Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Pindah Rumah


__ADS_3

Happy Reading


Pagi buta, Rania membantu Uminya yang ada di dapur dan semua orang masih molor di ruang tamu yang sudah di sediakan untuk tidur bersama-sama.


Sedangkan, Irsyad ke masjid melakukan sholat subuh berjama'ah dan mendengarkan ceramah yang selalu di lakukan oleh setiap ustaz pondok pesantren Darunnajah.


Memberikan ilmu dengan baik dan insyaallah akan selalu mengalir sampai tua nanti. Anak dan cucu harus di ajarkan, kalau mereka tidak tau apa-apa. Apakah bisa nanti membimbing anak dan cucunya ke depannya lagi?


Rania badannya sedikit pegal-pegal, dia dan suaminya himpit-himpitan sampai napasnya sesak. Dan Rania memilih untuk tidur di bawah saja ketimbang sempit.


"Eh Ibu, kok sudah bangun." Ucap Rania dengan memperhatikan Ibu Irsyad yang mendekati-Nya.


"Sudah nak. Kamu kok bangun pagi-pagi buta kayak gini. Bukannya, ini."


"Nggak papa kok bu, soalnya ini lagi masak buat kalian semua. Jadi, nanti kalau nggak keburu masak gimana?" Rania meletakkan ikannya di baskom dan membersihkannya dengan air.


"Ya kita nanti kan bisa kerja sama terus saling membantu lah. Oh iya umi kemana kok nggak ada?" Ibu Irsyad duduk di kursi kecil dan membantu Rania, membersihkan ikan lautnya.


"Umi lagi ke kebun tadi, cari sayuran yang buat di jadikan lalapan sama di sayur. Nggak usah repot-repot bu, ini juga sudah selesai." Ucap Rania, mengucurkan krannya dan mengosok-gosokkan ikannya agar bersih.


"Nggak papa nak, ibu juga mau bantu."


"Kalau gitu, ibu ngupas bawang merah sama bawang putih saja bu. Itu letaknya di lemari bawah ya, bawangnya."


"Iya nak, ibu ngupas aja bawangnya. Kamu nggak papa kan kalau nggak di bantu?"

__ADS_1


"Nggak kok. Ibu nanti nggak betah lagi sama bau amisnya. Kalau tangan ibu amis siapa yang repot? Ibu nanti marah-marah." Ucap Rania, Ibu akhirnya memilih untuk mengupas bawang daripada bau amis.


Bukannya nggak mau, tapi nanti bisa jadi guyonan orang lain lagi.


***


Setelah selesai semua, matahari pun tiba dan berada sekitar di jam setengah tujuh pagi.


Masakan sudah terhidangkan semua di meja makan, ada santan ikan lele, lalapannya, ada sambal terasi, sayur asem, telur dadar, ayam balado, dan ada beberapa makanan pendamping lainnya.


Mereka sudah bangun semua, ada yang mandi, ada yang mencuci baju, ada juga yang membersihkan rumah. Semua kerja sama dan gotong-royong saling membahu.


Setelah semua kegiatan pagi ini selesai, mereka semua makan bersama.


***


Rania sekarang ada di dalam kamarnya, menyiapkan beberapa baju untuk di bawa ke rumah Irsyad nanti, sedangkan Irsyad di luar, mengobrol dengan saudaranya dan sepupunya.


"Allhamdulilah semuanya sudah selesai, sekarang waktunya mandi terus siap-siap berangkat."


Rania mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi, melakukan rutinitas mandinya.


Selesai melakukan rutinitas mandinya, Rania memoles diri dan mempercantik diri, padahal make-up sisa kemarin masih menempel di wajahnya.


Irsyad yang masuk secara tiba-tiba, membuat Rania terkejut karena dia tidak memakai kerudung. "Astagfirullahalazim... Mas, kamu ini kalau masuk salam dulu." Ucap Rania dengan dingin dan Rania teringat, baru beberapa jam dia menjadi istri Irsyad. Kok sudah mengucapkan kalimat kasar, membuatnya sedikit malu.

__ADS_1


"Maaf, tadi aku buru-buru. Ya sudah kalau gitu, udah selesai kan. Kita berangkat sekarang ya." Ucap Irsyad dengan lembut dan Rania malu sekali, mukanya mau di buang kemana ini?


"Iya maafkan aku tadi ya mas, soalnya aku kaget sama mas yang tiba-tiba masuk kamar begitu saja. Jadinya, aku lebih hati-hati." Sesal Rania.


"Iya nggak papa kok, aku mau ganti baju dulu. Kamu boleh keluar sebentar!"


"Ya aku mau keluar, sekalian mau pamitan sama Umi dan Abi."


Rania keluar dan membawa beberapa barangnya, melangkah ke ruang tamu. Ternyata, semua orang sudah bubar dari rumah Rania.


"Umi," ucap Rania memeluk Uminya dan Abinya dengan erat, dan menangis dalam pelukan mereka berdua. Air mata mereka juga lolos begitu saja, mengecup kepala Rania dan mengusap tangan Rania.


Irsyad yang ada di belakangnya Rania, ikut sedih hatinya dan menyalami mereka berdua.


"Nak, tolong jaga anak kami ya! Kami sudah menyerahkan semuanya kepada kamu, jadi harap menjaga anak kami baik-baik. Kamu bahagiakan, jangan sampai kamu meninggalkannya! Kalau kamu menyakitinya, bawa Anak kami PULANG KE SINI LAGI!" Ucap Abi dengan kalimat terakhirnya, dengan penekanan.


"Iya bi, saya kan sudah berjanji dan itu semua di saksikan oleh semua orang dan Allah SWT. Jadinya, saya akan menepati janji saya." Ucap Irsyad dan Abi mengulas senyum.


"Kalau begitu, kami pergi dulu ya bi, mi. Assalamu'alaikum..." Rania menggelengkan kepalanya dan Umi menganggukan kepalanya, agar Rania mengikuti suaminya.


Akhirnya Rania dan Irsyad pergi dari kawasan pondok pesantren, mobilnya sudah jauh dari pandangan Umi dan Abi.


Bersambung...


Jangan lupa Like dan komentar positif 🙏😊

__ADS_1


__ADS_2