TABIB KELANA

TABIB KELANA
ICU


__ADS_3

Walau pun hanya sejenak tapi sikapnya tadi masih sempat ditangkap oleh Tuk Udin dan Nenek Kam yang bermata tajam tersebut.


Mereka berdua sudah banyak makan asam garam kehidupan sehingga mereka sedikit mafhum apa yang ada dalam pikiran cucu mereka.


Mereka berdua tahu bahwa cucu kesayangan mereka merasa keberatan saat mendengar Mumu ingin segera pulang ke kampung halamannya tapi dia langsung segera menyadari bahwa sikapnya kurang pantas.


Bagai mana pun juga dia dan Mumu tidak mempunyai hubungan apa-apa, bahkan hanya sekadar bincang-bincang berdua saja tidak ada.


Nenek Kam yakin bahwa cucunya hanya sedikit penasaran dengan pemuda seperti Mumu dan tidak lebih dari pada itu.


Oleh karena itu dia ingin membuat Mumu menangguhkan kepulangannya walau pun sejenak sehingga bisa mengobati rasa penasaran cucunya.


Karena kadang orang yang penasaran bisa melakukan tindakan yang bo*oh dan tak masuk akal.


Tapi jika rasa penasaran tersebut sudah hilang maka tidak akan ada apa-apa lagi yang perlu dikhawatirkan.


"Bagai mana jika sebelum kamu pulang, kita makan dahulu, anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih Atuk dan Nenek kepada mu. Kamu belum pernah mencoba masakan rumah makan yang sederhana tapi rasanya membuat orang ketagihan kan?" Tanya Nenek Kam penuh harap.


Siti Aisyah menatap Mumu dengan pandangan cemas sambil bergumam di dalam hati, 'Mudah-mudahan dia mau...mudah-mudahan dia mau...'


Tuk Udin sedikit terkejut mendengar undangan istrinya kepada Mumu, tapi saat ekor matanya melihat wajah cucunya yang harap-harap cemas, dia pun mafhum.


Dengan senyum yang dikulum dia berkata kepada Mumu untuk menambah menguatkan perkataan istrinya, ibarat menyiram minyak ke dalam api agar apinya menjadi lebih besar, "Tak mungkin untuk makan sebentar pun kamu tak sempat Mumu. Kasihan Nenek mu. Jarang-jarang dia mau makan di luar. Biasanya walau pun dipaksa makan di luar, dia tak kan mau, ada-ada saja alasannya."


Melihat kekompakan suami istri itu, Mumu hanya bisa tersenyum pasrah, "Karena ini adalah undangan untuk makan bagai mana saya bisa menolaknya. Rezeki jangan ditolak, musuh jangan dicari. Kan begitu, Tuk, Nek."

__ADS_1


Mereka pun tertawa mendengar jawaban Mumu.


"Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo kita pergi." Tuk Udin pun segera berdiri yang diikuti dengan yang lain.


Siti Aisyah langsung melompat dan mengenggam tangan Nenek Kam dengan gembira. Dia tahu, Nenek Kam telah berusaha ingin menolongnya.


Saat melihat Pak Lukman dan Buk Juwita melangkahkan kaki mengikuti mereka, tampak kerutan di dahi Tuk Udin sembari berkata, "Lukman, kamu jaga rumah dan istrimu ya. Jangan ke mana-mana. Bagaimana pun juga rumahmu masih rawan terhadap gangguan yang tidak kita inginkan. Biarkan Aisy saja yang mewakili kalian berdua."


"Eh...!!??" Pak Lukman dan istrinya jadi salah tingkah. Mereka menghentikan langkah kakinya dengan bingung. 'Apa maksud orang tua ini tiba-tiba melarang mereka berdua?'


Mumu pun melirik Tuk Udin dengan bingung. Ia tak tahu apa misi Tuk Udin, tapi ia bisa memastikan bahwa alasan Tuk Udin supaya Pak Lukman menjaga rumah hanyalah omong kosong belaka. Apa yang mau dijaga? Apanya yang rawan?


Tapi Mumu tidak bermaksud untuk mengintervensinya. Ia hanya diam saja sambil terus berjalan ke luar seperti tidak mendengar apa-apa.


"Turuti saja apa yang dikatakan oleh Bapak mu, Lukman! Tinggal saja di rumah, biar Aisy saja yang menemani kami ke luar."


