Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Sesuatu Yang Terjadi


__ADS_3

"Mah," Menatap keheningan dan Rania hanya bisa diam. Tidak berani memulai pembicaraan, Rania pun di dapur, uminya dan abinya ada di dapur.


"Umi... Abi," serunya dan Rania menatap mereka seperti ada yang ingin disampaikan.


"Kenapa umi, abi? Kok wajahnya tegang gitu." Tanya Rania dan umi melihat, mengidentifikasi Rania ke sana.


"Kasian itu mamah mertua kamu, mau gimana pun seorang ibu tidak bisa namanya terpisah dengan anak perempuannya. Sepertinya mamah mertua kamu itu, sudah benar-benar memilih Kirana sebagai anaknya sendiri didalam hatinya, lubuk hatinya pasti terluka." Ucap umi dan abi menyeruput teh yang ada dihadapannya.


"Iya sebenarnya." Jawab Rania singkat. Mendengar jika Rania dipanggil oleh suaminya, Rania pun keluar. Dan melihat mamahnya sudah ada dibawa abangnya dengan terburu-buru. Irsyad menatap istrinya dengan cemas, "kamu di rumah dulu! Mas mau ke rumah sakit, kasian mamah." Dan Irsyad berjalan ke mobil dan masuk ke dalam mobil, melajukan dengan kecepatan sedang untuk segera ke rumah sakit.


Rania menatap hening didalam rumah, dan ada kakak iparnya sedang momong anaknya. "Mbak... Eh, lucunya... Namanya siapa nak?" Rania menghampirinya, anak kecil itu memainkan mainannya dan mendongakkan kepalanya ke atas.


Terkikik geli, dan langsung memeluk ibunya. Rania tersenyum hangat, "Eh Nia... Kemarin belum nyapa sama sekali ya. Maafin mbak, mbak sibuk ngurusin nih... Anak kecil, nggak bisa ditinggal apalagi kalau dekat sama orang. Malu, kamu udah sembuh 'kan?" Namanya siapa, lupa?


"Iya mbak, allhamdulilah ya Allah masih memberikan kesempatan untuk sembuh dan bisa melihat nyata, begitulah kekuasaan Allah sesungguhnya dalam alam semesta ini." Ucap Rania dan mbak Mutia tersenyum, meletakkan tubuh sangat anak. Sepertinya perutnya membegah jadi rasanya begitulah, apalagi sudah 8 bulanan jadinya agak sesak nafasnya.


"Sini sama tante yuk! Kasian itu ibu kamu..." Rania mengajaknya dengan berkenalan, ketika Mutia pergi, anaknya ngintil dibelakang dan mengejar ibunya.


Sebenarnya itu anak pemalu, bukan takut.

__ADS_1


...***...


Setelah bermain-main, Rania ke kamarnya. Melihat adik iparnya itu lagi apa? Masih di kamar sepertinya. Rania membuka pintunya dan adiknya di sana siap-siap membereskan koper-koper.


"Kirana kamu mau kemana kok beres-beres gini? Dan kopernya besar amat, mau pindahan apa gimana?" Ia bingung. Kirana hanya menatap lesu dan duduk di ranjang.


"Ya gitulah, mau gimana lagi mbak... Aku di sini kayak nggak dianggap sebagai anak sendiri, gimana perasaan mbak jika diposisi ku? Pasti mbak akan nangis gulung-gulung, tapi orang tua menganggap kita itu cuman ya begitulah... Kayak, anak itu seolah-olah dipermainkan hatinya. Mbak pasti kecewa." Dengan leleran air mata dan isakkan tangisan membuat semuanya pecah.


Rania menenangkan adik iparnya dan tangan Rania menyentuh kulit kepala Kirana, mengelap keringatnya yang keluar dari tadi. Membasahi peluh dahinya, lehernya pun sama. Basah, Rania hanya menatap belas kasian.


Pantas saja mamah tadi tidak terima jika Kirana dipulangkan ke Madinah, tapi ini juga demi kebaikan Kirana sebenarnya. Mana ada orang tua menelantarkan anaknya seorang diri, nggak ada!


Sosok semangat, yang tak lain adalah keluarganya sendiri.


Rania tidak bisa tahan di posisinya dan yang pasti meninggalkan rumah pelan-pelan tanpa ada jejak sama sekali, biarkan orang tuanya pusing memikirkan dimana letak anaknya?


"Kamu basuh wajahmu! Lalu, lakukan do'a maupun kamu baca Al-Qur'an biar tenang dan makin semangat, kamu setelah membaca Al-Qur'an maka kamu tidur. Biar nggak makin melebar masalahnya," Rania mengelus-elus punggung adiknya itu.


"Semua orang cuman menganggap masalah ini sepele, dengan mudahnya menanggapi akar masalahnya pun sepele. Kapan ini selesai mbak? Aku mau sama dengan teman-teman ku, disayangi sama orang tua. Nggak ada mereka namanya ini dan itu," Ya... Ini anak nggak bisa jika mandiri, anaknya manja sekali kemungkinan tapi nggak diraut wajahnya yang masih menggenang air mata itu.

__ADS_1


Kini berubah menjadi marah, dan lari kedalam kamar mandi. Meredamkan semua emosinya, apalagi Kirana tidak bisa di tengok lagi wajahnya.


Rania hanya beristighfar dan berusaha untuk menenangkan adiknya Irsyad itu, tapi bagaimana lagi? Rania menunggunya sampai keluar. Ia khawatir jika Kirana bunuh diri didalam kamar mandi, atau ada yang lain, melukai dirinya dengan cara yang aneh. Rania menggeleng, jangan sampai dugaannya benar-benar terjadi.


Ia menggedor-gedor pintu, sampai terdengar di dapur dan Mutia yang ada di kamar.


Mutia pun menengok di kamar adik Yahya itu dan di sana Rania sungguh cemas, "Semua gara-gara Mas Yahya ini. Nggak akan jadinya begini kalau mas Yahya bilang ini-itu," Gumamnya dan Mutia masuk ke dalam kamar.


"Dek, kenapa? Ada apa sama Kirana? Kok kamu kek sport jantung gitu," Udah tau ini lagi dalam keadaan darurat. Rania tidak bisa menjelaskan, ia menggigit bibirnya. Jika terjadi apa-apa, nanti yang dipikirkan mereka akan menyalahkan semuanya pada Rania.


Tapi, nggak. Bukan salahnya ini!


"Mbak, Kirana--"


...Bersambung... ...


Jangan lupa like dan komennya 🤣.


Aku mau update secara terpaksa ini mah, karena badanku remuk redam gini ☺.

__ADS_1


Makasih lah ya untuk kalian semuanya 🤗, pokoknya beribu-ribu hektare dah... 😶 daripada nggak di sebutin🙂 ...


__ADS_2