
Rania mengelus punggung Irsyad, menenangkan suaminya, ia yang sakit kenapa suaminya tiba-tiba membuatnya tepingkal-pingkal karena menangis, masa iya suami harusnya menguatkan istrinya tapi ini sebaliknya.
"Sudah mas! Nggak usah seperti ini, aku juga nggak sakit kok. Udah sembuh, cuma kadang saja sakitnya agak sedikit tertahan." Irsyad menggeleng.
"Iya, tapi aku kasian sama kamu." Rania tersenyum lebar, Rania beranjak dari sofa lalu ia tidurkan tubuhnya di atas ranjang.
"Kalau kasian, kenapa tadi marah?"
"Ya, maaf lah. Jangan bahas kejadian beberapa saat tadi, aku reflek terkejut lah masa engga. Gini-gini kasian juga, tapi kalau sama pasien sendiri sih biasa saja." Ucapan Irsyad membuat Rania tertawa.
"Loh kok ketawa? Emangnya salah?" Irsyad mendekat ke Rania dan tidur di sampingnya.
"Sakit?"
"Enggak, pas kamu nggak sentuh aku, nggak sakit giliran jauhan, kenapa sakit itu tiba-tiba nyerang?" Irsyad bingung, ada saja ini istrinya.
Mau gombal, tapi malah bawa-bawa penyakitnya. Irsyad pun mengelus kepala Rania dengan lembut, suatu kecupan mendarat sempurna di kening Rania.
"Ya udah, besok kita ke Singapura!"
"Mau ngapain?"
"Iya, dokter di sana sudah di rekomendasikan sangat terbaik, makanya ke sana saja!"
"Nggak usah, di sini juga sudah cukup mas. Aku bahagia, di sini sama di sana sama saja. Malahan, kalau kita terbang ke sana membuang uang yang banyak, kasian kamu mas. Kerja malam, kerja pagi sampai malam. Dan bisa jadi pasien membutuhkan pagi-pagi untuk melakukan operasi," jelas Rania dengan termenung.
"Nggak papa, yang penting kamu sembuh! Demi kamu, uang tidak ada apa-apa nya untukku. Sakit ya harus di obati Nia, jangan mempermasalahkan uang! Aku minta maaf sekali lagi," Rania memeluk tangan Irsyad.
"Di sini saja ya mas! Dokternya pun juga udah ahli, masa iya mau jerumusin pasiennya."
"Baiklah kalau begitu."
"Tapi, mas---" Ada ucapan yang ia sela, dan Irsyad menjawabnya.
"Ada apa? Kayaknya ada yang berat gitu dari wajah-wajahmu," Irsyad memainkan tangan Rania, sampai tidak mau di lepas.
__ADS_1
"Aku mau ini harus di rahasiakan sampai aku setelah melakukan operasi, mas. Dari keluarga, aku nggak mau mereka mendadak kaget. Apalagi dengan Umi, yang punya penyakit di jantungnya. Aku nggak mau kalau ada apa-apa," Irsyad terdiam.
"Bagaimana, mas?" lanjutnya.
"Hem, mau bagaimana lagi? Karena kamu aku turuti, ya sudah besok kita ketemu Fadli." Rania mengeryit heran.
"Memangnya kamu kenal sama dokter Fadli?" tanya Rania, Irsyad terkekeh pelan.
"Kamu ini, kan satu arah jurusannya, kita setiap kali pokoknya ketemu. Ia juga dokter urusan tentang kepala, dan dokter Fadli pun mempunyai wewenang di rumah sakit, makanya kami setiap kali bertemu dalam agenda rapat." Jelas Irsyad, Rania mengangguk dan pandangannya lurus ke mata Irsyad.
"Mau itu?"
"Iya, ini tenggorokan kering."
Rania mengambilkan tehnya, dan berusaha sekuat tenaga untuk membicarakan hal yang tadi, Irsyad menyesap tehnya.
"Sempurna..." Puji Irsyad.
"Yang sempurna siapa? Aku apa teh?"
"Mas," Rania duduk dan Irsyad memerhatikan tingkahnya yang seolah dengan nada sedih, ingin meminta persetujuan.
"Kenapa?"
"Aku mau mbak Nurul sama mas Onyon kerja di sini lagi! Nggak mau di gantikan orang lain, kasian lho mas..." Satu permintaan kali ini, apakah Irsyad akan menerimanya?
Karena mereka pula, rumah tangga Rania dan Irsyad berjalan, tanpa bantuan mereka, apakah Rania bisa menjalankan setiap harinya?
Nggak.
Jika Irsyad pagi-pagi begitu, berangkat pasti yang mengantarkannya mas Onyon.
Mereka di percaya oleh mamah dan papahnya Irsyad, untuk membantu beres-beres di rumah Rania dan Irsyad.
Benar-benar, mereka lah yang menjadi terbaik, selama ini mbak Nurul memberikan ilmu untuk Rania pelajari, tentang banyak hal.
__ADS_1
"Kamu dari tadi mikirin itu?" Terka Irsyad, benar saja untuk merayu suaminya ini sangat tidak mungkin untuk mengatakan 'iya'.
Takut sekali, Rania mengatakan dari tadi.
"Satu permintaan saja aku ingin mengatakan tidak tadinya, ya sudah tadi aku katakan iya. Berarti sekarang boleh nolak, ya?" Rania menggeleng.
"Kenapa nggak boleh? Yang punya rumah---" Rania membekap mulut Irsyad, untuk tidak mengungkit beberapa kejadian.
"Jangan marah lagi mas!"
"Siapa pula yang mau marah?"
Rania melepaskan jeratan tangannya yang menempel di mulut Irsyad.
"Ya kamu, marahnya seorang pendiam itu lebih parah ketimbang orang yang cerewet itu." Ujar Rania.
Benar saja, Irsyad orangnya pendiam, sekali marah langsung jadi.
"Hem, gimana ya?"
"Lapar ini mas, kalau nggak ada mereka rumah sepi rasanya. Kamu mau aku kesepian?"
"Jangan lah!"
Irsyad dengan berat hati, mengizinkannya dan Rania keluar dari kamar, menelepon mbak Nurul untuk pulang lagi ke rumah ini.
Bersambung...
Gimana ya?
Irsyad sanggup melihat istrinya kesakitan? Wah, bisa gawat nih, hihihihi😑😑, ya sudah lanjut bab selanjutnya ya?
Like dan komennya🤗
Terima kasih 😌🙏
__ADS_1
Jaga kesehatan ya teman-teman 👍