TABIB KELANA

TABIB KELANA
37.


__ADS_3

Pria itu yang tak lain adalah Sanusi adanya. Baru saja dia berangan-angan ingin menguasai PT. Sagu dengan menjadi Direktur Utama menggantikan Pak Sukamto, kakak iparnya.


Rencana sudah dia susun matang-matang dan dia dan kambratnya juga sudah melancarkan aksi mereka.


Semuanya berjalan mulus. Tak ada celah yang terbuka dalam rencana dan aksi mereka. Mereka tinggal menunggu hari esok untuk mengumumkan Bahwa Sanusi akan menggantikan Pak Sukamto menjadi Direktur Utama.


Ibarat makanan, bukan lagi terhidang di atas nampan tapi sudah berada di mulut Sanusi.


Tinggal digigit. Seberapa lah susahnya menggigit? Hanya butuh waktu 0,5 detik untuk menggigit dan langsung mengunyahnya.


Waktu! Akhirnya Sanusi menyadari ini hanyalah gara-gara waktu.


Hanya karena 0,5 detik itu lah surat berharga yang dia peroleh dari rumah kakak iparnya lesap disambar orang.


Surat menyurat itu semuanya berada di dalam tas yang disampir di bahu stafnya yang berbaju kotak-kotak itu.


Sewaktu tas itu disambar oleh penjambret yang tak tahu diri itu, mereka hanya bisa terpana tanpa mampu berbuat apa-apa saking syoknya.


Awalnya dia berpikir itu hanyalah jambret biasa yang ingin mendapatkan uang atau barang remeh temeh yang bisa dijual atau ditukar dengan sebungkus rokok.


Tapi beberapa hari yang lalu pemikiran itu dia tolak mentah-mentah.


Waktu itu dia sedang duduk di kursi kebesaran sambil memikirkan rencana selanjutnya.


Jelas mengenai surat itu sudah tidak ada harapan lagi sama sekali. Karena dia tak tahu identitas penjambret itu.


Satu-satunya cara adalah membuat surat yang baru dan kembali ke rumah kakak iparnya untuk sekali lagi mengambil cap jari kakak iparnya yang sedang sekarat itu.


Masih terbayang di pikiran Sanusi waktu itu, saat dia sedang mengatur rencana di dalam kepalanya sudut matanya menangkap seseorang yang berdiri tepat di depan pintu ruangan.


Sanusi naik pitam!


Siapa yang berani masuk ke ruangan direktur utama ini tanpa seizinnya?


Saat dia menoleh untuk menyemburkan caci maki dan sumpah serapah yang memang sudah penuh di ujung lidahnya, dia tiba-tiba menggigil. Sungguh! Dia benar-benar menggigil ketakutan.


Ini bukanlah tindakan seperti dibuat-buat seperti akting bintang film.

__ADS_1


Rasa ini muncul dari hati.


Nun di sana dia melihat Pak Sukamto berdiri membelakangi pintu dan sedang memandangnya tanpa ekspresi.


"Eh..ka..kakak ipar si..silahkan duduk, Kakak Ipar." Sanusi menguatkan hatinya dan langsung berdiri.


'Bagaimana dia bisa sembuh? Bukankah dia selama ini sakit menahun tanpa bisa begerak di tempat tidur?' Pikiran Sanusi berputar dengan cepat. Tapi sebelum dia menemukan solusinya, terdengar Pak Sukamto berkata dengan nada dingin, "Kamu bisa pergi sekarang! Tanda tangan surat pengunduran dirimu di HRD. Mengingat hubungan kita, saya tak akan memperpanjang lagi perbuatanmu yang sudah-sudah. Tapi jika kamu masih tidaka puas dan melakukan sesuatu yang merugikan keluarga dan perusahaan saya, kamu harus siap menanggung konsekuensinya."


Lidah Sanusi kelu. Semudah itukah dia dipecat? Hatinya penuh dendam tapi dia tak berani menampakkannya di permukaan.


Dia yakin selama ini Pak Sukamto hanya pura-pura sakit sampai dia menunjukkan belangnya.


Sanusi mundur teratur. Orang yang pintar harus tahu bersikap!


"Terima kasih atas kemurahannya kakak Ipar. Saya pamit dulu." Dia harus pergi sekarang untuk menyusun rencana. Dia tak akan semudah itu melepaskan peluang yang hampir diraihnya.


Walaupun sudah tidak menjadi bagian dari perusahaan lagi, tapi Sanusi terus memantau keadaan.


