
Orang-orang itu terus memperluas pencarian mereka. Semak-semak diterabasnya hingga rebah di tanah.
Setengah jam berlalu tapi tiada hasil. Akhirnya mereka kembali berkumpul di hadapan Bos.
Saat ini si Bos tidak bisa bersikap tenang seperti sebelumnya. Dia mengisap rokoknya dengan cepat tanpa sempat menikmatinya sama sekali.
Setelah membanting rokoknya yang masih tinggal setengah itu, dia menyapu pandangannya ke arah Feri dan anak buahnya yang lain.
"Sebarkan semua anggota. Kepung lokasi ini. Jaga setiap jalan dan gang. Periksa setiap orang yang keluar masuk dari daerah ini. Aku tak mau kita sampai kecolongan. Jika perlu periksa setiap rumah penduduk yang sekiranya ada hal yang mencurigakan. Tanyai mereka. Jika perlu kasi imbalan jika masyarakat bisa memberikan informasi yang valid. Jika memang dia telah ditolong oleh seseorang, aku rasa dia belum pergi jauh. Tidak mudah membawa orang yang sakit tanpa menarik perhatian dari orang-orang. Periksa juga Pustu dan Puskesmas terdekat. Begitu juga dengan RSUD.
Jaga juga setiap persimpangan dan pelabuhan-pelabuhan tempat penyeberangan kempang maupun kapal.
Jangan sampai dia lolos dari kota ini, walaupun kemungkinan itu sangat kecil tapi aku tak mau menanggung resiko."
"Baik, Bos!" Jawab mereka serempak.
"Ingat! Aku tidak menerima segala bentuk kegagalan. Feri, jika ada di antara anggota yang tidak bekerja dengan keras, langsung beres dia dan keluarganya. Faham!"
"Siap, Bos." Jawab Feri dengan bersungguh-sungguh.
Sedangkan anggota lain saat mendengar perintah Bos, badan mereka langsung gemetar ketakutan.
Mereka masih sanggup menerima hukuman, tapi jika keluarga mereka juga harus dibinasakan, mereka tal sanggup menerimanya. Membayangkan hal itu membuat mereka bergidik ngeri.
Memang mereka telah berbuat kejahatan entah sudah berapa kali saking banyaknya. Tapi di saat keluarga mereka ikut terancam, hati nurani mereka tidak terima.
Seperti yang diduga oleh pimpinan penjahat itu, Mumu dan Pak Hilman masih berada tak jauh dari lokasi pencarian mereka.
Bedanya saat ini Pak Hilman tidak lagi dalam keadaan sakit dan tidak berdaya.
__ADS_1
Selain luka di perutnya yang sudah diobati oleh Mumu sebelumnya, baik tulang yang patah pada kedua tangan dan kakinya serta matanya yang memar dan bengkak sekarang sudah tidak ada lagi.
Dia sudah kembali sehat seperti sedia kala.
Mereka terus menerobos semak sehingga muncul di sebuah gang. Mumu tak tahu gang apa namanya itu.
Tapi ia tidak berpikir terlalu lama, ia dengan cepat membawa Pak Hilman secepatnya untuk menjauhi daerah itu takut ketahuan sama para penjahat itu.
Menurut Pak Hilman, dia sudah diburu oleh para penjahat itu beberapa bulan yang lalu.
Dia tidak menceritakan dari mana asalnya dan apa masalahnya sehingga Mumu pun merasa kurang bijaksana jika ia mencoba untuk terus bertanya.
Prioritasnya hanyalah menolong Pak Hilman agar bisa pergi dari kota ini dengan selamat.
Mereka terus berjalan menuju pelabuhan Tanjung Harapan Selatpanjang. Untunglah para penjahat yang berdiri di setiap persimpangan tidak memeriksa mereka berdua dengan seksama karena mereka tidak akan menyangka bahwa target mereka sudah sembuh dan sehat wal afiat. Lagi pula Pak Hilman sudah mengubah sedikit penampilannya sehingga wajahnya tampak berbeda.
Jika saja mereka tahu bahwa target mereka berjalan dengan santai menuju pelabuhan mungkin mereka akan menumpahkan seteguk darah.
