
Rania capek kalau begini terus posisinya, sampai ia tidak bisa bergerak padahal dirinya itu baru sembuh dan baru saja tadi pulang dari rumah sakit. Eh suaminya udah nempel aja kayak tai cicak sama putih-putihnya itu.
"Hem, ya Allah..." Gumamnya dan Rania pun memejamkan matanya. Suaminya kayaknya sudah tidur.
Ia memindahkan kepala suaminya itu, dan dengan pelan-pelan supaya ia bisa bergerak bebas.
"Allhamdulilah... Bisa leluasa lagi, aku mau makan... Laper," Baru saja mau beranjak pergi, tapi tangan Rania sudah dicegah oleh Irsyad.
"Sebentar saja!" Rania menghela nafas pelan, tersenyum dan ingin mengeluh tapi ia harus sabar sebentar saja.
"Iya," Ia bergumam sendiri dan Rania duduk di samping Irsyad, mengelus-elus kepala Irsyad.
Kenapa nggak tidur-tidur sih, jadi bingung lagi nih nidurin bayi gede.
Haha...
Rania melihat jam di dinding, sudah jam dua lewat masa iya suaminya belum tidur.
Perutnya sudah berbunyi, kerongkongannya terasa kering. Menyiksa sekali ini, Rania pun beranjak untung saja Irsyad sudah tertidur pulas.
Rania menggunakan kerudungnya dan memakai sandalnya, ia sampai berjinjit karena bisa saja sandal ini membunyikan alarm tidur Irsyad.
Rania membuka pintu dengan pelan, dan menariknya, menutupnya kembali.
Ia bernafas lega.
__ADS_1
"Huhh, sampai itu minuman udah dingin. Ah, mendingan aku minum. Eh, tapi nanti kalau aku minum yang manis apa nggak agak asam gimana yah?" Rania berjalan ke dapur, sepi amat. Ini orang yang ada di rumah baik-baik semua 'kan? Rania melolong ke sana-sini dan tidak ada suara satu pun.
Hanya kucuran air yang ada di taman, dan kicauan burung yang ada di pohon.
"Apa menu makanannya coba?"
Ia membuka makanannya, dan di sana sudah tersedia bubur yang ditulis oleh uminya untuk Rania. Rania pun menghangatkannya, dan penciumannya tajam sekali.
Enak ini.
Wanginya menyerbak kemana-mana.
Mbak Nurul yang lewat di dapur mengeryit heran, karena Rania mengendus-endus baunya.
"Ibu..." Sapanya dengan ramah.
Tadi ia sempat ke pasar sebentar, dan membeli beberapa persediaan di kulkas.
"Habis darimana mbak?" tanya Rania yang meletakkan buburnya ke dalam mangkuk dan membereskan piring yang kotor, ia letakkan di wastafel untuk cuci piring.
"Dari pasar bu," jawabnya dan menata di kulkas.
"Oh iya pada kemana ini mbak? Kok sepi amat, kayaknya nggak ada yang makan yah ini mbak. Masih banyak gini," Mbak Nurul mengangguk, dan Rania hanya tersenyum tipis.
"Nggak papa mbak, nanti dihangatkan lagi kalau mau makan. Ketimbang mubazir nggak di makan, emh... Umi sama abi sudah makan tadi, mbak?" tanya Rania yang menuangkan beberapa topping di buburnya.
__ADS_1
"Sudah, bu. Malahan mereka mengajak saya makan, dan kita makan di sini bu... Nggak papa 'kan bu?" Rania menggeleng.
"Udah sama siapa aja, mbak-mbak." Rania memakannya dengan lahap.
"Papah sama mamahnya mas Irsyad kemana ya, mbak? Kok nggak keliatan." tanya Rania dan mbak Nurul hanya menggeleng. Ia tidak tau, karena setaunya dari tadi mamah dan papahnya majikannya itu sudah pulang.
Tapi, benar apa nggak nya mbak Nurul tidak tau.
"Ooo, ya udah kalau gitu." Rania melanjutkan makannya, dan mbak Nurul mencuci piring yang kotor, Rania selesai makan, ia melihat tamannya.
"Hem, ini sungguh membuat ku nyaman. Kalau di kasih bunga lagi, kayaknya nggak papa ya." Ucapnya dan melihat ikan-ikan yang tidak terawat. Sepertinya ikannya belum dikasih makan sama mas Onyon.
Rania pun mengambil makan ikannya, dan sampai ia membersihkan kolam ikannya sendiri. Melepas hawa bosan dan penat, apalagi siang-siang begini enaknya ngurus hewan apa nggak ngurus tanaman.
Rania mencuci kolamnya untung saja ia memakai celana panjang, dan ia menenggelamkan dirinya ke dasar kolam untuk membuka pembuangan air.
Mas Onyon terkejut jika majikannya sudah membersihkan kolam tersebut, mbak Nurul ikut membantu majikannya.
Mas Onyon membersihkan kolam renang, mbak Nurul membuatkan mereka makanan dan minuman.
Sementara Irsyad kelimpungan sendiri, mencari istrinya dan sampai nabrak pintu kamarnya sendiri.
Bersambung...
Jangan lupa like dan komennya ☺
__ADS_1
Terima kasih banyak ❤️