
Rania di bawa ke rumah sakit, di mana rumah sakit itu tempat Irsyad bekerja. Sebelumnya Irsyad mampir dulu bareng sama dokter yang lain untuk menuju bandaranya.
Segi sisi Rania di bawa ke ruang UGD dan di tangani oleh dokter yang sudah di percayai oleh rumah sakit ini. Sedangkan mbak Nurul menyelesaikan pembayaran taksinya, dia lupa jika tadi tidak sempat untuk membawa dompet. Padahal udah dia siapkan, jika ada keperluan bisa diambil.
Sampai mbak Nurul menemukan uang dua puluh ribu di kantongnya, tapi uang bayar taksi aja setengahnya pun belum juga terpenuhi dengan uang segitu. Sampai memohon berkali-kali sama sang sopir, "Udah tau taksi itu bayarnya juga full, nggak ada yang nggak full. Ini buat beli bahan bakarnya dapet apa?"
"Ya 'kan daripada nggak di bayar, emangnya bapak mau kalau nggak di bayar. Dapet buat makan juga kan Pak, walaupun setengah hari kenyangnya." Jawab mbak Nurul dengan menahan uangnya dan sopir merampasnya dari tangan mbak Nurul.
"Baiklah kalau gitu, saya maklumin karena ada yang sakit. Ini juga udah untung, tapi juga nggak untung sih. Malah di rugikan, saya permisi dulu. Assalamu'alaikum..." Sopir pergi dan mbak Nurul menghela napas pelan-pelan.
"Wa'alaikumsalam... allhamdulilah... Ini kalau udah cepet-cepet terus dompet juga lupa di bawa. Iya sudah lah, yang terpenting sekarang melihat kondisi bu Rania gimana?" Ucap mbak Nurul dengan menyeret kakinya sampai ke ruang UGD.
Belum keluar jiga dokter yang memeriksa Rania di dalam, mbak Nurul khawatir dengan keadaan Rania. Sebagai pembantu, mbak Nurul harus menjadi pendamping bila sewaktu-waktu suaminya meninggalkan ke luar kota. Mbak Nurul yang bertanggung jawab.
__ADS_1
Semua hanya di pasrahkan sama mbak Nurul, termasuk keamanan dan kesehatan. Mbak Nurul harus cepat tanggap, mbak Nurul pingin gigit jari kalau keadaan semakin nggak nyaman dan rasa di ulu hati semakin terasa pahitnya.
***
Mbak Nurul menunggu selama 2 jam lebih, dokter yang memeriksa pun tidak kunjung keluar-keluar. Mbak Nurul segera ingin melihat perkembangan dari kesehatan dan keseluruhannya.
"Ya Allah, apa aku harus ngomong sama bapak? Tapi, aku di amanat kan untuk menjaga rahasia ini. Jangan sampai bapak tau!" Mbak Nurul mondar-mandir di depan pintu. Sudah 2 jam lebih mbak Nurul menunggu membuat rasa bosan di timpal dengan rasa cemas.
"Hih dokter nggak capek apa di dalam aja? Pingin ku dobrak ini pintu kalau nggak cepet keluar." Ujar mbak Nurul dan dokter di dalam masih mengeluarkan banyak keringat, mbak Nurul juga akan membuat ricuh di rumah sakit.
Bisa jadi bahan amukan para warga rumah sakit.
"Astogfirullah, jangan-jangan! Nanti malah namaku yang akan tercemar seluruh rumah sakit, dan masuk ke TV. Viral dong, eh enggak." Mbak Nurul ada-ada saja, dalam situasi seperti ini biasanya yang ada orang-orang menangis dan mbak Nurul malah ketawa sendiri!
__ADS_1
Biarlah daripada tegang!
"Ya Allah mudah-mudahan ibu cepet sembuh iya, biar nggak ada rahasia seperti ini. Ibu juga membuat jantungku kumat lagi, ibu pulang ke rumah dan nanti nggak akan di curigai sama bapak. Habis kemana batinnya?" Ucap mbak Nurul dengan meratapi pintu yang malang itu belum kunjung di buka lebar-lebar.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa like dan komennya gaisss ☺☺☺
__ADS_1
Terima kasih 😌🙏