Suka Duka Bahagia

Suka Duka Bahagia
Operasi Rania


__ADS_3

"Fadli..."


Mulai membuang nafas, "Mau tanya tadi pasien yang baru saja keluar itu siapa ya namanya?"


Fadli menyatukan alisnya, dan ini sepertinya aku salah tangkap, jika Fadli benar-benar akan terbuka untuk pertanyaan ku yang akan aku lanjutkan. Ternyata, ia menutup rapat-rapat sepertinya.


"Ooh ya pasien lah om, masa ini om... Emangnya om kenal? Nggak 'kan?" tanya ia baik-baik.


Aku pun tersenyum, "Nggak tadi, cuma apa om yang salah liat atau gimana. Oh, iya namanya apa Rania tadi?"


"Hah, kok bisa tau om?"


"Nggak, jawab 'iya' apa enggak? Tinggal bilang gitu aja susahnya kamu ini!" Aku terbawa emosi, sabar dulu. Jangan sampai membuat keributan di sini! Apa kata Irsyad nanti?


Aku pun menghela nafas, "Iya om, maaf... Aku soalnya harus menutup rapat-rapat tentang perempuan tersebut, om... Katanya sih keluarganya nggak boleh tau, emangnya itu anak dari teman om?" Aku menggebrak meja.


"Sabar om!" Ia memenangkan ku, dan memilih untuk menatap ku dengan senyuman yang berarti.


"Oke, gimana?" Fadli memulai pembicaraan, dan sampai akhir aku mendengarkannya dengan baik dan teliti.


Sampai aku menganga, dada ku serasa sesak.


Apa ini?


Aku membaca dari hasil semuanya. Jika menantu ku memang divonis penyakit kanker otak stadium 2 menuju ke 3.

__ADS_1


Ya Allah, miris kali liatnya.


***


Author POV


Mamah pun menangis terisak, sampai lemas badannya. Kenapa tiba-tiba hari ini, sebuah keniscayaan buat anak perempuan keduanya setelah beberapa tahun berjuang untuk meraih gelar sebagai seorang sarjana dan magister.


Artinya semuanya hampa hari ini.


Dan untuk menantunya?


Mamah bergeming diam, hanya suara isakkan yang terdengar. Papah menenangkan mamah, sementara Irsyad menyesal.


Kenapa ia baru mengerti keadaan Rania sekarang? Jika istrinya sakit, ia tidak mengetahui itu. Suami macam apa dirinya itu?


Kenapa baru kepikiran sekarang?


Jauh-jauh hari, istrinya itu mengeluh pusing ketika di ranjang, hanya saja memuaskan hasrat cinta untuk menafkahi batin suaminya.


Benar-benar Irsyad kagum.


"Mah, pah... Aku ke sana dulu, nanti kalau ada yang perlu di bicarakan, tolong hubungi Irsyad. Kasian istri Irsyad," Papah mengangguk, menyuruh Irsyad segera menunggu istrinya.


Kasian Rania. Tidak ada yang menemaninya, sakit dan berjuang untuk sembuh. Seenggaknya Irsyad menemani istrinya dan menyemangati istrinya untuk bisa sembuh.

__ADS_1


"Ya Allah, lindungi lah istri ku dan semoga bisa sembuh dari penyakitnya... Aamiin.." Irsyad pun duduk dengan posisi mengangkat dagu ke atas, langit-langit seakan memberikan cahaya untuk Irsyad.


Jangan mudah pantang menyerah!


Sebaiknya jangan menyerah, karena membuat kegagalan itu melanda.


Masya Allah.


Irsyad mengusap seluruh wajahnya, sambil menatap lampu operasi yang masih menyala terang.


"Bissmillah sayang, muda-mudahan berjalan dengan lancar..." Semangat dan sesuai perintah Rania juga, nasihat yang ia dengarkan dari TV.


Kadang Irsyad mendengarnya, hanya sekilas.


Seumpanya Rania tidak ada, apakah Irsyad akan menikah lagi? Itu lah pertanyaan yang di berikan Rania dari dahulu kala.


Mulutnya berkomat-kamit untuk mendoakan sang istri dan adeknya.


Sementara dokter Fadli di ruangan operasi membedah isi kepala Rania, dan dengan keringat yang bercucuran. Ia fokus, dan pamannya ikut turut membantu dalam pasca operasi Rania ini.


Irsyad percayakan semuanya kepada dua orang itu, ia tidak bisa menemani sampai di meja operasi. Hanya melihat istrinya lemas, ia bingung tidak karuan.


Bersambung...


Adegan part ini sepertinya kurang dapet feelnya, nggak papa lah yang penting up... Selamat membaca kalian semua🤗

__ADS_1


Makasih yang sudah menemani cerita ini sampai sekarang ini. Masih bersambung yah, 🤭.


__ADS_2