Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Persiapan Khitbah.


__ADS_3

Happy Reading


Beberapa hari sudah di lewati, setelah kejadian Rania mengalami pusing yang berkelebat di kepalanya.


Rayhan membawa selang yang mengucur airnya untuk menyiram beberapa bunga di halaman depan.


“ Kenapa, sekarang aku selalu mengingat-ingat karena penyakit Rania? Sampai aku lupa mau apa, gimana? Aduh, fokus. Jangan gerak kemana-mana? ” Rayhan memukul-mukul kepalanya dan Rania lewat yang membawa rantang.


“ Bang, nggak boleh gitu! ” Rania mencegahnya dan Rayhan memeluk adeknya dengan erat.


“ Dek, maafkan abang ya. Abang banyak salah sama kamu, abang nggak bisa kasih kamu apa-apa. Sampai kamu seperti ini sekarang, abang ingin kamu sembuh, tetapi kenapa abang kekeuh kamu meninggalkan abang, dek? Abang nggak mau itu terjadi, ” Rania menggelengkan kepalanya dan mengambil tangan Rayhan.


“ Bang, abang itu nggak ada salah. Jadinya kalau begini aku pen nangis aja. Kalau abang sedih, ”


Rayhan terkejut dan mengelap wajah Rania, Rania menggenggam tangan Rayhan.


“ Bang kita, selamanya nggak akan pernah terpisahkan. ”


“ Iya dek, sekarang kamu siap-siap ya. Bentar lagi ada acara kamu kan, nanti khitbah-nya ada pengajian dan Qiro'ah kan. Kamu siap-siap dulu, abang mau mandi sekalian. Kamu udah mandi kan? Gantian abang sekarang. ”


“ Ya ampun bang, ini udah siang. Abang belum mandi? ” Rania tertawa, pantas saja dia memeluk abangnya tadi, seperti bau asem-asem gitu.


“ Hm, mau gimana lagi? Tadi, abang mau mandi sebelum subuh tapi katanya ada bak mandi yang jebol jadinya abang benerin, terus sekalian mandi lah, tapi pagi tadi selepas sholat subuh di masjid, gotong royong bersihkan selokan sama buat pos ronda, sekarang suruh bersihkan pondok. ”


“ Sabar bang, namanya juga sosialisasi itu ada di masyarakat sama di pondok. Kalau abang pilih salah satu, nanti abang jadi bahan omongan. ” Ucap Rania berlari dan meninggalkan Rayhan yang bengong.

__ADS_1


“ Gitulah, adek yang persis mirip sama Umi. Eh, kan anaknya. Ya, yang pasti sama lah. ” Gumam Rayhan dengan mematikan krannya, menggulung-gulung selangnya.


“ Ini lagi, muel-muel kayak benang aja. Dasar padaan, nggak pernah bantu dikit ustaz nya gitu. Kenapa hidupku selalu menyendiri tanpa bantuan orang lain? ” Rayhan ngomong-ngomong sendiri dan tanpa di ketahui di belakangnya, ada Abi nya yang mendengarkan omongan Rayhan.


“ Ehem... ” Rayhan mengambil jurus ancang-ancang dan memukulkan selangnya ke wajah Abi, tetapi tidak mengenai. Karena Abi yang menangkapnya.


“Kamu kayak orang gila? Bener-bener makan waktu Abi aja. Dari tadi dengerin kamu ngomong, kerjaannya ngeluh terus. Kamu nggak ngerti apa maksudnya ngeluh? ” Rayhan senyum-senyum sendiri dan Abi menjewer telinganya.


“ Mandi sana! Jangan kayak orang gila! ”


Rayhan mengangguk dan melangkah pergi dari hadapan Abi.


“ Kerjain enak ya, daripada orangnya suka marah-marah nggak jelas. Kalau ngomong itu yang pasti A-Z lagi. ”


Rayhan melepas sepatu boot nya dan mencuci kakinya sama tangannya.


“ Assalamu'alaikum Umi. ” Ucap Rayhan dengan menyalami uminya dan pergi dari pandangan umi.


Malu...


“ Hahaha... Mas Rayhan malu Umi, ”


“ eeh kalian ngomong apa tadi? ”


Mereka menutup mulutnya rapat-rapat.

__ADS_1


***


Rania yang ada di dalam kamar, bingung mau pilih pakaiannya.


“ Ini ajalah, yang penting sopan. ”


Rania akhirnya selesai berpakaian, memoles bedak dan memakai kerudungnya.


Selesai semua...


“ Nia... ” Panggil Desi yang badannya gemuk, makannya porsinya lebih besar.


“ Ada apa? ” Desi menangis terharu dan memeluk Rania.


Rania dadanya sesak karena di himpit tubuh Desi. Rania memaksa untuk keluar dari tubuh Desi.


“ Hehehe... Maaf nia, nggak tau. ”


“ Iya... Udah pada siap? ”


“ Udah. Sekarang kita keluar yuk! ”


Bersambung...


Jangan lupa Like dan komentar postifnya ya

__ADS_1


☺☺☺


Terima kasih 🙏💕


__ADS_2