Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Berkunjung


__ADS_3

Pak Dudung menjawab, “ Ada kok, silakan bapak mau bertemu dengan Pak kyai sama Umi ya? ” Irsyad pun mengangguk dan Pak Dudung tersadar kalau Rania ada di dalam mobil. “ Eh neng, ” Sapa Pak Dudung dan Rania mengangguk. “ Silakan masuk aja Pak! ” Irsyad menjalankan mobilnya sampai di rumah Pak kyai sama Umi.


Irsyad dan teman-temannya Irsyad sampai di rumah Rania. Rania keluar dari mobil, berjalan ke arah pintu dan mengetuknya. “ Assalamu'alaikum umi, ” Ucap Rania dengan lemas dan Umi pun membuka pintunya. Melihat Rania yang pucat, Umi dengan sigap kaget dan membuat Umi bertanya. “ Nak kamu kenapa? ” Tanya Umi dan Irsyad heran dengan Rania yang sebelumnya sehat saja kalau di tanya beberapa menit yang lalu. “ Nggak papa Umi, ” Rania sempoyongan masuk ke kamar dan Irsyad bersama temannya masuk ke dalam rumah.


Umi menyelimutkan Rania dengan selimut dan Umi kembali ke ruang tamu. “ Assalamu'alaikum Umi, ” Sapa Irsyad dan menyalimi dengan sopan dan temannya sama kecuali istri Doni. “ Waalaikumsalam, iya kalian siapa ya? Kok mengantarkan anak saya, ” Irsyad pun menjelaskan kedatangannya ke sini. “ Begini Umi saya mengantarkan putri Umi karena putri Umi tadi tidak sengaja saya tabrak di jalan. Jadi, pada saat itu putri Umi jatuh pingsan dan saya bawa ke rumah sakit. Sebelumnya saya yang bertabrakan dengan putri Umi, saya meminta maaf atas kejadian itu. Terus itu keadaan putri Umi sudah baik, jadi di perbolehkan pulang. Saya dan teman saya mengantarkan putri Umi pulang ke sini sebagai tanggungjawab saya Umi, ” Jelas Irsyad dengan gugup karena tadi sempat kalau dia bukan mahramnya, tetapi dia harus menjaga kehormatannya sebagai seorang dokter dengan sesama pasien. “ Bapak dokter ya? ” Tanya Umi,


“ Iya Umi dan perkenalkan saya Irsyad, ini teman saya namanya Doni bersama istrinya bernama Dina. ” Irsyad tersenyum dan Umi mempersilahkan untuk duduk.

__ADS_1


“ Oh iya Umi mau buatkan kalian minuman dulu ya, Umi lupa mau buatkan kalian. ” Ucap Umi menuju ke dapur membuatkan minuman.


“ Ehm kita ke abang dulu, yuk. Aku kangen sama abang kamu syad. ” Ucap Doni dan Irsyad melengos. “ Kamu ni ya Don nanti dulu napa? Kita harus hormati orang tua, jugaan kita nggak sopan di rumah orang seenaknya saja. ” Ucap sinis Irsyad karena dia tidak suka dengan orang yang tidak punya sopan santun. “ Iya kamu ini mas, ada-ada saja. ” Ucap Dina, “ Bukannya gitu lho yang, aku itu ngomong nanti. Hi-hi-hu. ” Ucap Doni dengan menangis becanda. “ Hah kamu ini Don emang ya, pengen ini. ” Irsyad kesal karena ucapan Doni yang membuatnya menasehati Doni.


Umi membawa nampan berisi minuman dan makanan. “ Silakan di makan dan di minum Pak! Maaf ini adanya, ” Umi pun duduk di kursi rotan dan Irsyad tersenyum. “ Oh iya Umi, Pak kyai ada? ” Tanya Doni, “ Ehm Pak kyai ada, tapi masih pergi beliau. ” Doni meminum tehnya, “ Iya kalau begitu kita mau ke ustadz Yahya itu dimana ya Umi? Rumahnya, ” Tanya Doni dan membuat Dina bergegas mencubit lengan Doni. “ Mas kamu ini apaan sih? ” Ucap Dina dengan pelan dan tersenyum kepada Umi. “ Oh ada kepentingan apa sama ustadz Yahya? ” Umi bertanya kembali, “ Ehm Irsyad ini adeknya Pak ustadz Yahya. ” Jawab Doni, “ Oalah Pak dokter ini adeknya ustadz Yahya ya, ya kalau begitu rumahnya di seberang sana Pak. ” Ucap Umi.


“ Kalau begitu kami permisi dulu Umi, assalamu'alaikum. ” Ucap Doni dan Irsyad menggeleng-gelengkan kepalanya, “ Kita permisi dulu Umi, maaf kalau merepotkan. Assalamu'alaikum, ” Irsyad menyalami tangan Umi sebagaimana laki-laki dan perempuan bila bukan mahramnya bertemu harus berjabat tangan dengan sopan. “ Iya waalaikumsalam, terimakasih pak dokter udah mengantarkan putri saya. ”

__ADS_1


“ Assalamu'alaikum humaira, ” Ucap Abi dan tersenyum kepada Umi. “ Abi kaget tau ini Umi, untung aja nggak jantungan. Bi, ” Omel Umi.


“ Jawab dulu salamnya humaira, ” Abi duduk dan Umi mendekati Abi. “ Bi itu Rania tadi kecelakaan bi, ” Abi berdecak karena tidak di jawab salamnya. “ Alfarida humaira, Abi nggak suka ya kalau humaira tidak jawab salam. Apa gunanya untuk menjadi panutan santri-santri di sini Umi? Abi tidak suka namanya orang yang tidak menjawab salam. Jagalah mulutmu untuk menjawab salam, ucapkan sebisamu! Abi pernah berkata sama Umi. Orang yang paling abi benci itu orang yang tidak menjawab salamnya, Umi. ”


* **Bersambung *


Jangan lupa untuk like, vote, dan komen yang positif!!

__ADS_1


Mampir di instagram ya, nanti akan di follback kembali!! Jaminlah**,


@dindafitriani0911


__ADS_2