
"Sayang, bangun yuk! Makan dulu." Ucap Irsyad selembut bulu sapi, eh bukan lembut bulu sutra yang tebal itu.
"Aku nggak lapar, mas. Makanan tadi aja belum ke makan, mubazir jadinya." Ucap Rania dengan memunggungi suaminya itu.
"Iya, tapi makanan tadi sudah begitu sayang. Ini ganti makanan baru ya!" Dengan begitu Rania malas, ia bangun dan menatap lemas ke arah suaminya itu.
"Kenapa, humm?"
"Nggak ngapa-ngapain, cuman males aja liat makanan ini. Nggak ada rasanya," Celetuk Rania, Irsyad menggeleng.
Benar ini saja katanya ia, tak akan ia makan sampai itu nasi udah di makanin si ulat-ulat.
Irsyad duduk di atas ranjang, "pingin sembuh?" Ajaknya dengan lembut dan Rania mengangguk.
"Ya sudah, makan dulu ini."
"Makasih, mas... Tapi, aku mau ke kamar mandi boleh? Aku mau ini, cuci muka sama wudhu." Ucap Rania, Irsyad mengangguk dan mengantarkan Rania.
"Sampai sini? Atau mau ke dalam?"
"Sini saja! Aku cuman sebentar, nanti di panggil lagi." Jawab Rania, dan Irsyad menunggu di luar.
Ketika ada suara ketukan pintu, membuat ia bergusar melamunkan apa yang ia lamunkan sekarang.
"Assalamu'alaikum," Suara yang membuatnya lolos dari terjangan maut seribu kali.
"Astagfirullahalazim," Gumamnya. Umi pun tergesa-gesa masuk ke dalam dan menerobos masuk karena cerita yang membuat Kirana bercerita kepada Umi dan Abi.
__ADS_1
"Maaf ya nak," ujar Abi dengan hormat.
"Wa'alaikumsalam, iya nggak papa bi..." Ia mengalami mertuanya kali ini, sampai lupa mau menjawab salamnya.
"Rania kemana, syad?" Pertanyaan Umi, yang membikin Irsyad menggedik bahunya, dan ia sadar jika istrinya ada di dalam kamar mandi.
"Iya, ada di dalam kamar mandi."
Setelah menit di lewati, Rania meminta Irsyad sudah ada di depan pintu. Dan Rania membuka pintu kamar mandi, seketika ia terkejut. Kenapa orang tuanya ada di sini?
Benar-benar dugaannya selama ini menjadi kenyataan, mereka pasti akan menginterogasi ia dan suaminya.
Irsyad membantu Rania berjalan, dan Rania pun berbaring di ranjang.
"Rania..." Umi pun menerjang pelukan ke Rania, ia dekap hangat-hangat anaknya itu.
Irsyad hanya diam, dan membenarkan selimut Rania yang terlepas.
Hanya kata 'maaf' yang selalu di ucapkan hati ke hati. "Kenapa kamu nggak ngomong sama Abi dan umi, nak?" Cecar Umi dengan di iringi isakkan tangisannya.
"Umi, jangan gitu dulu! Biarkan kita tenang, dan lebih legowo lagi. Jangan mencecar anak! Pasti ada alasannya sendiri kok." Pesan Abi, Abi menyuruh Umi untuk tenang, dan Irsyad mau berkata apa lagi?
Jika orang tua sudah tau anaknya sakit, bagaikan kecambah ia sayangi setulus hati dan sehidup semati, akan di perjuangkan. Dia hanya orang ketiga, setelah kedua orang tua Rania.
"Maaf, aku mau keluar dulu ya... Aku ini mau beli makanan," Irsyad undur diri, dan pamit kepada istrinya untuk keluar.
Rania hanya mengangguk, Irsyad mengelap air matanya dan memeluknya.
__ADS_1
"Sudah, kasian mereka... Nanti ikutan haru, aku pun mau nangis tapi aku tahan." Gumam Irsyad, ia terkekeh dan Rania memukul pelan dada Irsyad.
"Makasih..."
"Untuk apa?"
"Ya, sudah jagain aku dan khawatirkan aku selama aku di operasi." Irsyad pun tersenyum dan menggeleng. Rania mencium tangannya, lantas Irsyad beranjak dan berpamitan kepada mereka.
"Na, kamu sekarang gimana keadaannya?" Umi mendekat, dan ikut naik ke atas ranjang.
"Nggak papa kok, mi... Cuman agak mendingan, kerasa sendiri tapi seneng nggak bisa ngerepotin orang-orang terdekat, allhamdulilah kata dokter Rania sudah sembuh hanya ada bantuan sampingnya. Beberapa bulan, harus menjalani kemoterapi agar sel-sel kanker nggak tumbuh lagi, mi... Udah nggak papa kok, yang penting umi sama Abi do'a yang terbaik untuk Rania, Rania pasti sembuh." Jelas Rania, ia percaya jika orang tuanya ini menyayanginya yang jelas sejak kecil sampai besar, ia bisa tumbuh dengan baik tanpa bantuan orang lain.
"Maafkan umi sama abi ya, ketika di saat kamu minta tolong, kami tak ada untukmu." Ucap Umi dengan terharu, abi mendekat.
"Kamu kuat, nak! Seperti kakek mu. Jadilah perempuan yang benar-benar hebat, seperti kawat yang nggak mudah di patahkan orang lain, hanya saja yang menusuk adalah jari-jari gerigi yang membuatnya sakit perlahan." Abi mengelus kepala Rania, Rania tersenyum.
Kuat seperti baja, timah. Itu tidak mudah, hanya ada duri yang menusuk ke dalam, menjadikan dirinya sosok yang lemah.
Bersambung...
...Gimana nih? Mau sampai bab 100 lebih, tapi nggak sanggup 😷... Aduhh, kayak ada beban... Tapi ingin melihat, gimana mereka mengurus anak, dan yang kelanjutannya di K B M_ A P P itu yah, boleh mampir. Si anaknya Rania sama Irsyad, tapi cuman lika-likunya aja di sana. Gimana dapetin suami tapi, yah Tuhan berkata lain, sebenarnya author ya yang berkata lain 😂. ...
Judulnya : "Menikah Dengan Dokter"
Jangan kasih tanda petik, bakalan nggak ketemu🤣... Apa nggak cari aja di instagram, linknya, boleh di baca lewat link kalau yang nggak mau lewat aplikasi.
Instagram : @dindafitriani0911
__ADS_1
Itu, ya boleh di follow kalau minta follback boleh DM ya, biar makin deket aja sama pembaca😍.
Makasih teman-teman ❤