
Dia ingin menceritakan mimpi tersebut kepada Ayah dan Ibunya, tapi mereka belum pulang mengajar, masih di sekolah. Siang nanti baru pulang. Rasanya terlalu lama.
Akhirnya Siti Aisyah memfoto peristiwa mimpi yang telah dia tulis sebelumnya di selembar kertas lalu dikirimkan kepada Ayah dan Ibunya.
Masalahnya adalah jika sedang di Sekolah, kedua orang tuanya jarang memegang handphone. Ini merupakan salah satu aturan di Sekolah, agar para guru fokus dalam mendidik murid-muridnya.
Di saat Aisy, panggilan Siti Aisyah, sedang galau, dia melihat sebuah mobil Avanza warna hitam metalik memasuki halaman rumahnya yang luas.
Siti Aisyah segera berlari turun. Dia tahu siapa yang datang. Itu adalah mobil Atuknya. Atuk atau Tuk adalah nama panggilan suku Melayu Riau terhadap Kakek.
Dia menyapa Atuk dan Neneknya dengan bahasa isyarat. Setelah menyalami mereka berdua, lalu dia membawa keduanya masuk dan duduk di ruang tamu.
Nenek Kamisah membelai rambut cucunya sambil bertanya, "Kamu tidak kuliah, Aisy?"
Siti Aisyah menggelengkan kepalanya. Lalu dia memberi isyarat yang mengatakan bahwa dia cuti untuk sementara waktu.
Nenek Kam paham apa yang disampaikan oleh Siti Aisyah, berbeda dengan Tuk Udin, dia lambat paham jika menggunakan bahasa isyarat, dia lebih suka Siti Aisyah menggunakan tulisannya jika ingin bicara.
Setiap ada waktu luang, mereka berdua selalu menyempatkan diri untuk berkunjung ke sini, demi melihat cucu kesayangan mereka.
Biasanya Siti Aisyah selalu ceria jika ketemu mereka tak peduli dengan sakit yang dia derita.
Tapi hari ini, wajahnya tampak murung, walaupun Siti Aisyah telah berusaha untuk menyamarkannya tapi tetap tidak bisa mengelabui mata Tuk Udin yang tajam itu.
Tua-tua begini, Atuk Udin adalah seorang pendekar silat yang mumpuni.
Hingga kini dia masih sering melatihnya sehingga badannya masih tampak sehat dan gagah meskipun sudah menginjak usia tujuh puluh tahun.
Matanya masih awas tanpa harus menggunakan kaca mata dan masih kuat nyetir mobil sendiri.
"Ada apa, Cu, kok wajah mu murung begitu? Ada masalah apa? Coba ceritakan sama Atuk!" Pintanya.
Biasanya orang gagu pasti tuli. Beda dengan Siti Aisyah, dia hanya gagu saja sedangkan pendengarannya sehat, tak ada masalah.
Dia lalu menulis di sebuah buku dan mengacungkan ke arah Tuk Udin.
"Mimpi? Tiga malam berturut-turut?" Alis Tuk Udin terangkat.
Siti Aisyah menulis, "Apakah ada maknanya, Tuk? Aisy jadi kepikiran terus karena penasaran."
__ADS_1
"Coba kamu ceritakan! Kemungkinan besar ada maknanya ini." Pinta Tuk Udin.
Siti Aisyah mengeluarkan kertas yang dibawa dari kamarnya tadi dan menyerahkan kepada Atuknya.
Tuk Udin membacanya dengan serius. Setelah selesai, dia memberikan kertas tersebut kepada istrinya. Dia memandang Siti Aisyah, "Jadi kamu benar-benar mimpi bertemu dan bicara dengan anak muda bernama Mumu di tepian sungai Siak tiga malam berturut-turut?" Tanya Tuk Udin untuk memastikan.
Siti Aisyah mengangguk.
"Apakah kamu kenal dengan pemuda itu atau sebelumnya pernah bertemu? Bisa jadikan kita memimpikan orang-orang yang pernah kita kenal."
Dijawab Siti Aisyah dengan gelengan.
"Kalau kamu tak kenal dengannya bagaimana kamu tahu namanya, Aisy?" Nenek Kam ikut nimbrung.
Siti Aisyah memberi isyarat bahwa pemuda itulah yang mengenalkan dirinya.
