
Mumu tahu ia telah berlaku agak kasar terhadap Rani. Bagai mana pun jika dia hanyalah seorang wanita.
Tapi saat mengingat kekejaman Rani dahulu, sewaktu menyuruh orang suruhannya untuk mengeroyok Mumu hanya gara-gara hal sepele, mau tak mau hati Mumu merasa terbakar.
Rani adalah orang yang pendendam dan lidahnya yang tajam sehingga Mumu terpaksa memberinya sedikit pelajaran.
Mengenai pacar Rani, Mumu tidak mempunyai penyesalan sama sekali karena telah menindasnya dengan parah.
Pria itu adalah orang yang kejam dan beringas.
Selain itu ada aura negatif yang terpancar dari tubuhnya yang berarti dia pernah menyiksa seseorang dengan sangat parah atau bahkan membu*uhnya.
Oleh karena itu tidak ada salahnya bagi Mumu melakukan sesuatu terhadapnya atas nama keadilan.
Tentu saja pemikiran ini jika dilihat dari sudut pandang Mumu.
Sedangkan jika dilihat dari sudut pandang pria tersebut pasti kebalikan dari apa yang Mumu pikirkan.
Satu hal yang pasti, terlepas apa kah pria itu ingin membalas dendam atau apa, dia tidak akan bisa melakukannya sendiri.
Karena kedua kakinya mustahil bisa disembuhkan jika tidak ditangani oleh orang-orang yang tepat sehingga tidak akan pernah mempunyai kekuatan seperti sebelumnya karena urat sarafnya telah Mumu otak-atik sedikit.
Mumu meneruskan langkahnya. Ia tidak membawa motor karena sengaja ingin berjalan kaki. Lagi pula tempat sarapan tadi tidak terlalu jauh dari rumahnya.
...****************...
"Wulan, cepat bangun! Mandi sana! Sebentar lagi Mas Fajar sampai. Kan kalian mau jalan-jalan hari ini. Kasihan lho kalau dia menunggu lama nanti." Mama Wulan mengguncang-guncang tubuh Wulan yang masih meringkuk di pembaringan.
Wulan menggeliat, dia menyipitkan matanya, "Wulan lagi tak enak badan, Ma. Dibatalkan saja ya, Ma."
"Ihhh, mana bisa begitu sayang." Mama Wulan kembali menggoyangkan tubuh anaknya yang kembali memejamkan mata , Mana ada waktu lagi. Kalau tidak hari ini kapan lagi? Besok dia sudah harus pulang ke Amerika. Dia harus segera menyelesaikan studinya. Jika bukan karena ingin ketemu kamu, sudah dari semalam dia pulang ke sana. Ayo bangun!" Wulan bergeming.
"Hmmm, kalau begitu biar Mama video call sama Fajar ya, biar dia sendiri yang membangunkan kamu." Mama Wulan mengeluarkan handphonenya.
Wulan membuka matanya dengan malas, "Mama jangan lakukan itu!" Dia memberengut. Tapi Mamanya tidak peduli. Tak lama kemudian telponnya pun tersambung, "Ada apa, Tante?" Seorang pria ganteng muncul di layar handphone mamanya Wulan.
__ADS_1
Saat mendengar suara pria itu, Wulan secepat kilat berlari dan langsung masuk ke kamar mandi sehingga dia tak tahu apa lagi yang dibicarakan oleh mamanya.
Wulan hanya bisa menggerutu atas sikap Mamanya yang ingin mempermalukannya.
Jika kita ingin melihat kecantikan seorang wanita yang natural, tanpa mark up, tanpa hiasan apa pun itu adalah di saat dia baru bangun tidur. Kamu bisa bayangkan bagaimana wajahnya, rambutnya dan penampilannya. Semuanya sangat...sangat natural.
Siapa pun pria itu, jelas Wulan tidak ingin dilihat disaat dia dalam keadaan kecantikan yang natural, kecantikan alami.
Saat Wulan menuju ke meja makan dua puluh menit kemudian, dia disambut mamanya dengan senyum manis.
Selain mamanya, di meja makan ada tiga orang lagi di sana.
Seorang pria baruh baya yang pasti adalah papanya Wulan, kemudian Purnama, adiknya yang baru kuliah semester satu dan juga pria muda yang tadi wajahnya muncul di layar handphone mamanya Wulan, Mas Fajar.
