TABIB KELANA

TABIB KELANA
63.


__ADS_3

Ingin rasanya dia menelpon Mumu atau berkunjung ke rumahnya untuk memberikan sedikit buah tangan atas bantuannya yang tak terhingga, tapi Seno tak tahu di mana Mumu tinggal.


Yang lebih parahnya lagi nomor Mumu pun sudah dia hapus habis dari hanphonenya, nomor kontak, panggilan masuk dan panggilan keluar semuanya sudah dibabat habis. Tidak bersisa.


Waktu itu dia sangat kecewa. Tabib muda yang digadang-gadangkan oleh orang-orang tak lebih hanyalah seorang pembual. Tong kosong nyaring bunyinya.


Kini Seno menyesali dirinya yang sudah berpikiran sempit saat itu. Pada hal nomor kontak Mumu dia dapatkan berkat hasil nguping pembicaraan orang-orang saat belanja di pasar. Begitu mendengar kedua orang tersebut berbicara tentang tabib muda yang mempunyai ilmu pengobatan yang luar biasa dan mendikte nomor kontak tabib muda tersebut, Seno dengan cepat-cepat mengeluarkan handphonenya dan mencatatnya secara diam-diam.


Sekarang apa mau dikata, jika nasi sudah menjadi bubur masih bisa dimakan, sekurang-kurangnya menjadi bubur ayam.


Tapi sekarang nasi sudah tumpah ke laut sehingga hanya penyesalanlah yang tak berkesudahan.


Dalam pada itu, Mumu tidak langsung pulang ke rumah. Dari pelabuhan ia singgah sebentar di pasar. Belanja berbagai macam sayur-mayur dan lauk-pauk untuk stok di rumah.


Bagaimana pun juga sekarang ia tidak tinggal sendirian. Masih ada Bik Esah dan cucunya yang tinggal di rumah.


Selain itu juga, Mumu sengaja belanja untuk menghilangkan kecurigaan sindikat yang mencari Pak Hilman, hingga kini mereka masih berdiri di setiap persimpangan jalan-jalan besar dan gang-gang.


Dengan menyewa jasa becak, Mumu pun pulang dari pasar dengan tenang.


"Perasaan wajah anak muda itu sedikit familiar ya." Ucap salah seorang pria yang berjaga di simpang jalan Diponegoro-Kesehatan. Simpang tiga samping Hotel Diva itu.


"Yang mana?" Tanya kawannya yang satu lagi.


"Yang barusan lewat tadi. Naik becak."


"Pastilah familiar. Kan dari pagi orang lalu-lalang pergi dan pulang dari pasar. Belum lagi orang berangkat kerja dan ngantar anaknya ke sekolah."


"Tapi yang ini agak beda. Aku seperti pernah melihatnya di suatu tempat. Kapan dan di mana ya aku pernah melihatnya?" Pria itu berusaha mengingat, mencoba menelusuri kembali memorinya. Dia memang dikenal sebagai orang yang punya ingatan yang kuat dalam mengenal wajah seseorang sehingga dia ditempatkan di sini.

__ADS_1


Sedangkan temannya tidak lagi peduli. Dia langsung memfokuskan pandangannya pada setiap orang-orang yang lewat.


Tiba-tiba dia dikejutkan oleh teriakan Sino, "Aku ingat sekarang! Aku ingat. Cepat telpon kawan-kawan yang berjaga di persimpangan di sepanjang jalan ini supaya menghentikan becak itu. Aku segera ke sana." Sino berkata dengan raut wajah tegang sambil menuju sepeda motornya. Dia dengan tergesa-gesa menghidupkan motor lalu menekan gas sekencang-kencangnya.


Dalam keterkejutannya kawan Sino dengan sikap menelpon kawan-kawannya yang menjaga jalan satu per satu.


Sino berhenti di persimpangan jalan Diponegoro-Siak-Rumbia. Tanpa mematikan motornya, dia langsung mengajukan pertanyaan kepada kawannya yang berjaga, "Apakah kalian melihat becak yang membawa penumpang seorang anak muda yang lewat sini barusan? Ke arah mana mereka lewat?"


Untunglah hanya ada satu becak yang lewat belum lama ini sehingga mereka berdua langsung menjawab, "Lurus."


