Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Memanggil


__ADS_3

Rania masuk ke dalam kamar, dengan menyematkan rasa kepalanya yang agak samar-samar pusing dan Rania baru ke inget kalau dirinya telat meminum obat.


"Astagfirullahalazim, ya Allah baru inget aku. Kenapa bisa-bisanya aku lupa sih?" Rania pun membuka laci yang sedang ia kunci selama ini. Sampai menaruh kuncinya pun diam-diam. Tidak pernah sekali Irsyad curiga dengan Rania.


"Aduh obatnya habis lagi, ya Allah kuatkan hambamu ini ya Allah..." Rancau Rania, tubuhnya limbung dan tidak kuat menahan rasa sakit yang ada di kepala Rania.


"Apa aku harus keluar meminta bantuan sama mbak Nurul?" Rania terus menahan rasa sakit dan sesak di dada. Sampai ada muncratan darah yang keluar dari mulutnya.


"Astagfirullahalazim, ya Allah. Jangan sekarang aku nggak mau kalau mbak-mbak Nurul melihat! Hamba tidak ingin merepotkan beliau ya Allah." Rania pun mengambil gelas yang ada di meja nakas dan meminumnya.


"Allhamdulilah, ya Allah terima kasih..." Rania bangun dari lantai dan mengelap muncratan darah tersebut sampai matanya seperti menghitam, redup sekali pandangannya.


"Ada apa ini lagi?" Sungguh tidak bisa berkata, Rania duduk di tepi ranjang dan ingin sekali dia keluar meminta bantuan.


Tapi, Rania tidak mau kalau suaminya akan tau tentang penyakitnya sendiri. Walaupun, Irsyad seorang dokter. Rania tidak akan bisa membongkar penyakitnya itu.


Kata dokter padahal Rania di minta segera melakukan operasi tumor otak tersebut, jika tidak kankernya akan menyebar kemana-mana.

__ADS_1


"Mb---baa---kkk, mb... aaaakkk... Ya, Allah... mbak Nurul... Ya Allah..." Pekik Rania dengan memegang kepalanya yang sudah muter-mutet sampai Rania tidak kuat lagi menahan sakit yang ada di kepalanya. Rania akhirnya ingin sekali meminta tolong, tapi yang di minta nggak dengar. Aduh, bisa gawat ini mah!


Rania mengesot dan dengan bertahan, ia menarik handle pintu. Saking kepalanya sudah sakit dan terasa kunang-kunang.


Pandangan juga kabur, Rania akhirnya ambruk di depan pintu. Dengan pintu terbuka lebar-lebar, subhanallah...


Pasti mbak Nurul bisa jantungnya kumat ini, sampai tidak tau tentang Rania sendiri.


***


Dan mencuci tangannya yang sedikit perih dan sampai saatnya mbak Nurul sudah berprasangka buruk, pikirannya sudah melayang sejak tadi.


"Ibu... Ya Allah, jangan ampe ada yang terjadi sama ibu! Apa aku harus ke kamar ibu ya? Memastikan semuanya aman." Akhirnya pikiran sudah tercabik-cabik sampai di mana mbak Nurul berjalan menuju kamarnya Rania sama Irsyad.


Telepon jadulnya berbunyi keras, menggelegar satu rumah. Mbak Nurul mengambilnya dari saku celananya, "huh dasar mas Onyon lagi." Seperti ekspresinya tidak suka dan melayang seperti benda yang tak berguna.


"Apa?"

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, ibu... Jangan main apa-apa gitu, nggak sopan." Jawab mas Onyon.


"Iya maaf Pak. Assalamu'alaikum warohmatulohi wabarakatuh. Bapak, ada apa kok telepon?" tanya mbak Nurul dan si seberang sepertinya sudah kesambet duit ini.


Hatinya gerung-gerung kayak orang.


Karena gajinya mas Onyon di naikkan hari ini, mbak Nurul heran sama suaminya sendiri.


Padahal yang tiap hari membereskan rumah siapa? Kok ya dapet bonus aja borp-boro. Mbak Nurul dari dulu menunggu bonus gaji ataupun penaikkan gaji.


Sedikit ada tunjangan tiap bulan.


Bersambung...


Jangan lupa like dan komennya teman-teman 😊😊😊, selamat menjalani ibadah puasa ramadhan 🤗🤗🤗


Terima kasih 😌🙏

__ADS_1


__ADS_2