TABIB KELANA

TABIB KELANA
49.


__ADS_3

"Ada apa, Ndre? Ayo masuk! Tujuan kamu ke mari kan karena ingin menjumpaiku." Suara Handoko masih tenang dan dalam seperti biasanya saat menghadapi para anak buahnya.


Andre tak mampu mengucapkan apa-apa. Tanpa sadar dia kembali mundur. Wajahnya masih tampak pucat seakan-akan darah di wajahnya sudah terkuras habis.


Andre bukanlah seorang penakut. Dia dikenal sebagai preman yang beringas, kejam dan tanpa ampun. Jika dia memang penakut, maka sikap tegas, kejam dan tanpa ampun yang didengung-dengung oleh orang-orang selama ini hanyalah sekedar isapan jempol belaka.


Tak perlu dia menjadi preman malang melintang mencari musuh yang bisa digunakan menjadi samsak dari jurus tendangan seribunya.


Tak usah digaung-gaungkan lagi tentang ambisinya untuk menyatukan para preman yang ada di kota Selatpanjang ini di bawah komandonya.


Satu-satunya orang yang dia takuti adalah ketuanya sendiri. Bukan karena kekuatannya tapi ilmu kebal Handoko yang membuat tendangan seribunya menjadi tidak berarti di hadapan Handoko.


Itu lah sebabnya dia tak bisa terlalu bebas untuk mengutarakan ambisinya di hadapan Handoko dan lebih banyak mengikuti perintahnya sambil mencari strategi yang cocok agar bisa menggantikan Handoko sebagai ketua perkumpulan.


Man Jadda wajada, siapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil. Memang tak salah ungkapan tersebut. Karena Andre bersungguh-sungguh dengan ambisinya, akhirnya kesempatan itu datang dengan sendirinya.


Dari orang kepercayaannya dia mendapat kabar tentang ketua mereka yang lagi sekarat tanpa ada harapan lagi untuk hidup. Oleh sebab itu tanpa membuang waktu, dia segera datang ke sini untuk melancarkan aksinya, mengambil kursi kepemimpinan perkumpulan mereka.


Siapa sangka orang yang sudah dipastikan akan segera berpindah alam tiba-tiba berdiri di hadapan mu, sehat wal-afiat, tanpa kekurangan suatu apa pun sehingga membuat Andre sangat syok dan pikirannya mati rasa karena tak siap menerima kejutan seperti ini sehingga berpengaruh kepada jiwanya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Andre langsung berbalik, lalu berlari dengan sekencang-kencangnya dengan pikiran linglung meninggalkan rumah Handoko sejauh-jauhnya, meninggalkan motornya dan meninggalkan anak buahnya yang langsung menghentikan pertarungan mereka saking terpana melihat tingkah Andre yang tak seperti biasanya.


Mereka semua langsung cabut dari situ meninggalkan Amran yang juga terheran-heran.


Amran segera masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


"Abang! Kamu sudah sadar?!" Teriaknya sambil berlari mendapatkan Handoko yang kembali berbaring di kasur yang empuk.


Mata Amran berkaca-kaca melihat Abangnya akhirnya terbangun dari komanya malah sudah mampu bicara.


"Ssssttt, jangan berisik!! Mumu sedang menyembuhkan dirinya." Pandangan Handoko mengarah ke sudut ruangan di mana Mumu terlihat duduk dengan posisi meditasi dan mata terpejam. Wajahnya kelihatan sangat pucat dan rapuh.


Kenapa Mumu, Bang? Bagaimana Abang bisa sadar? Bukankah Mumu tak mampu mengobati Abang karena ilmu kebal Abang masih melapisi tubuh Abang." Tanya Amran dengan penasaran.


Ada satu hal lagi yang ingin dia tanyakan kepada Abangnya, yaitu tentang bagaimana Abangnya bisa mengalami cedera di ruangan rahasia itu. Tapi karena masih banyak orang-orang di kamar sehingga Amran menahan lidahnya agar tidak keceplosan.


Handoko menyapu pandangannya ke arah orang tuanya, mertuanya dan istri sebelum akhirnya pandangan matanya menatap Mumu dengan penuh kagum dan rasa terima kasih tak terhingga lalu berkata, "Abang pun tak paham bagaimana caranya Mumu bisa mengobati Abang. Yang jelas dia telah mengeluarkan sebagian besar tenaganya untuk membuat Abang bisa sadar. Walau pun kondisi Abang masih agak lemah tapi Abang sudah merasa sehat kembali."