Kening kedua orang tua itu berkerut. Tak ada petunjuk apa pun dari mimpi ini. Kemungkinan hanya mimpi biasa. Tuk Udin percaya cucunya pernah melihat wajah pemuda itu di suatu tempat entah kapan sehingga tanpa sadar wajah itu hadir dalam mimpinya. Sehingga tak perlu dipikirkan lagi mimpi tersebut.
Saat dia akan menanggapi mimpi cucunya, dia menoleh ke arah cucunya saat istrinya berkata, "Apakah kamu ingat apa yang kalian bincangkan dan dari mana asal pemuda itu, Aisy?"
Kali ini Siti Aisyah menjawab dengan tulisan karena kata-katanya agak panjang.
Tuk Udin menampar sandaran kursi sambil berseru, "Itu kuncinya! Itu kuncinya! Kenapa tidak kamu bilang dari tadi, Cu?"
Matanya berbinar. Dia segera merogoh sakunya dan segera menelpon seseorang di Tanah Jantan. Tak banyak orang yang tahu bahwa Tanah Jantan adalah sebutan dari kota Selatpanjang pada zaman kerajaan dahulu.
Jika mimpi ini mempunyai makna sesuai tafsirannya, pemuda yang bernama Mumu ini tentu bukan orang biasa. Paling tidak dia bisa menjadi petunjuk untuk kesembuhan cucunya.
Tak lama kemudian panggilannya langsung tersambung. Setelah berbasa basi menanyakan kabar masing-masing, Tuk Udin langsung masuk ke inti pembicaraan.
"Jadi tak ada yang bernama Mumu? Anak seorang pejabat atau anak seorang dukun?" Wajah tua Tuk Udin langsung menunjukkan kekecewaan. Tak lama kemudian dia memutusakan sambungan telponnya.
"Kamu nelpon siapa, Pak?" Tanya istrinya dengan penasaran.
"Nelpon teman yang di Selatpanjang. Mau cari informasi tentang pemuda yang dalam mimpi itu. Tapi nampaknya belum berjodoh.
"Jadi Bapak percaya tentang mimpi itu?"
Tuk Udin mengangguk.
__ADS_1
"Kami pulang dulu, Cu. Atuk akan cari informasi tentang pemuda itu. Kamu tenang saja. Mana tahu dengan perantaraannya kita bisa menemukan tabib yang bisa menyembuhkan penyakit kamu." Ucap Tuk Udin dengan penuh semangat.
...****************...
Saat pulang dari pasar Juling, Mumu singgah sebentar di pasar buah. Ia membeli buah salak sekilo harganya lima belas ribu.
"Apel ini berapa satu biji, bang?"
"Delapan ribu, dik." Luar biasa.
"Kalau Anggur berapa, bang?"
"Yang hitam lima puluh lima ribu, Dik. Kalau yang merah tujuh puluh ribu." Mumu hanya bisa ternganga.
Patutlah orang-orang kaya tubuhnya sehat-sehat. Karena hanya mereka yang bisa membeli dan mengkonsumsi buah-buahan dengan rutin.
Sedangkan masyarakat biasa pasti merasa berat untuk membelinya.
'Bagaiman mau menerapkan empat sehat lima sempurna jika seperti ini?' pikir Mumu.
Tujuh puluh ribu sudah dapat beras lima kilo lebih. Jika disuruh memilih, masyarakat biasa lebih memilih membeli beras ketimbang beli buah anggur.
Mumu hanya bisa menggelengkan kepala.
Dari pasar buah Mumu langsung pulang melewati simpang jam, simpang empat antara jalan Merdeka, jalan Diponegoro dan jalan Kesehatan.
Mumu sengaja mengambil jalan memotong karena lebih dekat.
Saat ia melewati lapangan Gelora yang berada di jalan Yos Sudarso, dua motor dengan empat penumpang menghalangi jalannya.
Salah seorang dari mereka yang mengendarai motor Ninja turun dari motornya dan membuka helm.
Ternyata Amran!
Darah Mumu sedikit bergejolak. Amran ini tak jera-jera juga pada hal sudah beberapa kali ia pukuli.
Apa mungkin minta digebuk lagi ini anak?!
Mumu segera turun dari motor dan mendekati Amran.
__ADS_1
"Amran! Apa maksudmu menghalangi jalanku?" Geram Mumu.