Jam 8.30 wib, Pak Hilman bisa bernafas lega. Akhirnya dia bisa berangkat ke pekanbaru tanpa ketahuan oleh para pengejarnya.
Dia berulang kali berterima kasih kepada Mumu karena telah banyak membantunya.
Mulai dari mengobatinya tanpa pamrih, membawanya ke pelabuhan dengan resiko ditemukan dan dikenali oleh para penjahat itu, bahkan membayar tiket kapalnya. Selain jam yang melekat di tangannya, Hilman tidak mempunyai apa-apa lagi. Dompetnya hilang entah ke mana.
Saat dia meminta nomor rekening, tapi Mumu dengan tersenyum telah menolaknya secara halus. Niatnya hanyalah menolong dengan ikhlas, bukan ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan.
...****************...
Di sebuah rumah sederhana di jalan Sempaya, Seno sedang uring-uringan. Sesekali dia menjambak rambutnya seperti sedang menyesali sesuatu.
__ADS_1
Seharusnya hari ini adalah hari yang bahagia bagi dia dan keluarganya. Bagaimana tidak, semalam sore istrinya sudah melakukan test pack dan hasilnya sungguh di luar dugaan.
Hasilnya positif, yang artinya istrinya akhirnya hamil. Tanpa sadar Seno dan Marini meneteskan air mata. Tentu saja air mata bahagia.
Selain gembira dengan istrinya akhirnya bisa hamil, Seno juga sangat bahagia, bahwa ternyata dia memang mempunyai kemampuan dan tidak ada yang salah dalam dirinya.
Kehamilan ini juga sebagai pertanda genjatan senjata terhadap prahara rumah tangga mereka dalam beberapa hari ini.
Yang lebih penting lagi, kehamilan ini juga sebagai alat untuk membungkam mulut tetangganya yang suka nyinyir itu sehingga tidak ada lagi ucapan 'Kapan hamil? Kapan punya anak? Si A sudah punya anak sekian, kamu kapan lagi?'
Seno tahu penyebab kehamilan ini adalah karena dia telah mendapatkan kemampuan yang sehingga bisa maksimal saat melakukan ritual ibadah khusus tersebut.
Tapi Seno juga tahu dan sangat yakin mengapa dia bisa memaksimalkan kemampuannya tidak terlepas dari usaha pemuda itu yang awalnya dia remehkan.
Mumu sudah mengatakan ada masalah pada tulang ekornya sehingga bisa jadi hal itu menjadi penyebab dia belum bisa membuat istrinya hamil.
Bukan hanya sekedar berteori, tapi Mumu juga telah menyembuhkan masalah tulang ekornya. Karena dia tidak merasakan sakit sebelumnya, juga dia tak merasakan manfaat langsung setelah diobati Mumu, sehingga dia beranggapan Mumu hanya sekedar berbohong.
Tapi apa yang terjadi? Malam itu, saat dia memberikan nafkah batin kepada istrinya, baru lah dia merasakan ada sesuatu yang berbeda. Bahkan istrinya Marini yang awalnya acuh tak acuh sampai membelalakkan matanya saking terkejut melihat peformanya saat itu.
Hingga saat itu mereka pun secara rutin melakukan ritual tersebut sampai semalam istrinya mengajak Seno ke Pustu terdekat menemaninya untuk periksa dengan Bidan Desa. Hasilnya, istrinya dinyatakan hamil.
Orang yang ingin mengikuti program hamil, baru sekedar konsultasi dengan dokter spesialis saja sudah mengeluarkan biaya belasan hingga puluhan juta.
Sedangkan Seno, karena telah dibantu dan diobati oleh Mumu hingga istrinya bisa hamil hanya membayar jasa Mumu sebesar dua puluh ribu rupiah.
Dua puluh ribu rupiah!!!
Dapat apa uang dua puluh ribu rupiah zaman sekarang ini?
__ADS_1
Nasi bungkus dengan lauk ayam kampung saja sudah tiga puluh ribu rupiah.
Seno sangat menyesali tindakannya saat itu.