
"Apa maksudmu? Jangan bilang kamu merasa telah ditipu oleh bocah polos itu!" Tanya pria botak itu sambil terkekeh. Kedua pria yang lain pun ikut tertawa.
Awalnya mereka menyangka ada masalah besar yang sedang terjadi. Tapi ternyata hanya kekhawatiran tidak berdasar Sudir saja.
Sudir tidak memperdulikan sikap ketiga pria yang meremehkannya. Dia adakah seorang yang terbiasa berakting dalam melakukan sesuatu untuk mencapai tujuannya.
Dahulu dia pernah kuliah jurusan Seni, walaupun dia akhirnya di DO, tapi dia sudah banyak mendapat berbagai ilmu semasa dia kuliah dulu sehingga sangat bermanfaat bagi pekerjaannya sekarang ini. sehingga dia merasa ada yang salah dengan sikap Mumu.
Tapi dia terlambat menyadarinya. Bukan karena ilmunya kurang tapi akting Mumu yang terlalu lihai.
Jika bukan karena lenyapnya Jamal dan Sam secara tidak terduga, dia tetap tak akan menyadarinya.
"Ayo kita pergi! Saya kira Leman dan kawan-kawan tidak akan segera kembali."
"Kamu kok jadi paranoid begitu, Dir? Ada apa sebenarnya?" Pria botak itu tidak segera mengikuti ajakan Sudir. Sebaliknya dia mengeluarkan handphonenya dan menelpon Leman.
Sama seperti kasus Jamal dan Sam tadi, Leman pun tidak menjawab telponnya walai sudah ditelpon berkali-kali.
Wajah pria botak itu berubah tegang. Dia menoleh ke arah Sudir, "Apa sebenarnya yang telah terjadi, Dir?"
"Aku tak punya waktu untuk menjelaskan saat ini. Sekarang kita harus bergegas sebelum dia semakin jauh. Lagi pula hal ini masih setakat pemikiranku saja. Belum tentu terbukti." Kata Sudir. Dia segera berlari pergi dan diikuti pria botak dan dua kawannya.
Sudir berlari dengan sangat cepat. Tak lama kemudian dia sudah sampai di pertengahan jalan. Dia menarik nafas lega saat melihat Leman dan ketiga temannya dalam keadaan baik-baik saja. Ternyata dia terlalu memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Kamu terlalu memandang tinggi bocah culun itu, Dir! Nyatanya Leman dan yang lainnya baik-baik saja." Kata pria botak itu kepada Sudir dengan nada tak senang.
Dia sudah capek-capek berlari hanya karena sebuah pemikiran konyol Sudir.
"Hei, Man! Apa yang terjadi? Mana bocah itu?" Tanya pria botak itu sambil mendekati Leman dan yang lainnya.
Saat itu Leman dan kawannya sedang duduk bersimpuh di tanah.
Ada yang aneh terhadap mereka. Ternyata wajah mereka pucat dan keringat tak berhenti keluar dari tubuh mereka.
"Apa yang terjadi?" Pria botak itu menggoyang tubuh Leman.
__ADS_1
Hal yang mengejutkan terjadi. Sentuhan pelan tangannya telah membuat Leman jatuh tersungkur. Pria botak itu panik.
Dia menoleh ke arah Sudir yang berlari mendapatkan mereka.
"Mereka sangat lemah, Dir." Ucapnya.
Sudir memeriksa Leman dan ketiga temannya.
Tidak terdapat cedera atau luka di tubuh mereka. Hanya saja mereka berempat kehilangan tenaga secara aneh.
"Apa yang terjadi, Man?" Tanya Sudir setelah mengangkat Leman di bawah naungan pohon besar agar tidak kepanasan.
Leman berusaha mengucapkan beberapa patah kata, tapi lidahnya tak mampu bergerak saking lelahnya.
"Suruh kedua orang itu cari air! Mereka sangat kelelahan dan kehausan." Perintah Sudir.
"Hei, sini!" Pria botak itu melambaikan tangannya ke arah kedua temannya yang sedang bersandar di bawah pohon. Sebatang rokok terselip di bibir mereka.
"Dasar tak ada rasa kesetiakawanan, kawan sedang menderita, kalian berdua malah enak-enak saja duduk sambil merokok." Sungut pria botak tersebut.
