Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
ADEK TETAP SAYANG SEMUANYA


__ADS_3

"Gimana Fadli? Istri ku baik 'kan?"


Fadli menghela nafas, ia lega akhirnya operasi berjalan dengan baik hanya saja tadi ia hampir melayangkan nyawa Rania.


Sampai dokter lainnya, menegur dirinya.


"Iya, nggak papa. Semuanya berjalan dengan baik, hanya saja istri mu lagi tertidur, dan ini cukup untuk masa pemulihannya saja." Irsyad mengangguk, dan tersenyum.


"Makasih ya Fad... Aku nggak bisa ngapa-ngapa, semuanya sudah menolong ku..." Fadli pun tersenyum lebar, memeluk Irsyad seperti adeknya sendiri.


Hanya bertaut umur sekitar dua tahunan, Fadli yang lebih memahami sifat maupun semuanya yang ada di dalam diri Irsyad selama ini.


Mereka sudah berteman sejak kecil, dan tidak bisa di katakan, jika mereka kadang akur dan kadang ada baiknya pula.


"Ya sudah, kamu boleh menunggu di ruang perawatan nanti. Semuanya sudah siap, dan bisa di pindahkan ke ruang perawatan." Fadli pun hilang dari pandangan Irsyad, Irsyad duduk di kursi tunggu.

__ADS_1


"Allhamdulilah, makasih ya Allah... Aku harus mengabari mereka dulu... Kasian mereka, pasti cemas dan khawatir." Irsyad bergegas ke ruang perawatan Kirana berada, ia tidak ingin membuat papah dan mamahnya merasa khawatir.


"Assalamu'alaikum, mah.... Pah, dek..." Semuanya ia sapa satu persatu, ia mencium tangan orang tuanya. Lalu, beralih ke adeknya yang tidak mau menghadapnya sekarang.


"Dekk..." Panggil papah, mamah pun bergeming hanya melihat kakak dan adek itu berdiam juga.


"Pah, sudah! Biar kita yang pergi dulu ya, nanti kamu panggil papah sama mamah... Oh, iya gimana istri mu nak?" tanya mamah, Irsyad tersenyum merekah.


"Ada di ruang perawatan mah, pah... Tanya sama dokter Fadli saja," Papah sama mamah pun mengangguk dan mereka beranjak pergi, meninggalkan mereka.


"Kak," seru Kirana.


Irsyad pun mengambil langkah duduk, ia meraih salah satu tangan adeknya.


"Maafkan kakak ya, dek... Kakak nggak bisa buat hati adek seneng hari ini... Kakak tetap kakak kamu, jangan sampai kamu membenci kakak, dalam keadaan apapun! Kakak pasti sayang kamu dek, kita sama-sama di lahirkan dari perut mamah... Kasian mereka dek, jika kita berantem... Mereka menasehati kita, bolak-balik... Kamu jangan sampai menyakiti hati mereka! Kakak selalu menghargai waktu dek, dan semuanya kakak lakukan demi waktu, tapi Allah berkata lain dek... Kemarin, kakak di landa musibah, jika kakak ipar kamu sakit. Dan kakak baru tau sekarang jika mbak Rania punya penyakit kanker otak stadium dua---"

__ADS_1


"Hah apa?" Kirana memotong pembicaraan Irsyad, lalu ia tersenyum.


"Iya dek, mbak Rania sekarang sudah selesai operasinya, dan allhamdulilah Allah memberikan jalan untuk kelancaran hari ini... dek, maafkan kakak ya..." Irsyad sambil mencium pipi adeknya itu, sampai Kirana terkikik geli.


"Sudah kak! Nggak papa kok, adek tetap sayang sama kakak. Maafkan adek ya mas, kalau adek udah marah-marah terus adek ingin melakukan bunuh diri, untung nggak jadi. ADEK TETAP SAYANG SEMUANYA." Ujar Kirana dengan menyembunyikan malunya, ia malu karena sikapnya yang kurang hati-hati dan sukanya ambil tindakan 'su'udzon' dengan orang lain.


"Hehehehe... Iya dek nggak papa, ini masalah kecil, nggak usah di perbesar lagi masalahnya. Kita memetik kisah hari ini dan kemarin, untuk di jadikan pelajaran. Setiap kejadian, pasti mempunyai kesan dan pesan yang berbeda." Irsyad mengelus hijab Kirana, Kirana pun mencium tangan Irsyad.


Sebagai tanda permintaan maafnya.


Bersambung...


Maaf ya, kesehatan lagi drop jadinya ini dulu. Kemarin nggak up, ini pun aku terpaksa buatnya sekalian naikkan imun juga... Yang ada tambah sakit bu:)... Nggak... lagi bosen aja, tugas yang numpuk dah selesai, ya udah mampir ke sini.


Terima kasih 🙏💕

__ADS_1


__ADS_2