
Mumu tak tahu apa yang sedang terjadi dengan tubuhnya. Ia hanya merasa bahwa ia harus segera melakukan teknik pernafasan, Oleh karena itu walaupun sakit di dadanya semakin menyengat seakan-akan sedang ditusuk dengan besi panas, Mumu tetap memaksakan diri untuk duduk menenangkan diri memulai meditasi dengan langsung memutar teknik pernafasannya.
Awalnya sangat sulit karena pikirannya terbagi antara fokus ke meditasi dengan rasa sakit yang menusuk.
Mumu sudah mencoba menotok saraf perasa untuk menghilangkan rasa sakit, anehnya cara itu tak berhasil.
Baru kali ia mengalami ilmu totokannya tidak bisa bereaksi seperti mana biasanya.
Baru sekali ini terjadi rasa sakit datang tiba-tiba tanpa ia tahu penyebabnya.
Mumu sudah memeriksa aliran darahnya tapi tak ada yang salah dengan itu.
Semua baik-baik saja. Tapi anehnya ia merasakan rasa sakit yang semakin menyengat.
Akhirnya Mumu mengabaikan rasa sakit itu dan hanya fokus pada olah teknik pernafasannya.
Entah berapa lama waktu berlalu. Mumu yang masih fokus dengan teknik pernafasannya tidak menyadari bahwa rasa sakit yang menusuk-nusuk jantungnya mulai berkurang sedikit demi sedikit hingga akhirnya rasa sakit itu hilang sama sekali. Tapi Mumu tak tahu. Ia masih tenggelam dalam meditasinya. Nafasnya mengalir dengan teratur semakin lama ritmenya semakin pelan. Hingga akhirnya tubuh Mumu seperti tidak bernafas lagi.
Jika ada orang yang melihatnya mereka pasti menyangka Mumu sudah meninggal dunia. Pada hal bukan seperti itu kenyataannya.
Mumu sedang memasuki proses meditasi yang mendalam.
Tidak sembarang orang yang bisa sampai ke tahap ini.
Keberhasilan Mumu kali ini pun tanpa ia sengaja dan belum tentu di waktu yang akan datang ia bisa memasuki proses meditasi yang mendalam ini.
Ini merupakan sebuah keberuntungan baginya. Bagaikan mendapat durian runtuh.
Memang antara musibah dan berkah hanya dibatasi dengan jarak setipis kulit bawang.
Karena Mumu tidak berputus asa atas musibah yang menimpanya akhirnya ia mendapat balasan yang setimpal.
...****************...
Di sebuah pondok kecil yang terletak di tengah hutan bakau yang tak jauh dari sungai Suir, seorang laki-laki tua sedang menatap nampan yang berisi air, selembar foto, kembang tujuh rupa, tujuh batang jarum serta tujuh buah paku karat. Mulutnya tampak komat-kamit membaca semacam mantra.
Jika Mumu ada di sini, ia akan sangat terkejut melihat foto dirinya ada dalam nampan tersebut.
Dua jam yang lalu dua orang laki-laki telah datang ke pondoknya untuk meminta bantuan melenyapkan ny*wa seseorang.
__ADS_1
Dia tak kenal siapa laki-laki itu. Kalau yang seorang lagi memang warga tempatan yang menjual jasa sebagai penghubung antara pelanggan dan dirinya.
Dia tak terlalu memperdulikan hal itu. Karena laki-laki itu berani membayar dengan jumlah yang besar, maka secepat yang tubuh tuanya bisa bergerak, dia segera menyiapkan keperluan yang akan dia gunakan untuk meny*ntet seseorang.
Hal ini sudah biasa baginya. Sehingga mem*unuh, meny*ksa, meneror sudah menjadi skillnya.
Dia akan melakukan sesuai permintaan pelanggan. Tapi hal yang tak kalah pentingnya tentu saja tergantung imbalan yang mampu pelanggan berikan kepadanya.
Karena sudah menjadi keahliannya, atau kalau boleh dikatakan sudah menjadi spesialisnya sehingga permintaan pelanggan itu bisa dia kerjakan seperti membalik telapak tangan saja. Artinya itu hanya hal kecil.
Tanpa perlu mengeluarkan keringat.
