Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Persiapan Operasi


__ADS_3

"Mah, kakak kemana sih?"


Dengan lembut, mamah mengusap-usap tangan Kirana, sementara bentar lagi akan berangkat ke kampus. Apakah kakaknya akan datang?


"Mah, ini mesti gara-gara kakak Rania deh, nggak izinin mas Irsyad buat ke sini. Huh, dasar istri macam apalagi?" Kirana membicarakan dengan seenak jidat.


Papah menepuk pundak Kirana.


"Kamu lulusan di Madinah, selama strata satu kamu di pelajari banyak hal di sana. Dan di sini kamu mengambil jurusan keagamaan juga, kenapa kok main tebak gitu aja dek? Nggak boleh menyangka-nyangka gitu, apa kata dosen nanti? Adek akan di cap sebagai---" Papahnya mengingatkan. Karena memang itu ilmu kemana perginya?


Kirana bergeming, "Pah, sudah! Berangkat saja dulu, siapa tahu kakak mu berangkat langsung ke sana." Mamah memberikan senyuman hangat, hanya saja Kirana memberikan balasan tersenyum kecut.


"Kalau gitu, kita mampir ke rumah Ibra dulu Pah, sepertinya lupa atau nggak ada urusan si Rania sama Irsyad." Papah mengangguk setuju.


"Nggak usah, mah, Pah. Mending kita berangkat dulu, daripada kita nunggu mas Irsyad." Sepertinya Kirana sudah marah, dan tidak bisa ia tahan, papah mengerti hal ini.


"Yang sabar nak! Karena kita nggak tau 'kan kalau kakak mu mempunyai masalah ataupun urusan lain, 'kan kita masih bersama. Nggak usah begitu, papah sama mamah ada..." Papah pun memberikan semangat.


"Ya betul kata papah mu," Mamah menggandeng Kirana dan Papah yang ada di depan, bersama sopir. Sedangkan, mereka berdua di kursi penumpang.


"Ini langsung ke kampus Pak?"


"Iya, ke kampus saja Pak!"


***


Irsyad menyiapkan makanan untuk Rania, ia sampai ribut sendiri menyiapkannya.


"Mas, sebaiknya mbak Nurul dan mas Onyon suruh ke sini lagi. Mereka 'kan bisa membantu kita, daripada kamu yang kerepotan." Ujar Rania dengan mengambil mangkuk yang ada di tangan Rania.

__ADS_1


"Yah, nanti aku suruh mereka ke sini lagi. Sedikit lagi masih kecewa sih, tapi cucian sudah menumpuk. Nggak mungkin 'kan aku kerjain sendiri," Sahut Irsyad, Irsyad membantu Rania untuk duduk.


"He'eh, aku mau minta susu dong mas." Pikiran Irsyad mulai merana, tidak ia hari ini fokus kepada istrinya, untuk segera sembuh.


"Ya, tapi susunya habis Na... Nggak ada, awalnya aku mau buatin tapi ya sudah aku buatin kamu ini, minuman hangat di kasih madu. Biar lebih seger," Ujar Irsyad dengan mengelus hijab Rania.


"Hem, nggak papalah. Oh iya, dokter Fadli udah pulang?" Rania mengaduk buburnya, lalu ia makan. "Fadli sudah pulang dari tadi, sepertinya ia kelaparan di sini. Dan nggak betah, hahaha..." Rania menepuk punggung Irsyad.


"Heh, kok gitu sama temen."


"Yaelah, temen macam apa dia itu? Nggak perlu di kasihani," awas saja lu Syad nanti kena karmanya sendiri biar tau rasa.


"Husstt, udahlah aku mau makan dulu. Eh iya mas, nanti kamu ikut operasi aku nggak?" Irsyad termenung.


Lantas ia menggengam tangannya dan ia meraih tangan sang istri, "Nggak Na, aku nggak kuat malahan menahan air mata nanti." Rania tersenyum dan menahan sesak di dada.


Ia bertahan sampai suaminya benar-benar melihatnya bahagia.


***


Rania sudah siap di ruang UGD, yang sebentar lagi akan di pindahkan ke ruangan operasi. Irsyad mewanti-wanti kepada temannya ini.


Jika nyawa istrinya tidak selamat, maka siap-siap kepala Fadli akan di tebas dan di gelindingkan seperti bola, oper sana-sini.


"Sabar ya, kuat kok pasti... Nggak sakit, cuma butuh beberapa jam, setelah itu kamu sembuh. Hanya Allah yang tau, kita hanya berusaha, lawan takut mu itu, nggak usah memikirkan hal yang aneh-aneh." Irsyad sejak tadi memperjelas agar semuanya tidak kaku dan cemas.


"Ya, mas... Aku kuat kok," Rania memberikan senyuman hangat, ingat hari ini, ia masih selamat atau tidak?


Karena yang Kuasa berhak yang tau dari segalanya, jika Rania di cabut nyawanya sekarang Rania siap, karena setiap makhluk hidup akan kembali ke tempat asal semulanya.

__ADS_1


Tapi, menurut Irsyad amit-amit jika ia menduda sekarang, karena hal itu tidak Irsyad tunggu. Istrinya sudah ia katakan, orang kedua di dunia ini selain ibunya, karena itu Irsyad gigih untuk menyemangati istrinya supaya bahagia dan memancarkan cahaya yang awalnya redup, kembali terang benderang.


***


"Gimana, sudah siap bu, Pak?" tanya suster yang mendorong ranjang pasien menuju ruangan operasi.


"Bissmillah, InsyaAllah Allah akan selalu melindungi mu, Na." Mengecup kening istrinya dan memantapkan hatinya, biar serasa plong jiwa dan raganya.


Akhirnya gesekan roda menuju ruangan operasi membuat Irsyad seketika merinding, setiap kata pasti akan benar-benar terjadi.


Irsyad berkomat-kamit mendo'akan agar semuanya berjalan dengan normal, dan sesuai kenyataan yang ada.


Aamiin.


Fadli yang menuju ruangan operasi, di hentikan langkahnya, Irsyad menatap dengan tajam, seperti membunuh orang.


"Santayy bro, jangan terlalu di ambil hati! Sudah serahkan semuanya kepada ku, sama paman ku yang sudah ada di dalam." Irsyad mengepal tangan.


"Awas saja!!! Dan aku mau tanya keadaan Rania gimana buat ke depannya?" Fadli terkekeh. "Kamu ini, belum melakukan operasi kok sudah tanya ke depan... Ya sudah, tunggu saja hasilnya... Allah memberikan kesempatan bagi siapapun yang berhak untuk sembuh, sudah aku ke ruang operasi dulu... Assalamu'alaikum," Ucap Fadli dengan melangkah gontai.


Perasaan Irsyad ragu-ragu, tapi ini demi kebaikan sang istri, ia akan sanggup tidak boleh cengeng.


"Wa'alaikumsalam," sampai ia lupa menjawab salam dari yang di ucapkan Fadli barusan.


Dimana mukanya selama ini, menjadi seorang dokter melihat istrinya sakit ikut terbawa alur dalam cerita.


Bersambung...


Dag-dug sweerrr, adoh kenapa ya hari ini kayak di kejar-kejar deadline tugas, dan buat novel 🙃, sepertinya lelah sudah🥴.

__ADS_1


Okelah bye-bye, makasih.


__ADS_2