Tanpa sempat berbasa basi lagi, Sino langsung melarikan motornya sekencang-kencangnya.


Dua orang pria yang berjaga itu saling pandang, "Ada apa dengan Sino?"


Pria yang satu lagi mengangkat kedua bahunya dan berkata, "Tak tahu."


Saat Sino sampai di persimpangan jalan Budaya-Banglas, saat ditanya, kawan-kawannya menggelengkan kepala, "Belum ada becak yang lewat dalam setengah jam berakhir."


Sino panik. Dia kembali ke belakang tapi dia sengaja membawa motornya dengan perlahan.


Sepanjang jalan kepalanya menoleh ke kiri dan ke kanan, tapi becak tersebut benar-benar raib. Entah ke mana.


Dia sangat menyayangkan karena terlambat bertindak. Jika saja dia mengingatnya lebih cepat mungkin dia masih sempat mengejar pemuda yang di dalam becak tersebut.


Setelah lima menit baru dia ingat bahwa dia melihat wajah yang mirip anak muda tadi sedang berjalan kaki bersama temannya. Walaupun wajahnya tidak sama tapi Sino merasa bahwa perawakan teman si pemuda tadi agak mirip dengan orang yang menjadi target buruan mereka.


Akhirnya dia kembali dengan lesu. Dia tak berani untuk melaporkan dugaannya ini kepada atasannya karena belum pasti. Nanti malah dia yang disalahkan dan dijadikan pelampiasan kegagalan operasi mereka.


Dalam pada itu Mumu sudah sampai di depan kantor Kapolsek jalan Pembangunan dua.

__ADS_1


Ia sengaja berbelok ke gang kecil dan minta diturunkan di sini. Sebagai bentuk kehati-hatian. Ia takut seandainya tukang becak ditangkap dan ditanyai alamat tempat tinggalnya. Oleh karena itu ia harus cari cara aman agar tetap tidak diketahui.


Mana tahu di antara sekian banyak orang-orang yang berjaga pernah melihat dan menandai wajahnya kan bisa gawat urusannya.


Jika kelompok kecil Mumu tidak takut untuk melawannya. Tapi sindikat ini beda. Mereka bukan kelompok orang-orang biasa.


Mereka pasti berasal dari perkumpulan yang besar yang mempunyai bekingan dari orang-orang yang bukan sembarang sehingga Mumu tak mau berurusan dengan mereka secara terbuka jika memang tidak terpaksa.


Setelah becak itu pergi, Mumu melanjutkan pulang ke rumahnya dengan berjalan kaki memasuki gang-gang kecil lainnya. Tentu saja gang yang tidak dijaga oleh sindikat itu.


Setelah sampai di rumah, setelah menyerahkan belanjaannya dengan Bik Esah, Mumu langsung masuk ke kamarnya.


Ia menenangkan dirinya dengan membentuk sikap meditasi lalu segera memutar teknik pernafasannya dengan tenang.


Pikirannya hanya fokus pada satu titik di antara kedua alisnya. Nafasnya turun naik dengan teratur. Semakin fokus ia maka tenaga dalamnya semakin bertambah sedikit demi sedikit.


Proses pernafasannya jika dilakukan dengan penuh konsentrasi bisa lupa waktu. Waktu mengalir bagaikan cahaya yang melesat secepat kilat.


Tanpa terasa dua jam berlalu dengan sekejap. Mumu membuka kedua matanya.


Setelah meregangkan tubuhnya sebentar, Mumu langsung menuju halaman belakang rumahnya.


Halaman belakang sudah ia sulap menjadi tempat latihan fisik dan tempat ia mempraktekkan jurus-jurus bela dirinya sehari-hari.


Untuk latihan fisik, ia telah membuat bangsal ukuran sedang tempat ia menggantung samsak dan peralatan bela diri yang lain.


Ia juga menyediakan berbagai jenis senjata agar bisa melatihnya hingga mahir.


Sedangkan untuk melatih jurus-jurusnya, ia memanfaatkan tanah lapang. Rencananya jika sudah ada uang lebih Mumu berencana ingin membeli matras dan peralatan seperti yang ada di gym-gym.

__ADS_1


__ADS_2