tolong hambamu ini, sakit banget rasanya. ”


Rania memangku kepalanya yang terasa sakit sekali dan ingin berdiri, berat sekali.


Rayhan yang baru saja lewat dan melihat adiknya yang meringis kesakitan.


“ Astagfirullah dek. Kamu kenapa? ”


Rayhan mendekati Rania, Rayhan mengambilkan minum untuk Rania.


“ Nggak papa bang, aku nggak papa. ” Rania tidak mau kalau penyakitnya di ketahui oleh orang lain dan dia harus menyimpan rahasia itu.


“ Minum dulu! Jangan berdiri, kalau di paksa nanti malah tambah sakit. ”


“ Iya bang. ” Rania meminum air putihnya dan sakit kepalanya bisa dia tahan.


“ Yaudah sekarang kamu istirahat dulu di kamar, abang bantu ya. ”


“ Tapi, bang. Bukannya hari ini jadwal abang ngajar, terus aku gimana? Nanti, bisa ketinggalan pelajaran. ”


Rayhan menggeleng pelan dan menggendong adiknya menuju ke kamar Rania.

__ADS_1


“ Adek istirahat dulu, nanti biarkan abang yang ngomong sama abi. ”


Rayhan mengecup kening Rania, sebenarnya dia sudah tau penyakit Rania.


Dia menemukan beberapa obat dan surat laboratorium yang menyatakan kalau Rania, mempunyai penyakit kanker otak stadium 2.


Beberapa jam yang lalu, dia masuk ke kamar Rania yang terbuka lebar-lebar dan tidak biasanya Rania membukanya.


“ Kamu belum minum obat kan? ”


“ Kenapa bisa tau abang? Bukannya aku menyembunyikan penyakit ini. ” Rania membatin dan Rayhan langsung mengambilkan obat di dalam laci kamar Rania.


“ Hah... Bang, ”


Rania terkejut dan Rayhan mengangguk.


“ Dek kamu minum obatnya dulu ya. Abang mau ambilkan minumnya, ”


“ Abang kok tau? ”


Rayhan keluar dari kamar Rania, menutup pintu kamar Rania, agar tidak di curigai oleh abi dan uminya.


Rayhan mengambilkan air putih hangat dan menuangkan air dinginnya, agar tidak terlalu panas nantinya.


Rayhan pun membawanya ke kamar Rania dan menutup pintunya, sebelumnya dia mengendap-endap seperti maling.


“ Kamu minum dulu obatnya, abang mau kamu harus sehat, nggak boleh lemah dek. Nanti, biar abang bantu kamu buat operasinya. Biar abang yang menyemangati adek untuk kuat dan sembuh. Jangan lupa berdo'a! Semoga kamu di berikan panjang umur dan kesehatan dek. ”


" Iya bang. Pasti, makasih ya bang udah sayang sama aku. ”


“ Iya dek, abang kan di suruh jaga adek baik-baik. Nanti kalau ada apa-apa, ngomong sama abang ya. Abang siap kalau kamu membutuhkan abang. Menjadi pundak adek, ”


Rayhan memijat kaki adeknya dan mengelus-elus kepala adeknya.

__ADS_1


“ Dek, nanti kalau kamu menikah. Janganlah sungkan-sungkan untuk pulang! kalau kamu membutuhkan abang. Pulanglah dek, abang siap. Tapi, kalau adek pulang di dunia berbeda, abang nggak kuat dek. Abang akan menyusul kamu pokoknya. Harus semangat dek, nggak boleh lemah. ”


Rayhan menangis dalam diam, kenapa adeknya yang melawan penyakit itu? Kenapa bukan dia? dia nggak kuat kalau adeknya tidak bisa melawan penyakit yang mengancam untuk meninggalkan dunia selamanya.


Kemungkinan umur hidupnya cuma beberapa tahun lagi, itu kalau Allah memberikan sebuah keajaiban.


“ Nggak bang, adek kuat kok. ”


Rayhan memeluk tubuh ringkih Rania, yang sekarang makin kurus.


Dia sempat berpikir kalau adeknya beberapa hari ini terlihat kurus dan pucat.


Tetapi, dia buang jauh-jauh pikiran negatifnya itu.


Saatnya sekarang ini dia menemukan beberapa obat dan surat laboratorium.


“ Semangat dek! ”


Rayhan mengusap wajah adeknya yang pucat dan ingin rasanya menggantikan posisi adeknya.


“ Yaudah abang mau pergi dulu ya dek. Abang bantu biaya pengobatan adek, nanti abang cari pinjaman buat operasi adek. Tetapi, kalau abang bisa mengumpulkan, adek harus sembuh ya. Assalamu'alaikum, kalau ada apa-apa telepon abang aja. ”


“ Waalaikumsalam, iya bang. ”


Rayhan menatap wajah yang dulunya bersinar dan cerah, sekarang gelap sekali.


Rayhan menutup pintu kamar adeknya dan melangkah ke kamarnya, mengungkapkan rasa sakit hatinya.


“ Ya Allah, sembuhkanlah penyakit adik hamba. Kenapa, engkau memberikan cobaan yang begitu berat? ”


Rayhan menangis dan memukul-mukul buku yang dia bawa, meremat kain sprei.


Bersambung...

__ADS_1


😢😢😢 kasian mbak Rania, semangat teros mbak. Kalahkan penyakit itu 💪💪💪


Lempar pakai like sama komen ya 😜😜😜


__ADS_2