
Happy Reading
Sore pun tiba, acaranya sudah selesai dan Rania bangun dari tidurnya.
"Allhamdulilah, udah seger lagi." Rania bangun dari ranjang dan memakai sandalnya.
Melangkah dengan pelan-pelan dan membuka pintunya, di luar ada orang-orang yang masih mengobrol, tetapi tidak banyak.
"Udah pulang apa belum ya?" Rania melangkah ke dapur untuk mengambil minum, serasa tenggorokannya kering dan bibirnya pecah-pecah.
Umi sedang membersihkan dapur, melihat Rania yang ke dapur, membuat Umi mendekati Rania.
"Kamu mau apa nak? Kok udah bangun sayang. Bukannya tadi tidurnya pules banget ya." Ucap Uminya dengan membawa kain lap dan mengelap piring.
Degg...
Astagfirullahalazim, ya Allah...
"Sampai Umi malu sama kamu, bukannya apa-apa. Kita malu nak, sama keluarga Irsyad. Memangnya kamu kenapa tadi?"
"Maaf Umi tadi Nia, ngantuk bener jadinya Nia pulang ke rumah." Rania mengelus dadanya dan berkata istighfar.
"Iya kamu itu memalukan tau. Wajah Abi sama Umi mau taruh mana nak?" Abi yang melangkah ke dapur, mengambil tehnya.
"Maaf Abi, Umi, Nia ngantuk banget jadinya mau gimanapun Nia pulang."
Nia menundukkan wajahnya dan meremas beberapa buku jarinya.
"Oh gitu, alasan kamu. Oke, tanggal pernikahan kamu di ajukan nanti sekitar tanggal dua puluh februari nanti. Sekarang tanggal lima belas jadinya kurang berapa hari lagi. Kamu harus siap dan harus menerima semuanya!" Ucap Abi memakan pisang goreng buatan Umi.
__ADS_1
"Iya Abi, Umi. Kalau begitu Nia mau cuci baju sama mandi dulu ya Umi, Abi."
"Iya... Sekalian bersihkan kamar mandinya ya. Itu udah agak lumutan jadinya harus bersih biar nanti nggak kepeleset." Ucap Umi dengan arogan, iya sedang di rudung amarah karena Rania memalukan sekali.
"Assalamu'alaikum..."
"Waalaikumsalam," Ucap keduanya. Rania melangkah ke kamar mandi dan membawa beberapa bajunya yang ingin di cuci.
"Adek..." Rayhan yang tau keberadaan adeknya, yang membawa keranjang dan isinya pakaian.
"Bang, udah pulang dari masjid?"
"Iya. Kamu kok di sini, bukannya abang tadi udah bilang kamu istirahat dek!"
"Anu bang, ini soalnya udah banyak cucian jadinya adek harus nyuci bang." Rayhan menggelengkan kepalanya dan mengelus kepala Rania yang di baluti kerudung.
"Tapi bang, aku harus gerak jugaan. Kalau nggak gerak, badanku sakit semua bang."
"Yaudah kalau begitu, abang ambilkan airnya dulu. Kamu tunggu di sini!"
"Abang aku nggak mau merepotkan abang, takutnya nanti Umi sama Abi curiga bang."
Rania tidak mau, kalau penyakitnya akan di ketahui oleh Abi dan Uminya. Bisa-bisa nanti dia yang merepotkan mereka berdua.
"Nggak akan dek, InsyaAllah abang akan jaga baik-baik amanah itu dek."
Rania mengangguk dan mengambil sikat lantai sama pewangi lantai.
Rania menyikat lantainya sampai mau terbentur dengan dinding karena lantainya licin.
__ADS_1
***
Setelah selesai semua, Rania meletakkan ember nya ke kamar mandi, sedangkan Rayhan ngorok-ngorok di kursi kayu yang di buatnya dengan rakitannya sendiri.
"Aduh bang kamu capek apa gimana?" Rania menghampiri Rayhan yang ada di kursi. Rania membangunkan Rayhan.
"Abang.."
"Iya dek, kenapa butuh sesuatu?" Rayhan mengigo dan meraba-raba pecinya.
"Nggak bang. Sekarang udah mau maghrib nih, ayuk bangun bang! Nanti di marah sama Abi tau rasa lho." Rania tersenyum dan tertawa akibat tingkah Abangnya.
"Iya dek. Astagfirullah..." Rayhan gelagapan dan hampir kejentus dinding.
"Abang matanya di buka, jangan di tutup terus!"
"Hehehe iya dek." Dengan menggaruk tengkuknya karena merasa ada yang aneh.
Perasaan di ranjang, kenapa di kursi samping kamar mandi lagi?
Aduhh... Ngimpi
Bersambung...
Jangan lupa Like dan Komentar Positif ya
☺☺☺, di tunggu teman-teman 👍👍👍
Terima kasih atas dukungan dan kehadirannya teman-teman 🙏💕
__ADS_1