Ternyata wajahnya lebih ganteng dan gagah dibandingkan saat muncul di layar handphone tadi.
Hal ini tentu berbanding terbalik dengan orang kebanyakan. Yang mana mereka lebih tambil cantik, putih dan ganteng saat di handphone dibandingkan dengan realita.
Fajar orang asli Jogja, tetangga Wulan. Mereka memang akrab sedari dulu. Fajar lebih tua tiga tahun dibanding Wulan. Saat baru masuk SD, Fajar dan keluarganya pindah ke Amerika karena memang orang tuanya bertugas di sana sehingga mereka putus komunikasi.
Saat itu lah Fajar dan Wulan pertama kali bertemu. Saat melihat teman kecilnya berubah menjadi gadis yang sangat cantik, hati Fajar pun mulai bergetar.
Denting-denting asmara mulai berdentang dalam sanubarinya membuat Fajar tak henti-hentinya memandang Wulan setiap ada kesempatan.
Hanya saja waktu itu Wulan tidak menanggapi dengan positif.
Hingga kini tanggapan Wulan pun masih biasa-biasa saja.
Untunglah orang tua Wulan nampaknya mendukung hubungan mereka sehingga hal ini memudahkan Fajar untuk lebih mengenal Wulan lebih dekat.
Setelah sarapan mereka pun pergi jalan-jalan.
Fajar mengendarai mobilnya dengan perlahan agar bisa melihat pemandangan kota Jogja yang telah lama dia tinggalkan. Selain itu juga tentu saja Fajar berbuat seperti itu agar mempunyai waktu lebih banyak untuk ngobrol dengan Wulan.
"Kemana kita, Wulan?"
__ADS_1
"Terserah, Mas Fajar saja."
"Bagai mana jika kita ke Malioboro? Mas kepingin makan makanan khas Jogja."
"Ayuk, Mas."
Selama ini Wulan memang sengaja ingin menghindari Mas Fajar. Dia tahu Mas Fajar mempunyai perasaan terhadapnya, tapi dia sendiri biasa-biasa saja.
Bahkan waktu Wulan berangkat diam-diam ke Selatpanjang gara-gara tak mau berjumpa dengan Mas Fajar.
Tapi seiring waktu, saat mereka sering menghabiskan waktu bersama, ternyata Mas Fajar selain ganteng, ramah ternyata dia juga orang yang sabar dan suka mengalah sehingga lama kelamaan, Wulan mulai bisa menerima kehadirannya.
Walau pun Mas Fajar anak orang kaya ternyata dia tidak risih saat makan makanan di pinggir jalan.
Semakin lama Wulan mengenalnya ternyata semakin banyak hal-hal positif yang terdapat dalam dirinya.
...****************...
"Tiiit...tiiit...." Bunyi klakson mobil tanpa sadar telah membuat Mumu menoleh ke belakang.
Mobil itu berhenti tepat di depan Mumu.
"Mumu....!" Seorang pria keluar dari dalam mobil. Ternyata dia adalah drg. Saloka.
"Kebetulan ketemu kamu di sini." Dia menatap Mumu dengan gembira.
"Kamu tidak sedang sibuk kan? Ayo ikut aku ke RSUD! Ada pasien gawat darurat yang memerlukan pertolongan segera." drg. Saloka langsung menarik tangan Mumu tanpa memberinya kesempatan untuk bicara.
Mendengar kata 'pasien', akhirnya Mumu langsung saja ikut tanpa banyak pertanyaan.
Saat mereka tiba di RSUD, Mumu terus mengikuti drg. Saloka ke ruang pemeriksaan, tak lupa ia menggunakan sebuah masker agar wajahnya tidak bisa dikenali, kecuali oleh orang-orang yang memang sudah mengenalnya.
Seorang pria berumur 80-an tahun sedang terbaring di sana dengan nafasnya yang hanya tinggal satu-satu.
Di sampingnya seorang pria berbadan tegap dan berpakaian rapi sedang berdiri dengan wajah murung sedangkan istrinya hanya berdiri di belakang pria tersebut.
__ADS_1
Saat melihat kondisi orang tua itu, Mumu langsung menggelengkan kepalanya ke arah drg. Saloka.