Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Pertanyaan Irsyad


__ADS_3

Rania membereskan beberapa belanjaan di atas meja, mbak Nurul menyiapkan masakan untuk makan malam nanti. Rania beranjak bangkit, dirinya mencari suaminya ke kamar.


"Assalamu'alaikum, mas..." Rayna menyembulkan kepalanya ke kamar, tidak ada siapa-siapa.


Kemana suaminya itu?


"Ini, apa? Coba di baca dulu." Rania membuka kertas itu yang sudah ada huruf-huruf yang tertulis di situ, mengeryitkan keningnya.


"Oalah, berarti tadi mas Irsyad kembali ke rumah sakit. Ya sudahlah, mending mandi dulu dan tunggu mas Irsyad setelahnya." Rania berdiri, ketika ingin memasuki kamar mandi, beriringan dengan Irsyad yang akan masuk ke kamar.


"Assalamu'alaikum," seru Irsyad yang meletakkan tas kerjanya di atas meja.


"Wa'alaikumsalam, mas sudah pulang?" Rania tidak jadi untuk melakukan rutinitas mandinya, lebih baik menemui sang suami dulu. Irsyad kemudian menghilangkan rasa lelahnya. Lalu, duduk di tepi ranjang.


"Iya, maaf kalau tadi nggak ngomong sama kamu, tapi aku sudah buat suratnya." Ujar Irsyad dengan tersenyum, ketika istrinya mencopot sepatu dan Irsyad duduk di tepi ranjang. Menatap istrinya yang sepertinya sedikit pucat bibirnya.


"Kamu sakit?" Tukas Irsyad.


Menggelengkan kepalanya, Rania bingung ini pasti bibirnya juga belum pulih sepenuhnya dan pastinya akan sering seperti ini.


"Nggak, mas. Aku nggak sakit, cuma saja agak capek ini badan. Lelah duduk terus, mau cari aktivitas di luar sama kamunya juga nggak di bolehin." Rania memasukkan sepatunya ke keranjang kotor, biarkan besok ia cuci dan bersihkan.


"Iya 'kan mau gimana lagi coba? Itu sudah kewajiban suami untuk menafkahi seorang istri, tetapi kalau kamu mau keluar, belanja dan cari makanan, boleh kok nggak melarang." Ucap Irsyad dengan memegang tangan Rania, agar Rania mendekat di sampingnya.

__ADS_1


"Mandi dulu! Ada kuman nanti yang nempel, bisa aja sakit. Udah aku mau siapkan air hangat dan keperluan mu untuk mandi." Rania pun menyiapkan air hangat di kamar mandi, lantas Irsyad mengecek handphone.


Siapa tau ada info. Tidak ada, aman.


Dia matikan daya agar tidak ada yang meneleponnya ketika sudah bersenang-senang sama sang istri, memanjakan buah pisangnya di dalam apalagi menyusuri lorong buah pepaya.


Sedap, rasanya.


Sudahlah, itu sudah menjadi kewajiban suami istri untuk melakukan ini dan itu.


"Ehem..." deheman Irsyad tidak Rania gubris karena dirinya sedang menyiapkan baju untuknya dan suaminya.


Irsyad mendekati Rania yang menutup tubuhnya di lemari, Irsyad menjahili Rania.


"Sabar... Mau mandi nggak?" sambung Rania meletakkan baju di atas ranjang.


"Iya, mau mandi ini. Mandinya sama kamu tapi! 'Kan katanya Pak ustaz, kalau suami minta nafkah batin harus di turuti nggak di tunda-tunda. Dan aku juga lelah sebenarnya, nanti kalau malam kamu pun beralasan ngantuk lah, tunda besok dulu. Lah minta pagi pun nggak di turutin juga, ya udah sekarang di kamar mandi aja yang aman. Aku lelah, capek dan letih, memangnya nggak kasian sama pisang ku di dalam?" Rania menggeleng.


Ada-ada saja ini suami, iya benar Irsyad cuma mengeluh setiap hari karena hasratnya belum tersalurkan juga dari awalan menikah bersama Rania.


Cuma satu kali saja menjelajahi buah pepayanya Rania, dan itu dengan keadaan yang cukup membahayakan juga. Di rumah mertua, dan apalagi pintunya pun tidak di kunci.


Membuat mereka kepalang habis ketika di temui secara mentah-mentah, oleh abi dan uminya Rania.

__ADS_1


"Oke... Iya, aku mau... Tapi pagi saja, biar agak sedikit ini..." Irsyad pun menggendong Rania dengan cepat, tanpa basa-basi walaupun Rania meronta-ronta untuk di lepaskan.


"Eh sebentar!" di dalam kamar mandi mereka belum melakukan, dan masih memakai pakaiannya masing-masing.


Irsyad ingin bertanya tentang siang tadi, siapa yang ia jumpai tadi. Dan hampir wajahnya sama dengan istrinya.


"Kamu tadi di rumah sakit?" tanya Irsyad secara tiba-tiba, bagaikan si rambut Rania rontok seketika.


Kenapa bisa tau jika dirinya ada di rumah sakit? Atau mbak Nurul yang membongkar nya?


Tapi, Rania tidak boleh salah paham dulu. Biarkan alasan yang akan ia susun, untuk menjawab pertanyaan Irsyad tadi.


"Nggak kok mas, palingan kamu salah liat. Aku sejak tadi ada di mall dan toko-toko yang kita kunjungi untuk berbelanja." Jawab Rania, Irsyad mengangguk.


Lantas Irsyad pun memulai aksinya dan tanpa banyak waktu. Padahal dokter Fadli meneleponnya beberapa kali, handphone tidak aktif semakin di telepon beberapa kali sama saja hasilnya nihil.


Hahaha... Banting aja besok si Irsyad.


Biar kagak lama-lama lagi hidupnya.


Bersambung...


Jangan lupa like dan komennya 😊😊😊

__ADS_1


Terima kasih 😌🙏, sehat selalu ❤️


__ADS_2