
Setelah selesai cek-up Rania dan mbak Nurul menuju ke mall. Untuk berbelanja bulanan, jika tidak membawa barang takutnya Irsyad akan curiga dengan mereka berdua.
"Ibu nggak usah pilih-pilih biar saya saja yang memilih." Mbak Nurul membawa kotak ranjang dan memilih-milih barang yang akan di beli.
"Iya." Balas Rania dengan mengintip sekitarnya.
Ada tempat yang paling nyaman jika dirinya berbelanja, memilih buku-buku yang ingin ia beli juga. Ada toko buku di sebelah sana, tetapi entah nanti ketauan atau tidak?
Jika mbak Nurul bingung mencari Rania, mau gimana? Dirinya harus menunggu dan ikut turut membantu.
"Mbak yang ini, boleh?"
"Boleh kok bu, asalkan yang enggak yang aneh-aneh semacam barang yang nggak di cap kehalalannya maupun BPOM RI-nya." Balas mbak Nurul yang menggaruk pipinya, rambutnya di kuncir dan semuanya pun pas di tubuh mbak Nurul, tapi alangkah baiknya jika memakai kerudung.
Rania sejak tadi melihat mbak Nurul, sambil keliling, mencari barang yang akan di perlukan dan di beli.
Tapi, Rania juga tidak memaksa untuk memakai kerudung, itu juga untuk kebaikannya sendiri. Rania hanya mengingatkan jika mbak Nurul keluar maupun di hadapan Irsyad, harus punya akal sehat. Tidak boleh memakai baju yang ketat dan terekspos sempurna tubuhnya.
Rania hanya mengingatkan itu saja.
"Mbak coba ini deh, kayaknya enak. Apalagi bentukannya ini," lah yang di ambil Rania itu barang yang selalu di inginkan dalam berumah tangga, padahal bukan makanan karena di sebelah sini tempat sabun-sabun maupun pewangi.
Rania memilih benda itu, pengaman untuk laki-laki katanya enak.
__ADS_1
Waduh mulai lah mbak Nurul menghela napas, ingin ia teriak dan tertawa tapi kasihan juga kalau majikannya di ketawain.
"Bu, jangan! Itu barang milik laki-laki." Sahut mbak Nurul dengan berbisik.
"Hah..." Melongo dengan keadaan sebenarnya, membelalakkan matanya.
"Ya Allah, kenapa nggak bilang? Pantesan empuk agaknya. Ya sudah jangan bahas itu lagi! Sekarang kita ke toko buku ya, mbak! Kan udah semua." Ucap Rania dengan pusat pandangannya ke toko buku.
"Oke... Yuk bu! Biar nanti mbak kasihkan sama mbak-mbak yang ada di kasir, terus kita cari-cari bukunya." Mbak Nurul pun mengasihkan semua barang belanjaan ke kasir dan mbak Nurul berlari menuju toko buku, tempat di mana banyaknya buku berjejer rapi.
"Ini... Ya Allah, kau ke pingin beli ini dari dulu, waktu itu nggak kesampean buat ke sini dan uangnya pun tidak cukup." Curhat Rania dengan mengingat masa mudanya yang lalu, memang sulit untuk ke sini. Dirinya harus menyisihkan uang sakunya untuk berjuang ke toko ini yang pastinya.
Tempat di kota lebih banyak tokonya, ketimbang ada di desa. Memang kalau di desa hawanya sejuk dan tidak panas, sesuai dengan arah angin. Apalagi kalau pagi pastinya dingin, di kota dingin karena AC.
Setelah melakukan tindakan operasi kepada pasien, Irsyad memilih untuk ke ruangannya, kembali dan menatap ruangannya dengan jejer-jejeran buku, yang harganya pun cukup memadai dengan ruangannya.
"Hah..." Irsyad mendesah napas berat, pekerjaan dokter memang tidak mudah. Dirinya pun mencuci tangannya dengan hand sanitizer dan mengaktifkan kembali handphonenya.
"Loh kok nggak ada sekali pesan yang di tulis sama Rania di sini, ya. Apa dia nggak kangen sama aku?" Dengan pd-nya, dan suster yang menguping akhirnya menjebol perkataan Irsyad yang tadi.
"Cieee... Kangen sama istri itu bapak, hahaha... Pak kalau mau pulang, pulang saja! Tidak ada jadwal dan besok lembur lagi Pak. Maaf ini saya mau ngasih jadwal bapak. Silakan di tanda tangani yang satu ini, Pak!" dengan menyerahkan lembar jadwal dan suster tersenyum cantik.
"Biasa saja kali woi, ini juga masalah saya. Kenapa kamu gitu?" Ucap Irsyad, memang asistennya ini satunya cukup jahil, dan asistennya pun sudah menikah, mempunyai tiga anak. Umurnya seumuran dan kuliahnya pun bareng dari dulu, sahabat sejak kecil dan ada darah yang melekat antara keduanya. Orang tua mereka sama-sama sedarah, maka dari itu kita sepupuan.
__ADS_1
Suaminya kerja di sini.
"Santai, hehehe..."
"Kamunya, sudah berkepala tiga mau ke empat masih saja begitu. Menggoda ku terus,"
"Ih ge'er amat kamu! Udahlah, aku mau ngurus dapur rumah sakit dulu. Ada resep baru katanya yang akan di buat dengan chefnya." Ujar asistennya itu berlalu meninggalkan Irsyad.
Mengacak-acak setiap bagian rambutnya.
"Ahhhh... Mending pulang, ketimbang di sini, agak nggak enak gitu." Menggeret jas dokter yang di sampirkan di kursi itu.
"Iyalah, karena sudah punya istri yang di sayang di rumah. Sana pulang! Hati-hati nanti malam, cepetan itu ya... Harus jadi pokoknya!" Ucap asistennya yang kembali menyembulkan wajahnya dari ambang pintu.
"Ck... Emang dasar asisten bodoh amat," Decak Irsyad.
"Kenapa dari dulu nggak pecat dia, tapi kinerjanya itu bagus dan pas semua di akunya. Terus nanti kalau di pecat, siapa yang akan menggantikan? Bagaimana pun itu sikapnya memang di batas luar kepala!" Ucap Irsyad, melayangkan jas dokternya ke udara dan ia pakai.
Menatap arlojinya, menunjukkan pukul sudah larut sore dan pastinya jalan begitu macet karena orang-orang yang bekerja kantoran ikut pulang.
Bersambung...
Like dan Komen... Gimana part selanjutnya?
__ADS_1
Hehhehe tunggu aja ya ☺☺