Dengan mengela nafas tak berdaya mereka kembali duduk di ruang tamu.


Tuk Udin membawa Mumu ke rumah makan 'Kantin Bude' yang merupakan salah satu rumah makan yang terkenal di kota Siak. Rasanya mantap dengan harga terjangkau.


Siti Aisyah mencoba mengajak Mumu ke dalam obrolan ringan. Selama duduk di dalam mobil mereka berdua saling bercerita, walau pun sebenarnya Siti Aisyah lah yang lebih banyak bercerita sedangkan Mumu memilih untuk menjadi pendengar yang baik.


Sesekali Tuk Udin ikut juga dalam pembicaraan mereka. Tanpa terasa mereka akhirnya sampai juga di rumah makan tersebut.


Nenek Kam memesan makanan berbentuk hidangan sehingga beraneka ragam makanan bisa dicicipi sesuai selera.

__ADS_1


"Ini adalah asam pedas ikan Kakap. Kamu harus mencobanya, Mumu." Tangan halus nan lentik Siti Aisyah mengambil ikan dari mangkok dan menaruhnya di piring Mumu. Dia melayani Mumu bagaikan istri siri yang melayani suaminya. Mumu jadi salah tingkah karenanya.


Melihat hal tersebut, Tuk Udin dan Nenek Kam hanya bisa tersenyum kecut, tak tahu harus berkata apa.


Awalnya mereka menyangka cucu mereka hanya sekedar penasaran dengan Mumu dan akan menjadi biasa lagi jika sudah saling kenal.


Apa lagi tadi Mumu sudah mengatakan bahwa ia hanya seorang pengangguran yang hanya tamatan SMA. Selain mempunyai ilmu pengobatan yang mumpuni, tak ada prospek jelas bagi masa depannya.


Walau pun sudah memahaminya dengan sangat jelas, malah cucunya terlihat semakin akrab dengan Mumu sampai-sampai Tuk Udin dan Nenek Kam hanya bisa saling pandang tak mengerti.


'Ada apa dalam pikiran si Aisy ini?'


Dalam pada itu Ambulance yang membawa istri Pak Dewan yang seharusnya langsung menuju ke Pekanbaru terpaksa memutar haluannya menuju arah RSUD Tengku Rafi'an kota Siak.


Hal ini dikarenakan kondisi istri Pak Dewan menjadi semakin kritis, jika dipaksakan mungkin saat sampai di Pekanbaru sudah tidak ada harapan lagi.


Oleh karena itu satu-satunya jalan, terpaksa minta dirawat sebentar di RSUD kota Siak menjelang kondisinya agak membaik.


Saat Pak Dewan sedang sibuk menjaga istrinya di ruang ICU, pria gemuk anggota dewan direksi mendekati drg. Saloka dengan wajah pucat dan berkeringat dingin.


Dia berkata dengan nada memohon, "Pak Dokter, tolong bantu saya, Pak. Saya tak sanggup menerima murka Pak Ketua saat dia keluar dari ruang ICU nanti." Tidak ada nada arogansi seperti saat dia menyalahkan drg. Saloka di ruang rapat karena telah merekrut Mumu tanpa musyawarah.


"Bagai mana saya bisa bantu Bapak? Saya juga dalam kondisi kesulitan sekarang." Tolak drg. Saloka dengan nada kurang senang. Bagai mana pun juga dia telah sering menginggung drg. Saloka selama ini.


"Jangan ngomong seperti itu, Pak." Ucap pria gemuk itu dengan panik. Dia lah yang menyarankan agar istri Pak Dewan segera dirujuk ke Jakarta. Jika bukan karena bujukan dia, kemungkinan istri Pak Dewan masih tetap di RSUD Selatpanjang. Jika ternyata keadaan istrinya tidak bertambah baik, maka pasti Pak Dewan akan melampiaskan amarahnya kepada pria gemuk itu.

__ADS_1


Dia merogoh sakunya dan menyerahkan kartu ATM, "Ini ada sedikit dana untuk keperluan Pak Dokter selama membantu Pak Ketua di sini. Jika Pak Ketua bertanya, tolong sampaikan permintaan maaf saya, saya terpaksa harus pulang sekarang karena ada meeting mendadak." Tanpa menunggu jawaban dari drg. Saloka, pria gemuk itu ngeloyor pergi.


__ADS_2