Saat ini dia benar-benar konsentrasi, karena laki-laki itu telah memberikan imbalan yang banyak sehingga dia harus memberikan hasil yang terbaik.
Tak lama kemudian tujuh batang jarum yang di nampan menghilang secara ajaib, mata lelaki tua itu berbinar senang. Itu tandanya jarum tersebut sudah masuk ke tubuh si target.
Benar saja, tak lama kemudian dari foto target yang berada di nampan mulai merembes setitik darah. Mangsanya sudah terluka.
Setelah beberapa saat dahi lelaki tua itu berkerut, matanya masih terpaku pada foto di nampan.
Biasanya dari foto targetnya akan mengeluarkan banyak darah, tapi darah di foto ini hanya sekedar merembes.
Tapi lelaki tua itu tidak panik. Dia segera membaca mantra dan menambah sebuah rajah yang diletakkan di dalam nampan persis di atas paku karat tadi.
Beberapa saat kembali berlalu.
Mata lelaki tua itu kini bersinar terang melihat ketujuh paku karat dan rajah tadi sudah menghilang, kini matanya langsung fokus pada foto di nampan.
Benar saja, foto itu mulai mengeluarkan darah yang banyak sehingga air yang dinampan mulai berubah menjadi merah.
Lelaki tua itu terkekeh senang.
Suara tawanya menyeramkan, apa lagi terdengar dari hutan bakau di malam hari.
Tapi tawanya tidak berlangsung lama, dari mulutnya menyembur darah segar yang langsung mengotori pondoknya yang memang sudah bobrok itu.
Wajahnya pucat-pasi. Selain itu terdapat jejak keterkejutan dan ketakutan di sana.
Lelaki tua itu menjadi panik.
__ADS_1
Dia dengan gemetar membongkar perabotan yang ada di dalam pondok untuk mencari obat penawar tapi rasa sakit didadanya membuat dia tak kuat lagi bergerak.
Akhirnya lelaki tua itu jatuh ke lantai. Ada jejak kemarahan diwajahnya. Bukan marah kepada mangsanya yang ternyata bisa membalikkan serangannya. Tapi dia sangat marah kepada lelaki itu. Lelaki yang telah menyewa jasanya dengan bayaran yang tinggi.
Jika tahu begini, dia tak akan mau mengambil resiko walaupun disodori dengan segepok uang.
Tapi semuanya sudah terlambat. Penyesalan tidak ada gunanya lagi. Nafasnya semakin sesak. Jika itu hanya tujuh batang jarum, mungkin dia masih bisa bertahan beberapa lama.
Tapi ini ditambah tujuh batang paku karat yang dicampur dengan rajah, tubuh rentanya tak mampu lagi bertahan.
Di saat nafasnya sudah hampir mencapai tenggorokan, dia masih sempat melafal mantera rahasia yang ditujukan kepada J*n pendampingnya untuk melakukan sesuatu.
Tak lama kemudian nafasnya pun menghilang untuk selamanya.
Lelaki tua itu mati dengan mata terbelalak.
Mati penasaran.
Tak ada orang yang akan meratapi kematiannya.
Tak ada juga orang yang akan melayat dan menguburkannya karena selama ini dia hanya tinggal sendiri dan jauh dari orang-orang di sekitarnya.
...****************...
Saat ini di dalam sebuah Coffe Shop yang berada di jalan Kartini, Sanusi sedang tertawa bahagia dengan dua orang temannya. Mereka minum dan makan dengan gembira karena salah satu penyebab kegagalan usaha mereka selama ini akan binasa.
Sanusi berkali-kali menatap jam di tangannya seakan-akan tak sabar menunggu sesuatu.
Tepat jam 11.00 Wib saat Sanusi yakin tugas yang dia berikan kepada dukun tua itu sudah berhasil, mendadak pandangannya menjadi gelap. Lehernya serasa dicekik. Dia meronta-ronta. Kedua tangannya menggapai-gapai seakan-akan berusaha melepaskan diri dari cengkraman entah apa.
Kedua temannya terkejut campur bingung.
"San, kamu kenapa, San?"
"Bangun, San!" Keduanya berusaha menyadarkan Sanusi.
Para tamu pun jadi heboh. Mereka segera berkerumun.
"Pelayan, panggil dokter! Cepat!" Teriak seseorang.
__ADS_1