
"Hai, mas..." Rania membangunkan Irsyad, dan Irsyad masih terpejam matanya. Rania menghela nafas dan membuka selimutnya, karena suhu AC ia naikkan dan biarkan suaminya itu kedinginan dan bangun.
"Nggak bangun, ya udah. Di tinggal aja, aku mau jalan-jalan ke mall sama Kirana." Ucapnya dan meminta izin, ia pun berangkat dengan membawa tas selempang nya dan Rania menyalami suaminya yang masih lengket saja matanya, tidak mau membukanya.
"Assalamu'alaikum, dah... Pergi ya, aku ada izin sama kamu. Nih, aku buatin rela untuk kamu." Rania membawakan teh hangat dan di selipkan kertas sebagai pamitannya.
Rania pergi, ia menarik handle pintu dan menutupnya kembali. Ia berjalan ke ruang tamu, di sana ada papah sedang membaca koran dan beberapa berkas di meja, sepertinya mengurusi pekerjaannya.
"Pah, assalamu'alaikum ..." Rania bertegur sapa, dan papahnya tersenyum ke arahnya dengan menggunakan kacamatanya. Menatap layar laptop, papah ini menjalankan bisnisnya di bidang toko roti dan beliau menyampingkan pekerjaan sebagai dokter giginya karena itu Rania salut dengan papah Irsyad ini.
"Wa'alaikumsalam, kamu mau kemana?" Kirana tiba-tiba datang, dan menyalami papahnya.
"Aku mau pergi, boleh 'kan pah?" Papah mengeryit, dan menggelengkan kepalanya.
"Mau kemana? Papah 'kan tanya, jadi harus dijawab dulu!" Suara papah tegas, dan Kirana menatap papahnya itu.
"Nggak kemana-mana, cuman mau ke caffe apa nggak ke mall. Belanja, boleh ya pah?" Dengan mata berkaca-kaca, memohon dan papah mengelus kerudung yang dipakai Kirana, mengecup keningnya.
Ada rasa kehangatan yang merindu, untuk Kirana dan Kirana menyapanya dengan lembut juga. Tapi, ia terpaku dengan aksi papahnya kali ini.
__ADS_1
"Maafkan papah, jika papah tidak bisa menjadi orang tua yang sesungguhnya. Berbeda dengan kakak-kakak mu, papah ingin yang terbaik untukmu." Ujarnya membuat ini adalah adegan dramatis kembali terjadi, Rania memilih untuk pergi. Ia tidak kuat menyaksikan di antara keduanya.
"Nggak pah, mamah dan papah udah orang tua yang baik untukku dan malahan aku sekarang kan harus menjadi anak yang berbakti untuk orang tua. Harus dan aku mendengarkan itu semua, aku akan laksanakan dengan sepenuh hati dan jiwa Kirana Pah. Papah dan mamah sudah tua untuk menjaga ku, Kirana hanya butuh mamah sama papah bahagia." Kirana memeluk papahnya dan papahnya mengeratkan pegangan tangannya.
"Hem, nak... Papah ingin kamu kembali ke Madinah lagi ya, nak." Ucapan yang membuat mamah berhenti sejenak dan ingin ia mengantarkan makanan untuk suaminya itu. Mendengar ultimatum yang kuat di telinganya, mamah mendekat dan menampar pipi suaminya itu.
"SUDAH CUKUP MAS! KIRANA INI JUGA ANAKKU, DAN KAMU INGIN BUATNYA PERGI KEMBALI? APA-APAAN KAMU MAS? DULU KAMU YANG MEMAKSANYA PERGI UNTUK KULIAH DI SANA! DAN SEKARANG KAMU MENGEMBALIKAN ITU DENGAN SEMUDAH ITU?" Mamah membentak papah, dan Kirana terkejut melihat mamahnya yang tiba-tiba datang bersama itu mamah menampar papah.
Pipi papah panas, akibat layangan tangan mamah yang mendarat di pipinya.
Ya, dulu ada perselisihan antara mamah dan papah karena mamah tidak mau ingin Kirana kuliah di Madinah, dengan harapan yang begitu besar untuk Kirana membuat mamah drop dan mengatakan kata 'cerai' untuk papah.
Apakah Kirana itu anak yang menuruti kemauan papahnya? Mamah tidak bisa mengatakan apa-apa kembali, memang suaminya itu terlalu mengekang dan memaksa anaknya.
"Mah, udah!" Kirana menenangkan mamahnya yang berderai air mata, ia menggelengkan tidak percaya.
Kirana ikut menangis dan papah benci melihat pemandangan itu, ia beralih pergi mengambil kunci mobil.
Mamah mengejarnya dan Rania melongo di sana, menyaksikan pertengkaran ini. Hatinya tersayat melihat orang tua Irsyad begini, ada apakah sebenarnya?
__ADS_1
Mamah hanya menangis, dan papah sudah pergi dari kawasan rumah Irsyad. Dengan menubruk beberapa tanaman Rania, akibatnya berantakan semua. Entahlah ia akan ganti nanti. Pikirannya kacau, dan memilih meninggalkan istrinya yang menyaut-nyauti namanya.
Yahya yang habis keluar dari kamar, melihat mamahnya menangis dengan posisi yang tidak mengenakkan di depan pintu. Membuatnya menghampiri mamahnya, dan mamah pun tidak menerima uluran tangan dari Yahya.
Ini semua yang pasti, dalang untuk semuanya adalah Yahya. Mamah menatap benci ke arah Yahya, Yahya bingung. Kenapa tatapan yang di layangkan mamahnya itu sebuah pertanda kebencian yang sangat kuat.
Rania tidak ingin menghampiri mereka, malah berlari ke kamar utama di rumah ini. Suaminya yang sudah siap untuk berkerja yang menatap istrinya celingak-celinguk, "Ngapain kamu?"
"Mas, mamah-mamah..." Irsyad melihat bibir mimik yang di gerakkan Rania pertanda 'bahaya atau cemas'.
Rania menggigit bibirnya dan Irsyad pun cepat ia pergi dari kamar, Rania naik turun nafasnya.
"Kenapa jadinya begini ya?" Rania mengambil sneli Irsyad dan membawa tas kerjanya.
...Bersambung......
Jangan lupa like dan komennya😊, karena panjang lagi jadinya aku tetapkan kurang lebih babnya akan sampai 100 itu saja.
Babnya akan mendominasi gimana itu Kirana sama Adhi apakah akan tetap berlanjut 🙂.
__ADS_1
Maturnuwun pisan 🤗