Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Menyapa Kekhawatiran


__ADS_3

"Alhamdulillah," Ucap Irsyad dengan menyapa kegembiraan, ketika adeknya telah melewati mas kritisnya membuat ia tersenyum kembali.


"Na, kamu juga ya... Jangan membuat ku khawatir apalagi membuat ku setengah mati mau hidup dan enggak! Semangat ya, Na!" Dengan menyemangati istrinya, sementara di dalam mereka ser-ser karena ada penyempitan sel-sel yang sudah di bungkus oleh tumor tersebut.


Mereka sudah tiga jam berkutat di meja operasi, dan di balik masker yang menempel di wajah, membuat mereka menyapa kekhawatiran.


Ini sungguh benar-benar ekstra kuat.


"Ini tolong kamu lanjutkan dulu! Om nggak kuat, panas, sesak... Karena terlalu lama di ruangan operasi." Bisik pamannya Fadli tersebut, Fadli tetap fokus. Menjalankan sesuai profesinya, ia tidak boleh salah. Salah sedikit, bisa nyawa yang melayang baginya.


Apalagi itu istri dari temannya.


"Saya keluar dulu," Pamannya berpamitan dengan suster yang ada di sana. Yang menjaga ruang operasi, pamannya itu ganti baju dan menyapa udara segar kembali di luar.


Irsyad mengeryit heran, kenapa pamannya Fadli sudah ada di luar?


Apa sudah selesai?


"Dok..." Irsyad menyerukan namanya.


Dokter Ihsan pun berbalik, dan membuang nafasnya. "Kenapa dokter sudah di luar? Apa sudah selesai operasinya?" Di sapa kegembiraan dari raut wajah Irsyad.

__ADS_1


Dokter Ihsan mengeratkan giginya, kasian ponakannya berjuang sendirian di ruangan operasi dan itu membutuhkan tenaga yang benar-benar ekstra.


"Iya, ini belum... Lagi ada masalah di dalam, saya ingin menghubungi dokter umum untuk membantunya... Dan ini saya udah nggak kuat, maklum umur juga yang nggak memadai, dan kesehatan om sudah ini, lanjut..." Irsyad menderu-deru nafasnya, ia pun menggeleng.


Tidak, jangan!


Ya Allah, sembuhkan istrinya dan lapangkan semua segala operasinya, kelancaran bersama kemudahan.


Ia tak mungkin untuk bergabung di sana, yang ada akan menyulitkan proses operasi istrinya.


Hanya membuat bingung, dan bisa jadi menjadi bahan emosi untuk para dokter yang sudah berjuang.


***


Setelah tujuh jam terlewati bagi para dokter-dokter yang berjuang di garis terdepan bagi istri Irsyad, sebagaimana Irsyad mempunyai saham atas rumah sakit ini.


Ia berhak untuk mengurus rumah sakit ini. Kini ia, bernafas lega... Tapi, jantungnya serasa sama dari beberapa jam yang lalu.


"Gimana keadaannya, dok?" Ia kembali bertanya kepada dokter Ihsan sedang mengurus beberapa data di resepsionis.


Ia membuntuti dokter Ihsan, baru kali ini nyalinya tidak kuat untuk menghadapi salah satu pasien, dokter Ihsan mengejeknya.

__ADS_1


"Kamu ini jadi suami terus jadi dokter, giliran istri sakit, nggak mau ngurus... Nyalinya seperti kucing kena mental saja," Weh bawa kucing segala. Hati-hati om, nanti kesambet kucing yang sudah kesurupan itu.


Biasanya ngebor-ngebor suaranya.


"Ngapain kamu ngikutin saya terus?"


"Yaelah om, mau tanya itu... Keadaan istri saya gimana? Dokter maksudnya, saya dari tadi tanya itu... Dokter aja nggak dengerin dari tadi." Dokter Ihsan pun tertawa, Irsyad mengatungkan salah satu tangannya untuk memukul punggung dokter Ihsan.


"Sepertinya pantas menjadi dokter di rumah sakit jiwa, RSJ... Saya pergi dulu ya, dok... Tanya saja sama Fadli, yang lebih faham." Ucap Irsyad sembari menyindir.


Baru saja mau berbicara, sudah ada kata sindiran untuknya. "Hati-hati kalau ngomong! nanti saham kau di caplok orang gila tak punya otak tu... Astagfirullahalazim,"


"Kan jadi sebut-sebut, hah... Sudah! Ini jadinya bagaimana? Saya harus pulang ke sana gitu, dinas lagi di sana.... Saya mah nggak betah udahan," dengan logat-logat sundanya, ia keluarkan. Membuat Irsyad terkekeh, emangnya sunda tapi agak sebleh.


Bersambung...


Jangan lupa atuh itu kang jempol sama kang like, favorit, dan rating ya 🤗


Makasih ❤


Wkwk maaf salah, jadi bahan guyonan aja biar anget hawanya, nggak selalu dingin teros yakkkk kkkk😌

__ADS_1


__ADS_2