Belakangan ini dia tahu bahwa Pak Sukamto memang benar-benar sakit, bukan cuma pura-pura.


Seluruh dendam dan sakit hatinya hanya tertuju kepada tabib muda tersebut.


Tanpa tabib itu, penyakit Pak Sukamto mustahil bisa sembuh. Tanpa tabib itu rencananya tidak bakalan menemui kegagalan.


'Jangan-jangan persoalan surat menyurat yang dirampas itu juga ada hubungannya dengan tabib muda tersebut?'


Tapi Sanusi membantah pemikirannya sendiri. Itu mustahil!


Oleh karena itu lah dia di sini akhirnya. Kembali merancang rencana.


Dia tak tahu latar belakang Mumu seperti apa. Tak mungkin semuda itu sudah memiliki ilmu pengobatan yang mumpuni tanpa memiliki latar belakang yang luar biasa.


Sanusi tak mau bertindak gegabah. Oleh karena itu dia akan melalukan dengan cara halus.


Beruntung dia pernah kenal dengan salah seorang pemimpin suku pedalaman yang ahli dalam ilmu perdukunan. Di sanalah dia akan menuju.


Dia orang yang pintar dan sedikit licik. Tak mungkin dia akan menerima nasibnya dikeluarkan dari perusahaan yang telah menghasilkan keuntungan yang sangat banyak semudah itu.

__ADS_1


'Tunggu saja Kakak Ipar, giliranmu akan tiba. Sekarang biar aku menyelesaikan tabib muda si*lan itu dahulu.' Gumamnya senang.


Sementara itu di Jalan Perumbi Jawa tampak Mumu sedang kewalahan melawan gempuran kelima orang itu.


Mumu lebih banyak mundur sambil terus berusaha mengelak dan menangkis serangan gabungan kelima orang itu.


Jika mereka menyerang satu satu, Mumu yakin ia bisa mengalahkan lawannyanya dengan mudah.


Tapi mereka berlima sangat kompak. Koordinasi mereka sangat bagus tidak menampakkan celah. Sedangkan dari segi kemampuan, kemampuan mereka sangat tinggi sama seperti pria yang Mumu lawan sewaktu di jalan pembangunan kala itu.


Mumu menduga mereka berlima dari satu perguruan. Gerakan mereka seragam, jurus-jurus yang mereka gunakan juga sama. Lagi pula mereka sangat berpengalaman dalam serangan berkelompok seakan-akan mereka terdiri dari satu kesatuan yang utuh.


'Ini pasti bukan pertama kalinya mereka bertarung secara berkelompok seperti ini.' Gumam Mumu.


Tenaga Mumu sudah mulai terkuras. Keringat bercucuran membasahi bajunya seakan bisa diperas. Nafasnya mulai tak beraturan apa lagi saat sebuah tendangan dan pukulan masuk mengenai dada dan pinggangnya sehingga Mumu kembali terjajar ke belakang.


Belum sempat ia mengatur kuda-kuda sebuah tendangan memutar kembali dilayangkan oleh Ijal, Mumu terpaksa mundur satu langkah ke belakang. Sebelum Ijal melanjutkan serangannya Mumu cepat-cepat bergerak ke samping dan membalas serangan Ijal.


Tapi serangannya langsung dipatahkan oleh pria yang bertato di bahunya.


Setakat ini Mumu hanya berhasil merobohkan satu orang di antara mereka. Bukan karena serangannya tidak efektif tapi disebabkan ia tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan serangan.


Sungguh kombinasi yang luar biasa.


Mumu agak kewalahan tapi hal ini tidak mematahkan semangatnya. Walau pun ia terdesak tapi Mumu tak mengendurkan perlawanannya.


...****************...


Amran keluar dari RSUD dengan wajah muram. Dia memanggil ambulance. Tak lama kemudian ambulance segera datang. Sopirnya membuka pintu belakang dan langsung menaikkan pasien yang tak lain adalah Handoko adanya ke dalam ambulance.


Kondisi Handoko tampak parah sama seperti pertama kali Amran menemukan abangnya di puing-puing ruangan rahasia tempo hari.


Ini agak aneh sebenarnya. Melihat kondisi Handoko yang tampak sekarat tapi sudah dipulangkan dari RSUD.


Ada apa sebenarnya?


Banyak perawat dan keluarga pasien yang lain melongok, memanjangkan leher mereka agar bisa melihat kondisi Handoko dengan mata kepala mereka sendiri.

__ADS_1


__ADS_2