
Hari ini, pagi yang cerah dan bersinar, bagi Irsyad hari ini benar-benar bingung, gelap arahnya. Entah hari ini atau besok? Irsyad harus menyegerakan operasi Rania.
Dan Fadli?
Ia akan menyanggupi operasi Rania hari ini, dan sudah di ganti oleh dokter lain. Untung saja, Irsyad bersyukur karena operasi Rania di perkirakan akan mulai siang hari ini.
Mudah-mudahan ada cahaya terang baginya.
Sementara Rania? Rania sudah sadar dari semalam, jam sebelas malam sampai Irsyad bingung dan Fadli ikutan cemas. Padahal efek obat, bukannya hanya sampai enam jam maupun lima jam, kok sampai selama itu.
Kemungkinan lelah Rania.
"Mas..."
"Ya, ada apa? Mau bangun? Nanti aja ya, cepet sembuh dulu. Baru bisa bangun," ujar Irsyad dengan membelai Rania. Ya, Irsyad belum ngapa-ngapain sampai ia tidak bangun dari ranjang.
"Nggak kerja kamu, mas?"
"Emm, Na... Nanti kamu ada jadwal operasi, siang hari ini. Dan aku, bersama dokter Fadli sudah menyetujui hal itu. Lebih baik cepat daripada menunda-nunda." Rania terdiam.
Handphone Irsyad berdering, dan Irsyad mengeryit, siapa yang meneleponnya?
Hah, mamahnya dan beberapa kali panggilan dari Kirana, ya Allah benar-benar ini harus gimana?
__ADS_1
Belum tuntas masalahnya, dan ini?
"Siapa yang nelpon mas?"
"Ehh, anu apa client ku, katanya besok di suruh ke rumahnya buat ini membahas operasi yang akan di lakukan seminggu kemudian." Wah emangnya ada? Operasi itu butuhnya jam, bukan mingguan.
Rania tidak memikirkan, hanya saja aneh. Biasanya mendadak, dan tidak dapat di pungkiri kembali jadwal operasi yang di lakukan Irsyad ini.
"Oh, jangan bohong kamu, mas!" Celetuk Rania, karena pemikirannya tetap ada yang salah.
"Wei, apa salahku coba? Eh bentar, aku kondisikan dulu. Ini kata ku tadi, begini seminggu bukannya besoknya lagi ya, aduh Irsyad... Bodoh kali, kamu ini..." Ucap Irsyad di dalam hatinya, sembari menelisik setiap wajah Irsyad, Rania tetap ada dugaan itu ada apa-apa.
"Masss..." Panggil Rania, baru Irsyad menyadari jika istrinya memarahinya.
"Sini, handphone kamu pasti ada apa-apanya!" Rania menyerobot handphone Irsyad, gelagapan dia ketika layar handphone terbuka sempurna, aktif kembali layarnya dan pas di telepon.
"Hah, mamah mas... Kenapa nggak kamu angkat tadi? Ish, dan ini pesan apa coba?" Irsyad mengambil handphonenya dari tangan sang istri.
"Kenapa, mas? Apa ada yang salah?"
"Nggak kok, cuma tadi ini sesuatu yang surprise dan nggak boleh di ketahui sama kamu." Sambil menoel pipi Rania, dan Rania memastikan ini sesuatu yang mengguncangkan baginya. Bukan surprise, tapi ia tidak boleh curiga dengan perasaan berprasangka buruk kepada suaminya ini.
Siapa tau ini benar?
__ADS_1
Toh, jika ia sembuh ada hadiah yang membuatnya bisa bahagia bersama si suami.
Irsyad pikirannya kacau, sepertinya mamah dan Kirana di rumah, merancau tidak jelas ataupun berbicara, entah itu apa seperti bahan ejekan.
Tapi, sedih. Kasian Kirana, Irsyad termenung lama. Dan ia tidak boleh memikirkan hal ini, yang terpenting sekarang dirinya hanya boleh memikirkan istri dan benar-benar sembuh dari kenyataan pahit yang dialami Rania ini.
"Mas... Kamu, ini, masa iya dari tadi termenung aja, mesti ini sesuatu bukan hal surprise tapi, mengejutkan bagi ku." Irsyad harus meyakinkan perkataannya tadi.
"Nggak kok, yang pastinya mengejutkan untukmu hal yang paling bahagia untuk kita berdua." Sahut Irsyad dan tersenyum lebar, memeluk istrinya.
Fadli inscoming call.
Hahaha si bujang tapi sudah punya istri, itu menelepon Irsyad karena kesepian. Ia tidur di kamar tamu, dan hari ini benar-benar tidak ada makanan di atas meja, membuat ia mengumpat dan beberapa olokan di mulutnya untuk Irsyad.
Ia harus turun tangan sendiri, hanya saja setiap pagi pasti ada belaian lembut yang menyapa paginya, ini apaan?
Yang ada tangannya yang membelai wajan-wajan dan sayuran. Hahaha..
Bersambung...
Gimana ssate.. Sate? Udah habis, wkwkwk... Mau jualan dulu yah, biar habis satenya dan rendangnya.... Gua tendang itu yang ada, si Irsyad.... Tak jelaslah🤣
Terima kasih 😌🙏
__ADS_1