
Setelah selesai, Rania membayar taksinya dengan secara langsung.
Memasuki halaman rumah, mengetuk pintunya. Tidak di kunci sama sekali, mendengar suara bentakan. Rania menuju ruangan yang ia dengan ada suara bentakan kasar dari mulut suaminya itu. Melihat mbak Nurul dan mas Onyon memohon ampun kepada Irsyad agar tidak memecatnya.
Karena jika ada apa-apa harus melapor dengan majikannya, apalagi dengan istrinya yang sakit dan mereka tidak berbicara apa-apa kepada Irsyad.
"Ada apa ini, mas?"
"Sudah, silakan kalian pergi dari sini! Dan itu pintu, saya mau sekarang juga kalian bereskan pakaian kalian!" Dengan nada dingin.
Irsyad tidak memedulikan Rania yang membeku dari beberapa centimeter dari arahnya.
Apalagi ada pecahan gelas, dan di atas lantai, berceceran air yang berwarna oranye, dan kuning-kuning.
Pasti itu jus jeruk.
Mas Onyon membantu mbak Nurul berdiri, dan melangkah keluar dari arah pintu, mbak Nurul memegang pundak Rania.
Rania pun memeluk erat mbak Nurul.
Mbak Nurul menangis, dan Rania mengelap air mata mbak Nurul.
"Ada apa mbak?" tanya Rania dengan berbisik dan mbak Nurul tidak berani menjawab.
"Kami permisi dulu bu, maaf kalau selama ini menyusahkan ibu, dan kami berterima kasih banyak bu, sudah menerima kami di sini sebagai art (asisten rumah tangga), dengan berat hati kami harus pergi dari sini." Tutur mbak Nurul dengan melangkahkan kaki keluar.
__ADS_1
Rania mendekat ke Irsyad, Irsyad tidak mau mengalihkan tatapannya, dengan tatapan dingin dan tidak bersua. Adanya hembusan napas, Rania tidak berani berbicara, sebelum suaminya memulai pembicaraan.
Tapi, ini demi mbak Nurul dan mas Onyon, dia harus berani menentang keputusan suaminya ini, dan tidak seenaknya memecat art rumah.
"Mas..." Irsyad tidak bergeming dan menjawabnya, malah dirinya memilih untuk ke kamar.
Membanting pintunya.
Degh.
Ya Allah, miris sekali dirinya.
"Ya Allah, mas Irsyad di penuhi kemarahan dan tidak bisa menerima ini, ya Allah... Apa keputusan ku salah selama ini? Menutupi penyakit ku ini, aku harus bicarakan baik-baik masalah ini." Ucap Rania, Rania berjalan ke arah pintu depan rumah.
Menutupnya dengan mengunci, dan melepas tasnya, ia letakkan di atas meja makan.
Suaminya di landa kecewa dan marah, jika dirinya bohong selama ini dan tidak pernah buka-bukaan kepada suaminya.
Baiklah, ia siapkan mental dan bisa menghadapi amarah suaminya.
"Bissmillah..."
Rania membawakan teh hangat untuk suaminya, dan ternyata suaminya tertidur pulas di sofa, dengan posisi duduk.
Rania meletakkan tehnya di atas nakas samping lampu tidur.
__ADS_1
"Hem, kasian juga suamiku, ya Allah..." Rania mengambil selimut dan menyelimutkan ke tubuh suaminya.
Ada pergerakan, membuat Irsyad bergerak dan mengucek matanya.
"Maaf mas."
Irsyad membuang mukanya, dan selimutnya ia turunkan ke bawah kursi.
Rania hatinya sedikit bergetar, "Mas. Aku mau bicara sama kamu."
"Silakan!"
Rania mengeluarkan kertas yang ada di tas, dan kertas itu di bungkus oleh amplop putih yang bertuliskan rumah sakit tempat bekerja Irsyad.
"Ini mas, di baca dulu!" Rania menyerahkan kertasnya, dan Irsyad menerima kertas tersebut dari uluran tangan Rania.
Membuka lipatan-lipatan, dan kertas itu terbuka lebar dari lipatan-lipatannya.
Irsyad melototkan matanya, tidak percaya dengan hasil yang di tunjukkan oleh rumah sakit bahwa istrinya telah mengalami penyakit tumor ganas, kanker otak.
Hasil tersebut menjelaskan, jika istrinya harus segera di operasi dan tertanda tangan, dokter Fadli di atas kertas itu.
"Kamu..." Tidak bisa berkata, air mata Irsyad menetes. Dan ia memeluk istrinya, mengucapkan kata 'maaf' seribu kali, atas perhatiannya kemarin-kemarin maupun kemarahannya tadi yang ia besar-besarkan sampai Rania tidak berani berbicara.
Bersambung...
__ADS_1
Like dan komennya🤗
Terima kasih 😌🙏