
Saat Mumu sampai di rumah, Bik Esah dan Ria menyambutnya di depan pintu pagar. Setelah menanyakan kabar masing-masing, Mumu segera membawa barang bawaannya ke dapur.
Ia mempersilahkan Bik Esah dan cucunya untuk memakan apa yang ingin mereka makan.
Ia sudah menyisihkan satu kardus buah-buahan untuk ia kirimkan ke kampung besok siang. Karena hari ini sudah tidak sempat lagi. Motor tambang sudah dari tadi berangkat dari Selatpanjang.
Sambil beristirahat di kamarnya, Mumu membuka portal berita online khusus Meranti.
Bermacam-macam berita yang bermunculan tapi tak semuanya Mumu baca.
Ia melihat judul yang menarik saja. Contohnya baru-baru ini ada seorang laki-laki yang berinisial S telah meninggal dunia tanpa mempunyai riwayat sakit.
Menurut berita tersebut, laki-laki malang itu bukan meninggal di rumah atau dalam perjalanan, dia meninggal saat sedang santai-santai di sebuah Coffee Shop. Kabarnya Coffee Shop itu masih ditutup oleh pihak yang berwajib dan para pelanggan yang hadir waktu itu tidak boleh keluar daerah. Sewaktu-waktu harus siap dipanggil sebagai saksi.
Ada juga berita penemuan mayat di sebuah pondok di hutan bakau. Karena sudah meninggal lama sehingga mayatnya belum bisa dikenali. Saat ini pihak kepolisian masih mengumpulkan saksi dan bukti-bukti.
Malam kembali datang setelah seharian diterpa oleh cahaya panas yang luar biasa.
Cuaca sekarang jika siang, panas menyengat kulit, lebih perih. Pada saat malam hari dinginnya luar biasa. Air kran bagaikan dimasukkan ke dalam kulkas. Dingin.
Jam 00.37 wib!
Kota sudah mulai sepi. Walaupun masih ada kenderaan yang lewat, tapi jumlahnya tidak banyak. Hanya satu atau dua buah saja.
Mumu kembali ke pinggiran sungai Siak. Kali ini ia tidak mendarat di jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah seperti saat pertama kali ia datang ke sini. Kali ini ia langsung mendarat di kampung dalam, sisi selatan dari Kabupaten Siak Sri Indrapura.
Mumu berdiri pinggiran sungai sambil menatap jauh di seberang sana.
Sebagaimana yang ia duga sebelumnya, laki-laki paruh paya itu masih di sana. Melambai dan tersenyum ke arahnya.
Sebelum Mumu sempat melangkah menuju pria itu, Mumu tiba-tiba terbangun saat mendengar suara berisik di kejauhan.
Ia segera bangun. Berusaha menajamkan pendengarannya. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di jalan Dorak.
__ADS_1
Mungkin kecelakaan, mungkin juga ada perkelahian antar geng atau kelompok.
Mumu segera memakai bajunya, ia dengan perlahan menuju pintu depan, membuka dan menguncinya dari luar. Lalu dengan berlari-lari kecil ia menuju ke arah suara tadi.
Saat itu di perempatan jalan Dorak-Pramuka-jl. Utama yang awalnya sepi, hanya ada beberapa pedagang kacang rebus dan minuman bandrek yang mangkal di sana.
Tiba-tiba suasana sepi tersebut dipecahkan oleh suara motor yang memekik yang melaju dengan kencang.
Diduga pengendaranya dalam keadaan mabuk, sehingga pas mau berbelok ke arah jalan Pramuka, motor tersebut langsung menabrak pagar yang ada ikon berupa tulisan Selatpanjang Kota Sagu warna kuning yang dihiasi dengan lampu warna warni.
Saat Mumu sampai di sana, sudah banyak orang yang berkerumun penasaran dengan identitas orang yang terkena musibah tersebut.
Ternyata mereka ada dua orang, pria dan wanita.
Saat polisi yang dibantu warga mengangkat tubuh si pria, Mumu melihat nyawanya sudah tidak ada. Sebuah luka di kepalanya terus mengeluarkan darah.
