
Setelah makan bersama siang ini, Rania dan mbak Nurul ada di kamar mandi karena ruangan yang pastinya aman. Tidak ada satu orang pun yang akan curiga.
Sedangkan, Irsyad berkutat dengan pekerjaan yang ia pegang sekarang di ruang kerjanya yang ada di sebelah kamar.
"Gimana ini, mbak? Mau izin keluar aku, mbak. Nanti kita yang akan di curigai sama mas Irsyad. Aku nggak mau sampai mas Irsyad tau," ujar Rania dengan keras kepala.
Susah sekali mencairkan keadaan, batin mbak Nurul. Mbak Nurul pun tersenyum miring, dan tetap berpikir.
"Oke, ibu sekarang mendingan izin sama Pak Irsyad buat beli bahan-bahan yang habis dan belinya di toko, agak lamaan dikit gitu. Karena barangnya banyak yang mau di beli, nah 'kan di kasih uang nanti. Ibu pura-pura lagi, biar nggak ketauan." Memutar akal supaya di izinkan dan secara matang-matang mbak Nurul dan Rania pikirkan, Oke sekarang waktunya menemui Irsyad.
Rania mencuci tangannya terlebih dahulu dan menatap kaca yang menempel di dinding.
"Semangat ibu!" Menyemangati Rania, mbak Nurul mengulas senyumannya dan Rania pun mengangguk.
Berjalan ke arah kamar, masuk ke kamar dulu sebelum menemui Irsyad di ruang kerja yang ada di samping kamar.
"Apa boleh ya?"
"Apanya yang nggak boleh?" tanya Irsyad yang tiba-tiba menongolkan wajahnya ke kamar.
Terkejut Rania.
"Ada apa? Cerita, nggak usah di pendam gitu. Saling terbuka aja," Irsyad melepas penat di kamar, sambil menaikan suhu AC di kamar.
"Aduh gimana ini? Kok mas Irsyad malah naikkin suhu ac-nya, apa aku rebut aja remotnya? Semakin dingin, dan perasaan ku udah nggak enak ini." Ucap Rania di dalam hatinya.
Kemudian, ia merangkak ke samping Irsyad, Irsyad duduk di kursi sofa dan Rania memilih ada di sampingnya.
"Kamu kepanasan, mas?"
__ADS_1
"Nggak sih, tapi agak panas aja hari ini. Kayaknya ac-nya nggak hidup? Dari tadi aku ngerasa gerah gitu, apa kamu nggak?" Iya, benar dan orang normal mengatakannya panas.
Bagi Rania, membuatnya kedinginan dan Rania merebut remotnya.
"Nggak usah, mending keluar aja dulu. Apa nggak kamu mau kedinginan, ke ruang kerja berarti. Aku nggak suka dingin mas, ini aja nanti suka gatel-gatel gitu. Alergi," alasan apa lagi yang akan di buat oleh Rania?
Rania memutar balikkan faktanya, Irsyad mengangguk.
Percaya begitu saja.
"Mas," seru Rania.
Irsyad mendengar dan fokus di gawainya.
Melihat data yang masuk di dalam gawainya, melihat Irsyad begini, merasa Rania di acuhkan. Karena lebih fokus ke handphone.
"Mas... Sebentar aja ya!" Rania meletakkan handphone Irsyad di atas meja.
Irsyad mengangguk dan mendengarkan secara baik-baik. Rania menghela napas kasar, mengapa ini terjadi sama dirinya?
Nggak dia tidak boleh membukanya!
Rania pun menatap lamat-lamat bola manik mata Irsyad, Irsyad meraba ke wajah Rania.
Rasanya pingin ia jelajahi, tapi Rania?
Apa Rania siap?
Pikiran kedua orang ini kacau balau.
__ADS_1
Tidak ada yang benar. Rania pun mengangkat tangan Irsyad ke udara, dan menciumnya beberapa kali.
"Boleh aku minta izin keluar, mau belanja bulanan sama mbak Nurul?" Rania di dalam hati tertawa, pasti ada yang aneh dari perilakunya tadi.
"Loh kenapa nggak boleh? Emangnya siapa yang nggak ngebolehin kamu belanja?" Irsyad membenarkan posisi kerudung dan tersenyum.
"Ini aku tambahi uangnya." Irsyad mengeluarkan uang dari dompetnya.
Bukan berarti matre apa gimana?
Tapi demi sembuh, ia akan mencoba jalan ini.
"Terima kasih mas, aku berangkat dulu ya." Dengan cepat Rania memasukkan uangnya ke tas. Dan tangan Rania tidak di lepas oleh Irsyad.
"Sama siapa?"
"Naik taksi mas," sahut Rania.
"Hati-hati, kalau ada apa-apa kabarin!" Ucap Irsyad, mengingatkan agar istrinya pulang dengan kondisi seperti semula lagi.
"Oke, aku akan hati-hati. Sampai nanti ya mas, aku pergi dulu. Assalamu'alaikum..." Rania menyalami tangan Irsyad.
"Wa'alaikumsalam... Jangan sampai pulang kesorean! Nanti bahaya sama kamunya juga. Oke? Jangan kemana-mana!" Bukan Irsyad namanya jika tidak mengingatkan istrinya.
"Iya..." Rania melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan tersenyum tipis.
Bersambung...
Like dan Komennya 😊😊😊
__ADS_1
Terima kasih 😌🙏