Berbeda dengan pria botak tersebut, pandangan mata Sudir lebih jeli. Untuk memastikan pendapatnya, dia segera berlari menuju kedua orang tersebut. Melihat tindakan Sudir, pria botak itu segera mengikuti.
Sontak wajah Sudir dan pria botak itu berubah ketakutan.
Pria botak itu melihat sekeliling, 'mungkin hutan ini ada penunggunya' tanpa memandang Sudir, pria botak itu langsung berlari sekencang-kencangnya sambil berteriak, "Ampun....ampun...tabik datuk...anak cucu hanya sekedar lewat..." Dia terus berlari lintanng pukang. Rupanya dia menyangka ada hantu penunggu yang telah mencelakakan teman-temannya karena merasa terganggu.
Saat ini Sudir juga sangat ketakutan. Bedanya dia tidak percaya dengan hantu. Dia takut dengan Mumu. Ternyata tabib Muda itu sangat berbahaya.
Tak lama berselang, dia pun segera mengambil langkah seribu meninggalkan teman-temannya di dalam hutan.
Keselamatannya lebih utama!
Dia bersumpah, cukup sekali ini mencari masalah dengan tabib muda yang penuh rahasia tersebut.
...****************...
__ADS_1
Saat ini, Mumu sedang menikmati pemandangan lautan dari dalam kempang penyeberangan Sialang Pasung-Selatpanjang.
Setelah cukup memberikan pelajaran kepada Sudir dan teman-temannya, Mumu langsung melanjutkan perjalanan.
Dia sengaja menghentikan sistem saraf yang memberi sinyal dari otak ke bagian tubuh fisik sehingga seola-olah tenaga mereka hilang entah ke mana.
Satu bulan mengalami hal tersebut rasa-rasanya sudah lebih dari cukup menghentikan tindakan kejahatan mereka dengan harapan setelah itu mereka segera bertaubat dan tidak mengulangi tindakan mereka yang merugikan orang lain.
Sedang untuk Sudir dan pria botak itu, walaupun pada dasarnya mereka berdua tidak kehilangan tenaga karena sistem sarafnya dihentikan, pada hakekatnya mereka lebih sengsara.
Mereka berdua akan mengalami trauma. Jika tidak disikapi dengan bijaksana kemungkinan mereka berdua akan menjadi gi*a.
Mudah-mudahan hal ini bisa menjadi peringatan kepada yang memerintahkan mereka untuk tidak melanjutkan tindakan mereka.
Setengah jam kemudian kempang yang ditumpangi Mumu merapat dengan selamat di pelabuhan Selatpanjang.
Dalam pada itu Jefri sedang gusar. Dia uring-uringan sepanjang hari karena sudah berpuluh kali dia menelpon Sudir tapi tak diangkat. Di sms tak dibalas.
'Apa yang terjadi dengan si Sudir ini? Apa dia mangkir dari tugasnya setelah menilap duit saya?'
'Jika dia melaksanakan tugas itu, seharusnya sudah dari tadi dia melaporkan hasilnya.'
Jefri terus bersungut-sungut sepanjang waktu.
Saat dia mulai lelah karena marah, tiba-tiba sebuah sms notifikasi muncul di layar handphonenya.
Notifikasi pemberitahuan sejumlah uang telah masuk ke rekeningnya.
Jefri terperangah. Jumlah uang yang masuk sama dengan jumlah yang dia transfer kepada Sudir untuk melakukan tugas yang telah dia berikan.
'Apa maksud semua ini?'
Dia berniat menelpon Sudir sekali lagi. Sebelum dia sempat menelpon, masuk sebuah pesan, 'Mulai hari ini kita tidak ada kerja sama lagi, Jef. Kami mundur. Duit yang kemaren sudah saya transfer. Jangan pernah hubungi saya lagi.'
Jefri hanya bisa melongo. Jika dia tidak bekerja sama dengan Sudir, bagaimana dia bisa mengelola beberapa hal di kampungnya.
__ADS_1
Selama ini hanya Sudir yang bisa dia percaya. Mengapa dia tiba-tiba memutuskan hubungan kerja? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Jefri semakin bingung.
Apakah dia akan terus melanjutkan rencananya atau dia memilih menyerah saja sampai di sini?