Sedangkan si wanita yang juga terdapat luka di kepala dan kedua tangannya dalam posisi aneh, kemungkinan patah, masih belum sadarkan diri.
Tapi, dalam kejadian ini yang paling parah adalah orang yang di depan. Mungkin kepalanya lansung terbentur pagar pembatas jalan.
Tak lama kemudian ambulance datang, segera memindahkan tubuh pria dan wanita itu masuk ke dalam ambulance.
"Hei, apa yang kamu lakukan?" Bentak Sopir ambulance saat melihat Mumu mendekati si wanita itu. Dia curiga anak muda ini ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Karena tadi dia seperti melihat tangan anak muda itu seperti menyentuh tubuh si korban.
'Apa anak muda ini tidak ada ak*l sehingga bermaksud meng*erayangi tubuh si wanita di depan orang-orang.' Pikir si sopir.
Mendengar bentakan si sopir beberapa orang mengalihkan pandangannya ke arah Mumu dengan tatapan penuh penghinaan.
"Dasar anak muda tak tahu diri, tak punya rasa empati atas musibah seseorang." Maki orang-orang yang berkerumun itu.
"Bisa-bisanya dia ingin melakukan hal tak senonoh itu."
__ADS_1
"Cish, tindakannya membuat aku mau muntah!"
Mumu tidak menanggapi cacian dan makian dari orang-orang.
Sebaliknya matanya memandang ke arah dua orang polisi yang berjalan mendekatinya.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Dik?" Tanya salah seorang polisi itu dengan nada penuh wibawa.
"Ha ha ma*ilah kamu anak muda. Rasakan itu."
"Tamatlah riwayatmu!"
Saat polisi mendatangi Mumu, orang-orang tertawa senang melihat kemalangan yang menimpa Mumu.
Mumu tetap tenang, "Maaf sebelumnya, Pak, apakah Bapak seorang dokter forensik?"
Keduanya polisi itu berpandangan sejenak, "Apa maksudmu? Saya dokter magang yang ditugaskan ke sini." Sahut polisi pendiam berkulit putih itu.
"Bapak tentu bisa menilai wanita ini dalam keadaan koma, jika di bawa ke rumah sakit belum tentu bisa diselamatkan, karena sudah sangat terlambat untuk itu." Ucap Mumu dengan tenang.
"Jadi, maksudmu apa?" Tanya polisi yang pertama tadi tidak senang. Jangankan dokter forensik, dia saja tahu bahwa nasib wanita ini sudah di ujung tanduk. Tipis harapan untuk bisa selamat.
Mumu mendekati kedua polisi itu dan berkata dengan suara pelan agar yang lain tidak mendengar, "Saya bisa memberikan sedikit energi supaya kakak ini masih bisa bertahan hingga mendapatkan perawatan yang layak di RSUD."
Mumu melihat wanita itu hampir tak bisa diselamatkan jika terlambat sedikit saja. Oleh karena itu ia ingin memberikan sedikit bantuan secara diam-diam. Tapi tak disangka ternyata mata si sopir sangat awas dan waspada. Dia langsung curiga saat Mumu mendekati si wanita itu.
Mendengar perkataan Mumu yang mengada-ada itu membuat polisi yang menegur Mumu tadi mendelikkan matanya. Saat dia akan menyemprot Mumu karena telah dengan sengaja menganggu pekerjaan mereka, tangannya segera ditarik oleh polisi dokter forensik magang tersebut.
"Apakah yang kamu katakan benar, Dik?" dokter forensik yang bernama Rio itu lebih banyak pengalaman dalam menghadapi persoalan seperti ini. Dia percaya dan sudah pernah melihat berbagai ilmu dan kemampuan seperti itu.
Sehingga dia tak merasa aneh jika ada orang yang mampu menyalurkan energi seperti yang dikatakan oleh pemuda ini.
Cuma yang membuatnya heran adalah pemuda yang di depannya ini masih terlalu muda sehingga ada sedikit keraguan dalam hatinya atas kemampuan pemuda tersebut.
__ADS_1