
Irsyad pun berpamitan untuk menjaga istrinya, yang sekarang sudah ada di ruang perawatan sepertinya.
Dan bisa jadi harus konsultasi dengan dokter Fadli, apakah sudah sembuh total atau belum?
Sepertinya, harus menjalankan kemoterapi terlebih dahulu ataupun jika sembuh total, harus mengunjungi dokternya, di berikan obat dulu dan menunggu perkembangan selanjutnya.
Irsyad menarik handle pintu, tetapi Fadli menarik bahunya.
Kaget, hampir saja ia akan lari kecirit-cirit, karena ia trauma dengan jenazah yang ia temui dulu.
"Mau kemana, bro?" Fadli terkikik geli.
"Sukanya ngagetin saja… Huh dasar, teman apa bukan sih?" Desis Irsyad.
"Ini, saya mau berbicara sama anda. Temui di ruangan saya, ya! Saya tunggu!" Fadli menepuk bahunya.
"Jangan sok formal, lo!" Teriak Irsyad, lalu ia membekap mulutnya, takut ketauan sama dokter lain jika kelakuannya seperti ini, ya ini juga bagian rumah sakit pemiliknya atas nama Irsyad, tapi mau gimanapun harus menjaga kesopanan.
"Aku masuk? Atau langsung ke sana ya? Tapi, kayaknya ada suster di dalam, coba ngecek dulu lah." Irsyad pun mendorong pintunya, dan di sana istrinya masih terbaring lemah.
Semuanya itu karena efek obat-obatan, maupun suntik bius yang menjalar di tubuhnya tadi, untuk menghilangkan rasa nyeri dan tidak bisa melihat langsung operasinya bagaimana.
"Oh ada…" Gumam Irsyad.
__ADS_1
"Pak, semuanya nanti ada di dokter Fadli, saya di sini cuma suster jaga untuk istri bapak." Ucap suster itu dengan sopan.
Irsyad membalasnya dengan senyum tipis, lalu ia berdalih, melangkah mendekati istrinya yang masih setia tidak ingin membuka matanya.
"Cepat sembuh ya, istri ku!" Dengan usapan lembut, dan menyapa pipinya, ia tinggalkan kecupan hangat di pipi istrinya. Agak susah memang, karena posisi tidak memungkinkan.
Di kepala, ia takut jika istrinya masih kesakitan karena di situ luka yang sudah di obati namun belum kering.
"Saya tinggal dulu, kamu jaga istri saya!" Irsyad membenarkan selimutnya yang menutupi bagian tubuh istrinya dan ia benarkan posisi tangan istrinya itu.
Suster hanya mengulum senyum, karena ia tidak mau membantah. Jika, tidak.
Perlahan ia akan di pecat dan tanpa pesangon, lalu hidupnya yang di penuhi oleh hutang dan tidak bisa di lunasi, menunggak sampai bertahun-tahun. Akhirnya ia hidup gelandangan, mending jadi suster di sini walaupun ia bukan anak lulusan kampus seenggaknya bisa di percaya oleh rumah sakit ini.
"Baik, Pak. Sesuai permintaan," Irsyad pun melangkah keluar dan suster itu bernafas lega. Nggak sempit amat hidupnya, yang penting berkecukupan.
Padahal bapaknya yang tajir melintir dulunya, sekarang ke plintir ke dunia bawah… Eh, kebalik balik ke dunia bawah, dan ia harus mendapatkan uang setiap hari.
Ya, sudah takdir memang berkata lain.
Irsyad yang berjalan menengok ke arah yang ia tuju, siapa itu?
Bukannya ia pernah melihat perempuan itu? Seenggaknya ia bisa mengenali, dan mampu mem-flashback masa lalunya yang pernah bertemu dengan perempuan itu.
__ADS_1
"Eh, nggak… Aku harus nemui Fadli dulu, yang ada dia ngaco nanti dan menduga aku gitu-gitu sama istri ku, itu orang agak n-g-e-r-e-s," Ucap Irsyad yang melangkah ke ruangan Fadli.
Sepertinya ada aroma minyak wangi dari istrinya Fadli, beuh siall…
Ternyata ia lagi gitu-gitu.
Irsyad pun kembali ke ruangannya saja, daripada menunggui orang yang tidak jelas itu. Melakukan di tempat kerja pula, kalau ketangkap basah bagaimana?
Dimana wajah si dokternya?
Irsyad mengintip kembali, makin panas dan panas, ia semakin gregetan dan akhirnya memilih untuk mengerjai mereka.
Mengetuk pintunya dan mereka pun memberhentikan aksinya, batinnya meronta-ronta.
Sama saja Irsyad.
Kasian si Irsyad, nanti nggak ada yang nemenin tengah malam. Dan yang ia peluk dengan erat, sepertinya belum ia eratkan.
"Ehem…" Yang punya wajah tak berdosa pun masuk, dan dokter Fadli gelagapan, ia mengambil air minum.
Istrinya tercirit ke kamar mandi, lari sampai mau kejentus pintu kamar mandi. Padahal masih hamil, dan Irsyad hanya menelan tawanya untuk tidak keluar.
Bersambung...
__ADS_1
Jaga kesehatan ya semua, jangan ampe kena penyakit ini itu, terus musimnya sekarang orang sakit. Pokoknya ndak boleh kendor, prokesnya 🌺
Makasih kawan ❤