TABIB KELANA

TABIB KELANA
70.


__ADS_3

Wajah Agus Deka menampilkan raut wajah yang sangat terkejut. Dia sekali lagi mengalihkan pandangannya antara Randi dan Mumu.


Seolah-olah berusaha menghubungkan kesembuhan Randi yang mendadak itu ada kaitannya dengan sosok Mumu yang masih berdiri tegak menatap ke arah drg. Saloka dan dua anggotanya.


Bagaimana pun Agus Deka berusaha memikirkannya hingga menimbulkan kerutan yang sangat dalam di dahinya, tapi sangat sulit baginya untuk menghubungkan sosok anak muda itu ada hubungannya dengan kesempuhan Randi yang tiba-tiba itu.


Jika dipikir-pikirkan kembali, kalau memang bukan karena anak muda itu, bagaimana Randi bisa pulih secepat itu?


Agus Deka mempunyai pemikiran lain.


Apakah racunnya sudah bisa diidentifikasi? Dan pihak RSUD sudah memberikan obat penawar yang tepat untuknya.


Tapi kapan tepatnya?


Menurut Buk Larasati, belum ada dokter atau perawat yang datang mengobati pasien semenjak dia koma.


Agus Deka menggelengkan kepalanya berulang kali.


Berbeda dengan Agus Deka, drg. Saloka pun mendongakkan kepalanya saat mendengar kata 'sembuh', cuma dia tak tahu siapa pasien ini, sakit apa dia dan sudah berapa lama dia sakit.


Melihat dari ekspresi yang ditunjukkan oleh orang tua keras kepala tadi yang kemungkinan adalah orang tua dari pasien tersebut, drg. Saloka yang sudah banyak pengalaman dalam menghadapi berbagai tingkah laku pasien dan keluarganya selama ini, bisa menebak bahwa pasien tersebut sudah lama sakit dan bukan sakit yang biasa.


Saat dia memandang ke arah kedua Satpam untuk minta konfirmasi, tindakannya sudah didahulukan oleh ucapan anak muda yang awalnya ingin dia usir pergi tadi.


"Pak dokter dan Pak Satpam tak perlu bersusah payah untuk mengusir saya pergi dari sini karena saya memang akan pergi. Adapun mengenai perkara yang terjadi tadi, saya mohon maaf sedalam-dalamnya." Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, tanpa menunggu jawaban ia langsung berjalan mendekati Pak Surya Atmaja dan keluarganya yang saat ini tersenyum sumringah. "Pak, Buk, Bang Randi, saya izin dulu, mau pulang. Saya kira Bang Randi perlu mendapatkan izin dari dokter jaga dulu sebelum bisa dipastikan kapan pulangnya. Jika ada sesuatu tolong telpon saya ya, Bang."


"Terima kasih banyak Mumu. Bapak tak tahu harus bagaimana lagi terhadapmu...." Pak Surya Atmaja menampilkan senyum tak berdaya saat memikirkan hutang budi yang terus dipupuk oleh anak muda yang luar biasa ini.


"Saya sudah menggap Bang Randi seperti abang kandung saya sendiri, jadi Bapak sama Ibu jangan bersikap formal seperti itu."


Mumu pun bersalaman dengan mereka.

__ADS_1


"Terima kasih, Nak. Hati-hati di jalan." Ucap Buk Husnalita.


"Terima kasih, Mumu." Randi merangkul Mumu dengan penuh haru.


Saat Mumu berjalan melewati Agus Deka, ia pun berkata, "Terima kasih atas bantuan Abang terhadap orang tua saudara saya."


Agus Deka hanya mengangguk kaku.


"Tunggu dulu!" drg. Saloka berteriak.


"Apa ada masalah, Pak?" Mumu berbalik dan menoleh ke arah drg. Saloka yang berjalan mendekatinya.


"Pasien tadi sakit apa? Dan apa yang telah kamu lakukan terhadapnya? Apakah kamu seorang tabib?"


"Maaf Pak dokter, mengenai penyakitnya saya kira pihak RSUD yang lebih mengetahuinya. Mengenai apa yang saya lakukan, saya kira saya tak punya kewajiban untuk mengatakan kepada dokter. Saya permisi dulu, dok...."


