
"Ehem, gimana jadinya?" Dengan rasa tidak bersalah, Irsyad mengambil tempat duduk dan di hadapan Fadli sekarang.
Ia terkekeh.
"Bos, jangan ngelakuin kek ginian di sini! Takut nanti ada anak kecil ataupun itu orang yang masih jomvlo terus lewat dan mending, pintunya nggak kek gitu… Itu yah kasih hordeng kalau nggak mau ketauan, apa nggak di kasih papan di pintu… Jiahaha…." Bisik Irsyad.
"Oh makasih, maaf tadi…"
"Iya, itu…" Masih ada bekas merah di bibir Fadli, dan ia baru nyadar jika ada bibir istrinya yang tertinggal.
Dan Fadli mengambil tisu basah, ia mengelapnya.
"Makanya kalau ada janjian itu, jangan ngelakuin ini dulu. Tahan! Di mana nanti kalau wakil direksi tau, atupun di cek." Ucap Irsyad sembari menasehati.
"Ya-ya, kamunya juga nggak ketuk pintu dulu, salam lah atau gimana?"
Irsyad pun mendaratkan pantatnya di kursi sofa yang telah di sediakan untuk tamu, dan Fadli meminum air yang ada di botol mineral tersebut.
"Kamunya aja yang nggak nyadar, udah ketuk pintu. Tapi, nggak salam sih, salah ku kali ya ini. Eh, nggak ya tetap salah kalian. Oke, gimana keadaan Rania?" Ia tak mau memperpanjang masalah, ini menyangkut masa depannya yang akan melaksanakan honeymoon bersama istrinya di Paris.
"Sabar… Sabar, ini aku mau ngecek istri ku dulu, kok lama banget di kamar mandi." Jawab Fadli, membuat Irsyad tertawa.
"Ya udah ono, aku mau balik aja. Daripada menunggui kalian begini-begono, takutnya gua nanti jadi ini ya, lemper kali." Fadli mengeryit, dan mencegah Irsyad untuk keluar.
__ADS_1
"Oke, duduk dulu!" Akhirnya, ia pun sadar beberapa menit ia telah janjian sama Irsyad.
"Gimana perkembangannya?"
"Sesuai yang ada ya, ini istri mu harus menjalankan kemoterapi dahulu dan benar-benar di nyatakan sembuh, aku cuman mau mengingatkan jika sudah boleh di bawa pulang nanti, ingat obat terus kamu nggak boleh neken istri mu untuk melakukan ini dan itu yah… Ngerti 'kan, puasa kurang lebih satu bulanan ya… Sabar," Dengan muka jahat, dan Fadli pun menertawakannya.
"Husstt, mas nggak boleh gitu. Pak, maaf tadi atas kelakuan kami yang benar-benar di belakang itu, Pak." Istri Fadli pun menjabat tangan, tetapi hanya sebatas ini, karena mereka bukan muhrim.
"Iya, tapi jangan main di sini yak! Ono di kolong rumah sakit nggak papa, ya udah aku pulang dulu." Irsyad beranjak, dan istri Fadli mengekor di belakang.
"Mau kemana kamu, bu?"
"Ya kan, mau jenguk istrinya Pak Irsyad. Nggak papa, kan yah?"
Istrinya pun menimpuknya memakai tas yang berat tersebut, berisi dompet serta ATM, dan barang-barang yang berharga lainnya.
"Auuu…" Ringis Fadli.
"Makanya, aku mau keluar dulu." Ucap istrinya itu, Fadli pun mengejar istrinya.
Pada akhirnya mereka ikut menjenguk istrinya Irsyad yang terbaring di rumah sakit itu.
***
__ADS_1
Sementara abi dan uminya Rania ada di depan rumah Rania, Irsyad.
Mereka sudah memencet belnya sampai beberapa kali, tidak ada orang kah yang membukakan gerbang untuk mereka.
Biasanya ada pembantu yang membuka.
Tapi ini?
"Bi, apa kita telepon aja bapak sama ibunya Irsyad? Kan kita udah telepon mereka, tapi tetap saja nggak aktif." Ucap Umi dengan membawa beberapa barang untuk oleh-oleh Rania.
"Ya sudah, mending ke sana saja daripada kita nunggu di sini. Kita juga mau kemana? Ini tujuan kita, nggak ada yang lain." Umi mengangguk dan Abi mencegat angkot yang lewat, karena itu mereka ke sini dengan angkatan umum dari desa menuju ke kota.
Abi sudah tak mampu untuk menjalankan mobil yang ada di pondok pesantren, dan mobil pesantren pun masih di pakai untuk kondangan santri yang mengunjungi hajatan.
Mereka di sini tidak berbicara dengan Rayhan, kakak dari Rania. Bisa saja Rayhan yang mengantarkan mereka, dan Rayhan sekarang sudah menikah, bersama santri yang ada di pondok.
Rania bersama Irsyad pun tidak tau jika kakak mereka sudah menikah dalam jangka dekat ini, abi dan umi pun melesat ke rumah besannya dengan menggunakan angkot.
Bersambung...
Jangan lupa kasih like dan komentarnya ❤️
Makasih 🤗
__ADS_1