Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Ternyata...


__ADS_3

Lamunannya pun buyar, agak sedikit gagal fokus tapi ia harus perfesional. Tidak boleh lidahnya keseleo, "Baiklah, saya akan perkenalkan diri saya." Ucap direkturnya yang mulai beranjak berdiri.


"Assalamu'alaikum... Selamat siang, dan bertemu kembali dengan saya. Walaupun sebelumnya cuman beberapa dokter yang saya temui, allhamdulilah di siang ini masih memberikan kesempatan hadir untuk saya, nama saya Dawas Hendra Adhitia dan bisa di panggil Adhi, saya sendiri sekarang mencoba membangun beberapa rumah sakit untuk desa yang tertinggal. Dan allhamdulilah, sekarang saya mengucapkan terima kasih banyak kepada orang tua saya, yang seharusnya saya banggakan tapi menurut saya ini adalah hal yang paling saya luangkan untuk waktu saya kepadanya juga-." Panjang lebar sampai mengantuk Irsyad mendengarkan.


Entahlah pekerjaannya nanti bagaimana dengannya? Berpikir untuk terakhir kalinya.


Dan selesai acara, Irsyad mengerjap beberapa kali, karena kelopak matanya ingin menutup.


"Pak..." Seru bapak Hendra. Dan Irsyad tersenyum, Hendra memukul bahu Irsyad pelan.


"Saya boleh 'kan jenguk istri kamu?"


Irsyad melirik ke Adhi, dan hanya tatapan sendu untuk menerima permintaan orang tuanya kali ini.


Sok kenal.


Hahaha, padahal dalemnya dah gebu-gebu mau hajar sekalian ke lapangan pecah semangka pakai kepala. Wkwkwk...


"Iya Pak, nggak papa kok." Jawabnya dengan singkat, dan Hendra tersenyum.


"Kenalkan ini anak bapak yang agak tengil orangnya, ya biasa... Nggak suka bercandaan orangnya," Hendra mengenalkan anaknya itu kepada Irsyad.


"Irsyad..."


"Adhi..." Mereka sama-sama bersaut dan mengenalkan diri.


Hendra tersenyum, memeluk mereka berdua.


"Irsyad sudah bapak anggap sebagai anak bapak, nak. Sebagai kakak mu hanya beda dua tahunan kamu sama dia, papahnya Irsyad pun kenal sama bapak. Dan kamu harus kenal lebih jauh pokoknya, dulu kalian saling bertengkar kalau bertemu. Jangan sampai ada dendam di hati kalian yang masih bercokol ya!" Pesan Pak Hendra, Irsyad hanya mengangguk.

__ADS_1


Kapan dirinya bertemu dengan laki-laki seperti ini? Setaunya tidak pernah, malahan ia akan tendang jika ada dokter yang galak bermuka dingin-dingin, tak ada senyumnya sedikit.


Emangnya mahal itu senyuman, bisa lah Irsyad beli senyumannya itu, pasti manis.


Eh sebentar, jika nanti ketemu istrinya. Benar-benar tidak boleh, ia nggak boleh menemukan si dokter dengan istrinya.


"Iya, bapak pun mau jodohkan dia sama adekmu itu. Dia paling kenal dekat sama adekmu," Hah... Terang-terang banget itu Pak Hendra.


Wah, kok si Kirana mau sih?


Muka kayak gini, tinggal di tendang langsung kayak banteng palingan yang ada.


Berarti nggak bisa dong ngedeketin istri ku, takutnya nanti jadi pebinor kali ya, hah entahlah.


Tanyakan saja sama adek.


Jika benar, harus di interogasi dulu.


Pak Hendra terkekeh, "Bener lho, ini kakaknya itu pacar mu itu, siapa namanya lupa. Kirana, iya Kirana. Masa di lupain gitu aja," goda Pak Hendra.


Irsyad hanya tersenyum kecut, dan Adhi pun tersenyum ke arahnya.


"Wah yang betul aja bapak ini kalau bicara, masa iya ini calon kakak iparku. Sepertinya harus melewati ujiannya dulu nih, tapi di sini aku 'kan jabatannya paling tertinggi, nggak lah... Nggak jangan samain dengan pekerjaan, beda kali... Perempuan ya perempuan nggak ada mencampuri urusan pekerjaan." Ucapnya di dalam hati, hahaha Pak Hendra tetap menggandeng mereka sampai ruangan Rania.


"Kamu nggak pakai ruang itu aja, Syad?" Irsyad menggeleng.


Ya, ada ruangan yang lebih mewah lagi.


Sudahlah mau ke rumah sakit kok malah buang-buang uang untuk bayar ruangan itu.

__ADS_1


Ini sudah cukup nyaman, tapi rumah sakit berbeda karena sisi yang paling ternyaman adalah rumah sendiri.


"Nggak Pak, di sini sudah nyaman. Jugaan istri ku orangnya nggak enak 'kan." Jawabnya dengan membukakan pintu, disana ada abi dan umi yang lagi berbicara dan tersenyum mengarah kepada mereka.


"Assalamu'alaikum, maaf mengganggu Pak, bu... Lagi istirahat ya," Ucapnya dengan menyalami mereka dan mereka beranjak berdiri.


"Wa'alaikumsalam," Adhi memberikan buah dan Irsyad menerimanya, hanya senyuman tipis yang ia berikan.


"Terima kasih." Serunya dengan singkat, dan Adhi mengangguk dan menyalami gantian setelah bapaknya.


"Eh repot-repot Pak, makasih banyak." Ujar umi dengan menyilahkan mereka untuk duduk, memberi ruang.


"Siapa syad?" tanya abi dan umi bersamaan.


"Pemilik rumah sakit dan anaknya, yang sekarang jadi kepala direktur di rumah sakit." Jawabnya, Irsyad membangunkan istrinya dengan lembut.


Mengerjapkan matanya beberapa kali, dan tersenyum ke Irsyad.


"Oalah, ini pemiliknya. Ya Allah, makasih banyak Pak... Repot-repot kalian ke sini, cuman begini kok keadaannya... Allhamdulilah anak kami sembuh, dan bisa dinyatakan sehat kembali." Umi memberikan jawaban.


**Bersambung**...


Jangan lupa like dan komennya🤗


Apa mas Irsyad bakal kasih restu ya? Kali nggak😆, tapi jangan lho mendingan kasih restu kasihan adeknya 🤭.


Gimana nih? Bakal lanjut ke ceritanya mas Irsyad sama Rania, atau cintanya Bapak Adhi sama Kirana? Hahaha 🤣...


Nggak bisa kasih judul, mohon di maaepken🙏

__ADS_1


Maturnuwun ❤️


__ADS_2