"Kamu ini....." drg. Saloka tak melanjutkan kata-katanya. Sejak kapan ada anak muda yang tidak bersikap sopan terhadapnya. Awalnya dia ingin memarahi Mumu tapi tak jadi, sebagai gantinya dia memandang ke arah kedua Satpam memberi isyarat kepada keduanya lalu pergi.


...****************...


Umurnya belum terlalu tua, usianya berkisar di antara empat puluh tujuh atau empat puluh delapan tahun lah.


Dia dikenal sebagai orang yang sangat rajin dan ramah.


Selain itu juga dia sangat rajin ke masjid karena kebetulan dia dipercaya oleh masyarakat sebagai marbot masjid.


Tak ada yang salah dalam kehidupannya yang sederhana.


Dia punya istri dan dua orang anak. Isterinya bekerja sebagai ibu rumah tangga walaupun pada kenyataannya, isterinya bekerja sebagai penyadap karet juga, sama sepertinya. Sedangkan Kedua-dua anaknya sudah duduk di bangku Aliyah yang satu duduk kelas tiga dan yang satu lagi kelas dua.


Suatu hari Pak Amat pergi ke kota Selatpanjang untuk membeli racun rumput. Di kota jika kita membeli racun yang lima liter harganya dapat berkurang sedikit dari pada beli yang per liter.

__ADS_1


Saat keluar dari toko tersebut Pak Amat bingung saat memasukkan kunci, motornya tak bisa nyala. Dipaksa-paksa tapi tetap juga tak nyala.


Dengan sangat terpaksa Pak Amat mendorong motornya ke bengkel.


"Dik, tolong ganti kuncinya. Tak bisa nyala. Sudah dipaksa-paksa juga tak mau." Kata Pak Amat kepada orang bengkel. Dia menyeka keringat yang merembes di wajahnya. Dia sangat kelelahan.


Bukan mudah mendorong motor dengan jarak hampir satu kilometer.


"Biar saya cek dulu, Pak." Orang bengkel itu pun langsung mengambil kunci motor Pak Amat. Saat orang bengkel tersebut ingin memasukkan kunci ke kontak motor, dia lalu berkata, "Ini bukan kuncinya, Pak. Motor Bapak Suzuki sedangkan ini kunci Yamaha."


"Lha....bagaimana bisa. Kunci motor saya cuma satu itu, kok. Tak mungkin salah. Saya sangat kenal dengan mainan kuncinya seperti ekor tupai itu.


"Mana saya tahu, Pak." Kata orang bengkel, "Yang jelas kuncinya tak cocok sama motor. Apa ini memang motor Bapak?"


Pak Amat yang sedang duduk melepas lelah dengan terpaksa kembali berdiri, "Saya juga tidak ingat, Dik...."Dia berusaha berpikir, " Kayaknya ini memang motor saya lah."


Melihat jawaban Pak Amat yang tak sepenuhnya yakin, orang bengkel pun menjadi penasaran.


"Bapak tadi dari mana saja? Biar saya antar ke sana."


"Jadi motor saya dan racun saya bagaimana?"


"Tinggal saja, Pak. Ada anggota saya yang jaga di bengkel. Bapak bawa saja kunci motornya.


Saat mereka sampai di toko, beberapa orang tampak berkerumun di depan toko.


"Tadi motor saya diparkir sini. Tapi sekarang tidak ada. Bagaimana pelayanan toko ini? Seharusnya di pasang CCTV, biar bisa dipantau. Bagaimana pelanggan mau bertambah banyak jika seperti ini." Seorang Bapak-bapak tampak emosi saat melontarkan kata-kata pedas ke arah seorang pria cina yang tampak bersahaja itu.


"Saya akui bahwa kami salah, tapi ini bukan berarti bahwa kami adalah pihak yang salah sepenuhnya kan." Ucap pria cina itu dengan nada tenang.


"Jadi sekarang bagaimana? Apakah dengan pengakuan tersebut bisa mengembalikan motor saya yang hilang?"

__ADS_1


"Maksud Bapak bagaimana? Apakah karena Bapak sudah belanja barang seharga lima belas ribu di toko kami, lalu kami harus mengganti rugi motor Bapak yang hilang itu? Enak betul hidup ini."


Suasana semakin memanas.


__ADS_2