Walaupun ceritanya sangat singkat, itu tidak berarti Mumu dengan mudah bisa mengobatinya. Perjuangan Mumu luar biasa. Tanpa peduli dengan keadaan dirinya sendiri, dia telah berusaha sangat keras demi kesembuhan Handoko.


Mereka hanya melihat Mumu menempelkan kedua tangannya ke atas dada Handoko sambil berkonsentrasi memejamkan matanya. Hingga akhirnya mereka terkejut saat melihat Handoko mulai bergerak dan membukakan kedua matanya.


Hingga saat ini istri Handoko lebih banyak diam. Dia memang sangat senang melihat suaminya telah kembali pulih. Di sisi lain, dia merasa tak enak hati karena merasa bersalah terhadap Mumu. Dalam kekalutannya tadi, dia telah menuduh Mumu dengan dengan tuduhan yang bukan-bukan.


Handoko tentu saja tak mengerti apa yang ada dalam pikiran istrinya. Saat ini dia kembali mengenang perasaannya waktu itu.


Saat itu Handoko merasakan pikirannya semakin lama semakin kabur. Dia merasakan seakan-akan sedang berada di ruang hampa. Pikirannya yang hanya sedikit itu seakan-akan ditarik ke suatu tempat. Dia tahu bahwa dia tak boleh ke sana. Tapi dia tak mampu untuk menahannya.


Di saat dia hampir tidak bisa bertahan lagi, pikirannya kembali ke tubuhnya, dia tiba-tiba merasakan jantungnya kembali bedetak semakin lama semakin cepat. Darahnya mulai bergerak, mengalir dengan teratur di seluruh tubuhnya seakan-akan ada tenaga yang tak kasat mata yang telah menggerakkannya hingga akhirnya Handoko mampu merasakan dan mengendalikan tubuhnya seutuhnya.


...****************...

__ADS_1


Sinar mentari pagi menjadi redup. Rupanya ada segerombolan awan yang berarak dari arah timur telah menghalangi matahari sehingga suasana menjadi agak gelap dan dingin.


Mumu sedang duduk santai di depan rumahnya. Sejak pulang dari rumah Handoko dua hari yang lalu, ia lebih sering duduk di depan rumah, menghirup udara pagi dengan ditemani sinar mentari.


Pagi ini tenaganya sudah pulih seperti sedia kala. Selain itu juga Mumu lebih memahami cara penggunaan tenaga pernafasan yang biasa disebut dengan tenaga dalam ini.


Ternyata tenaga ini selain bisa mengobati diri sendiri, juga bisa digunakan untuk mengobati orang lain seperti yang ia lakukan ketika mengobati Handoko.


Karena tenaga dalam ini bersifat halus sehingga tak ada sesuatu yang bisa menghalanginya.


Bahkan sekarang Mumu bisa memukul sesuatu dari balik dinding tembok. Tentu saja jaraknya masih terbatas sekira satu hingga dua meter saja.


Semakin jauh jaraknya maka semakin lemah efeknya terhadap benda atau sasaran tersebut.


Tadi malam BukFatimah, sang empunya rumah ini menelpon, dia menanyakan apakah Mumu bisa menerima Bik Esah untuk tinggal di rumah ini lagi. Bik Esah adalah pembantu rumah ini dulunya. Karena Buk Fatimah pindah ke Jogja, Bik Esah pun kembali ke kampung halamannya.


Menurut Buk Fatimah, Mumu tak perlu membayar gajinya, asalkan Bik Esah bisa makan dan ada tempat tinggal, itu sudah lebih dari cukup.


Mumu tak masalah untuk itu. Bik Esah orang yang baik, rajin dan berjiwa keibuan. Namun dari cerita Buk Fatimah sepertinya masih ada misteri kenapa Bik Esah tiba-tiba ingin mencari tempat tinggal.


Bukankah dia ada rumah di kampungnya?


Juga dia bisa tinggal di rumah anak-anaknya?


Tapi Mumu tidak menanyakan langsung kepada Buk Fatimah, nanti biarlah Bik Esah sendiri yang cerita.

__ADS_1


__ADS_2