
"Pah, boleh minta pendapat?" Irsyad mengambil langkah untuk tidak menerima keputusan ini.
"Hem... Silakan! Tapi, kalau mau berdebat kalian ke lapangan aja... Karena putriku salah satunya dan kalian bisa memikirkan kelanjutannya. Nggak usah berantem," Ucap papah dan membuat hati Irsyad tersayat jika adiknya itu di kirim ke Madinah kembali. Papah dan semuanya pergi dari sana, sudah tau apa yang ingin di katakan oleh Irsyad.
Kasian adiknya, tidak bisa hidup bebas kembali. Ingin ia berantem sekarang dengan abangnya satu ini. Kenapa sih tidak bisa membuat adiknya bahagia, nggak ada apa namanya batin yang kuat antara kakak dan adik.
Irsyad mendengus kesal, dan frustasi. Sementara orang-orang sudah pergi meninggalkan Irsyad di sana yang sedang melamun.
Dadanya naik turun, dan menatap kamar adiknya. Ia melangkah ke sana, melihat adiknya sudah tidur atau belum.
Irsyad membukanya, dan sedikit berbunyi. Irsyad mengembangkan senyuman, ketika adiknya sudah tertidur pulas, adiknya berenang di dalam mimpinya. Ia menatap gundukan selimut yang menutupi semuanya, padahal di dalam selimut Kirana menahan tangisannya ketika ia mendengar jika papahnya akan mengirimnya kembali ke Madinah.
Di sana ada paman dan bibinya yang keras orangnya, hidupnya berbeda jika bersama orang tuanya sendiri. Sepertinya ia sudah tidak ada gunanya di keluarga ini, Kirana semakin terhimpit oleh keadaan.
"Selamat mimpi indah adikku sayang, kamu adalah kesayangan kakak yang pertama kalinya dan kamu pokoknya nggak boleh pergi. Melihat kamu pergi jauh, membuat kakak mati rasa. Ingin sekali menjemput mu untuk pulang, tapi karena ingin mengais mimpimu, maka kakak akan perkenankan dan mudah-mudahan kamu bisa menjadi anak kebanggaan orang tua ya." Ucapnya dengan mengelus rambut adiknya itu yang masih menyembul.
Kirana tidak bisa menahan tangisnya, semakin bergulir, dan akhirnya pecah juga. Ia menghamburkan pelukan ke dada Irsyad.
Irsyad kaget, ternyata adiknya belum tidur. Sejak tadi ia bicara, berarti adiknya menahan tangisannya untuk tidak keluar.
__ADS_1
"Kak, mereka itu egois sekali." Dengan nada sesegukan dan Irsyad menggeleng, menatap mata adiknya yang masih menggenang air matanya.
"Nggak Kirana, mereka menyatakan ini semua untuk kebaikan kita semua jugaan. Kamu emangnya nggak nerima jika keputusan itu keputusan tidak tepat?" Kirana menggeleng sempurna dan Irsyad tertawa kecil.
"Bentar! Hahaha sama dong," di saat beginian bisa-bisanya kakaknya ini menertawakannya.
Ia timpuk wajah kakaknya dengan bantal, dan Irsyad dengan cepat menghindar.
"Udahlah tidur aja! Besok biar lebih fresh lagi ya... Kakak mau tidur juga, kasian kakak ipar mu udah kedinginan." Ucap Irsyad bergegas pergi meninggalkan Kirana.
"Huh, dasar... Aku 'kan belum ngeluarin semua unek-unek ku. Sama aja semuanya, nggak papah, bang Yahya, terus bang Irsyad sekali pun. Nggak ada yang ngerti sama sekali," Kirana lun tetap melanjutkan tangisannya.
Irsyad masuk ke dalam kamar, di sana Rania sudah terlelap di dalam mimpinya dan Irsyad naik ke ranjang, ia malas untuk ganti dengan baju tidur karena hari ini membuatnya lelah dengan keputusan apa yang dibuat oleh papah dan abangnya itu.
Melihat wajah Rania, Irsyad menoel-noel hidung istrinya, dan melihat jam di atas nakas.
"Jam sebelas malam, segitunya pantesan mamah tadi ngajak papah untuk tidur, padahal belum selesai rapatnya tadi." gumamnya dan Irsyad menatap istrinya, bibirnya masih belum ia sentuh dari istrinya sakit-sakitan itu sampai sekarang mereka belum bertaut dalam kecupan. Semakin cantik, jika Rania tidak memakai kerudung. Apalagi kehormatannya pun masih terjaga, mereka belum bisa menyatakan ini dan itunya selama menikah.
Pernah pada saat itu, tapi Irsyad merasa kasian kepada istrinya karena wajahnya sudah terlalu lelah, menjamahi merasa dirinya belum nyaman untuk secara nafkah batin dari suaminya itu. Tapi, bagaimanapun istri juga harus menerima apa adanya, dan mereka pasangan yang sudah halal secara agama maupun negara.
__ADS_1
Irsyad beristighfar agar tidak di bawa ke alunan yang seperti ini, tapi di bawah memaknai jika ia harus mandi malam ini. Menjinakkan barang tersebut, karena sejak tadi menunggu.
"Sayang..." Serunya dengan lembut.
"Hem," jawabnya dengan setengah parau suaranya dan setengah sadar.
Masih terbawa ke alam mimpi, Rania terbangun ketika suaminya memanggilnya seperti terbawa ke alam mimpi.
"Eh, ya Allah... Tak kirain kamu itu," Melihat Irsyad berbalik dan lari ke kamar mandi. Membuatnya bingung, kenapa suaminya itu?
Ah, mending tidur aja.
... Bersambung... ...
Jangan lupa like dan komennya yah, aku udah double update nih☺.
Aku pingin cepet selesai ini cerita, tapi sesuai itunya sih seharusnya dah selesai mau'an tapi aku tambah untuk pelengkapnya yah 😂.
Makasih 🤗
__ADS_1