Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Rania bertemu dengan dokter Fadli


__ADS_3

Rania berjalan ke ruangan dokter Fadli, dan mau masuk, Rania ragu. Ia mengetuk pintu terlebih dahulu, sepertinya dokter Fadli ada urusan.


Rania menunggu, ketika pintu terbuka. Berpas-pasan dengan suaminya sendiri.


Degh.


Bagaikan apa ini?


Matanya nggak mungkin salah 'kan, rahasia memang tak bisa ia sembunyikan lagi.


Irsyad menggelengkan kepala, apa benar ini istrinya. Lidah mereka serasa cekat sekali, dan kelu tidak ada yang berani berbicara.


"Eh, mbak Rania... Silakan masuk, mbak!" Dokter Fadli menyuruh Rania untuk masuk.


Rania berjalan masuk, pada akhirnya Irsyad menghalangi jalannya Rania untuk masuk ke ruangan dokter Fadli.


"Kamu mau konsul sama dokter Fadli?"


Rania mendongak, dengan mata tidak berani menatap secara langsung mata Irsyad.


"Ya sudah, masuk saja. Aku tunggu kamu di rumah! Sehabis ke rumah sakit, kamu pulang! Nggak usah kemana-mana." Ucap Irsyad dengan dingin dan melangkah ke ruangannya, dan tidak jauh dari ruangannya dokter Fadli.


"Rania, kenapa kamu? Ya Allah, apa istri ku ada gangguan atau penyakit... Entahlah, aku harus batalkan operasi hari ini." Irsyad minum air, tenggorokannya serasa kering.


"Sus..." Panggilnya dengan membereskan tas kerjanya dan memakai snelinya.


"Iya, Pak. Loh, bapak kok mau pergi. Mau kemana, Pak? Besok 'kan mau berangkat ke Papua, Pak. Dan sekarang bapak juga ada jadwal operasi 'kan?" Suster bingung dengan penampilan Irsyad ini.


"Saya, izin dulu Sus... Saya mau urus istri saya, karena ada beberapa hal penting Sus."

__ADS_1


Suster itu menatap dokternya, "Tapi, Pak?"


"Besok bisa di ganti dengan dokter yang lainnya, dan hari ini bisa 'kan, di ganti dokter umum?" Suster menggeleng.


Irsyad menghela napas, "Oke, tapi bisa di majukan operasinya jam ini. Dan besok bisa di ganti, gimana?"


Suster terkejut.


Mendadak bingung, "Tapi, dok? Konsekuensi, kita juga belum ini siap. Dan dokter lain masih mengecek pasiennya, kalau sekarang tidak bisa, dok." Jawab Suster itu.


Irsyad menggertakkan giginya, serasa ingin marah. Tidak, ini rumah sakit. Jika, ia marah di sini, yang ada dokter-dokter mengecamnya, dan bisa jadi ia di pecat dari rumah sakit ini.


"Kalau begitu, saya pulang dulu. Dan tolong kabari ke grup whatsapp. Oke, maaf kalau nggak bisa karena saya ingin menemani istri saya yang sakit." Irsyad terburu-buru keluar, dan berjalan ke lift, menggunakan lift, ia pun keluar. Sampai di temui beberapa dokter.


Dengan mengemudikan kecepatan sedang, dan sampailah di rumahnya.


Mas Onyon dengan cepat membuka gerbang rumah, karena dengan nada amarah Irsyad menyuruh mas Onyon cepat membuka gerbangnya.


Iya, kalau marah menakutkan sekali. Sampai satu rumah kena semprot amarahnya.


Irsyad melemparkan kunci mobil ke mas Onyon. Dan terkejut lagi, hampir saja serangan jantungnya mulai bergerak.


Irsyad melemparkan tas kerjanya, dan snelinya ke kursi. Menggulung bajunya sampai lengan.


"Mbak..." Seru Irsyad dengan berteriak.


"Iya, Pak. Ada apa bapak?" dengan langkah keserimpet.


"Tolong buatkan saya, jus jeruk! Jangan pakai es, dan gula banyak-banyak!"

__ADS_1


"Baik, Pak." Jawab mbak Nurul, ser-ser, bulu kuduknya di tangan merinding, lemas.


"Ya sudah, sana!"


Mbak Nurul segera pergi dari pandangan majikannya, dan bernafas lega.


"Ya Allah selamat... Eh kenapa bapak marah ya? Waduh, dan bukannya bapak tadi bilang ada operasi. Dan sekarang bapak sudah pulang? Apa ada masalah di rumah sakit? Udah, udah... Sekarang waktunya membuatkan jus jeruk buat bapak." Mbak Nurul bereaksi, dan mengupas jeruknya. Sampai tangannya ikut terkelupas.


Darah segar mengalir di bagian kulit jeruk, dan segera mbak Nurul cuci bersih.


Perih sekali.


Aduh, kalau ia teriak pasti majikannya akan menyalahkan dirinya. Yang tidak becus membuat jus jeruk ini.


Sementara Rania, membelikan makanan yang ingin ia makan di rumah. Apalagi suaminya pulang, tapi ia sedikit kaget dengan tatapan suaminya tadi.


Mengelus dada, dengan nada bicara dingin dan kelopak matanya terbuka lebar-lebar.


Kata dokter Fadli, operasinya akan di undur beberapa hari ke depan jika siap menanggung segalanya. Dan ia sudah mendapatkan surat untuk di tanda tangani oleh suaminya.


Meminta persetujuan.


Menatap nanar di atas kertas itu, jika penyakit tidak segera di operasi. Maka, luka yang ada di otaknya itu akan melebar kemana-mana.


Ya Allah.


Bersambung...


Jangan lupa like dan komennya πŸ€—

__ADS_1


Jaga kesehatan teman-temanπŸ‘, terima kasih


πŸ˜ŒπŸ™.


__ADS_2