
Mumu tak berusaha untuk menghentikan Wulan. Walau pun ia bisa memaksa Wulan untuk mendengar cerita sesungguhnya, tapi Mumu tahu bahwa tidak ada gunanya.
Wulan sudah terlanjur membencinya dan juga dalam keadaan marah sehingga pasti tidak akan menerima apa pun yang ia sampaikan.
Wulan berusaha untuk menghentikan tangisnya. Jika sampai di rumah tapi matanya masih bengkak tentu akan menimbulkan masalah yang tak perlu.
Wulan berhenti di pinggir jalan. Setelah selesai menenangkan dirinya beberapa menit,setelah itu dia baru melanjutkan perjalanannya pulang ke rumah Lisa.
Tiba di rumah, ternyata Lisa belum pulang.
Wulan langsung mengemas seluruh pakaiannya dan dimasukkan ke dalam tas besar.
Dia sudah bertekad bahwa besok dia akan pulang ke Jogja lewat Pekanbaru, dari Pekanbaru barulah nanti dia naik pesawat yang langsung terbang menuju Jogja.
"Wulan, apa yang terjadi dengan barang-barang kamu? Kamu mau berangkat ke mana?" Lisa langsung berteriak saat masuk ke kamar Wulan.
"Besok aku mau pulang ke Jogja, Lisa. Tak enak sama kedua orang tuaku, sudah lama aku tak pulang."
"Tapi kamu bilang tinggal di sini selama dua minggu, tapi ini kan baru seminggu berlalu." Protes Lisa.
Wulan menarik nafas dengan berat lalu berkata, "Aku ingin cepat menyelesaikan kuliahku yang tertunda, Lisa. Aku sudah membatalkan masa langkau ku, tinggal menunggu hasil dari pihak kampus."
"Tapi kenapa? Apakah karena dia akan pulang dari Amerika?"
Wulan menggelengkan kepalanya. Tak ingin membahas topik itu.
Rupanya Lisa menyadari sehingga dia tidak melanjutkan lagi ucapannya barusan.
Dalam pada itu, Mumu sedang duduk termenung di beranda depan rumah.
Ia sebenarnya jarang minum minuman manis seperti teh atau kopi, tapi hari ini ada segelas kopi panas di atas meja di depannya.
Sesekali ia menghirup kopi tersebut sambil memandang ke arah jalan seakan-akan menunggu seseorang yang akan datang menemuinya.
__ADS_1
Tapi itu hanyalah harapannya semata, hingga hari menjelang sore tak ada siapa-siapa pun yang datang.
Dengan nafas berat Mumu akhirnya berdiri masuk ke dalam rumah.
Ia mengambil jaket dan helm lalu keluar menggunakan motor maticnya.
Tadi ada orang yang nelpon minta tolong obati suaminya yang mengalami sakit lupa.
Lumayan jauh dari kota Selatpanjang, karena pasien tersebut berada di desa Semukut Kecamatan Pulau Merbau.
Mumu membutuhkan waktu sekitar empat puluh menit untuk sampai di sana.
Ditambah dengan nyeberang sungai menggunakan Kempang, Mumu memperkirakan hampir satu jam nanti baru ia sampai ke rumah pasien.
Jika sakitnya tidak terlalu parah, kemungkinan besar, Mumu sudah kembali ke rumah sebelum tengah malam nanti.
Walaupun hatinya sedikit terasa gundah dan kurang bersemangat tapi Mumu tetap pergi menolong orang yang membutuhkan pertolongannya.
Bagaimana pun juga sejak awal ia memang sudah bertekad akan mengamalkan ilmunya ini bagi orang-orang yang membutuhkan pertolongannya, jadi ia harus tetap komitmen dengan tekadnya tersebut.
Biarlah waktu dan keadaan yang akan menyadarinya suatu saat nanti.
Saat Mumu sampai di rumah yang kelihatan sederhana, seorang pria yang Mumu yakini sebagai Pak Amat sedang memarahi istrinya karena tidak membeli rokok sewaktu ke kedai tadi.
Pada hal dia sudah berkali-kali pesan supaya dibelikan rokok. Mulutnya sudah sangat masam karena sedari tadi belum sempat merokok.
Buk Rofeah, istrinya hanya bisa mengelus dada, berusaha menyabarkan dirinya sendiri. Bagaimana pun juga hal ini bukan sepenuhnya kesalahan suaminya karena memang dia mengidap penyakit pelupa.
Kadang yang membuat Buk Rofeah naik tensi bukan gara-gara penyakit suaminya, tapi karena Pak Amat tak mau menerima bahwa dia mempunyai penyakit. Itu saja.
Begitu juga dengan persoalan rokok tadi, sudah jelas-jelas Buk Rofeah langsung memberikan kepada Pak Amat sewaktu pulang dari kedai tadi, karena dia entah menaruhnya dimana sehingga kembali Buk Rofeah menjadi sasaran omelannya. Buk Rofeah tak bisa berkelah karena tidak ada saksi.
Untunglah saat kesabaran Buk Rofeah hampir jebol karena dalam setengah jam ini diomeli terus sehingga kupingnya terasa gatal, dia melihat sebuah motor warna merah memasuki halaman rumahnya.
__ADS_1
Pak Amat yang baru saja menarik nafas dan bersiap-melanjutkan omelannya mendadak berhenti lalu mengikuti arah pandangan istrinya.
"Siapa itu, Buk?" Tanya dia dengan penasaran. Perasaan dia belum pernah mengenal anak muda yang tampak sederhana itu.
"Kurang tau, Pak." Walaupun Buk Rofeah sudah bisa menduganya tapi lebih baik dia diam saja dari pada disalahkan sekali lagi. "Tanyakan saja, Pak! Mana tau dia sedang mencari alamat seseorang."
"Silahkan masuk anak muda!" Ucap Pak Amat dengan ramah. "Kalau boleh tahu anak muda ini dari mana dan mau ke mana?"
"Terima kasih banyak, Pak." Mumu tersenyum ramah. "Ini benar rumahnya Pak Amat?"
"Benar-benar. Ini dengan saya sendiri." Pak Amat tersenyum cerah.
"Wahhhh....kebetulan sekali kalau begitu, Pak. Saya sengaja jalan-jalan keliling desa, Pak. Saya mempunyai kemampuan untuk membuka aura seseorang, tapi ini rahasia ya, Pak. Jangan bilang sama siapa-siapa." Mumu sengaja memelankan suaranya sehingga suasana menjadi sedikit dramatis. "Kebetulan di pelabuhan tadi orang cerita jika Bapak mempunyai aura unik sehingga saya menyempatkan diri untuk datang ke sini."
"Benarkah begitu?" Desis Pak Amat. Hidungnya kembang kempis, senang karena dipuji.
"Ternyata apa yang dikatakan oleh orang-orang tentang Bapak tidak meleset sedikit pun, Pak. Kalau Bapak memang mau, saya bisa membuka aura Bapak yang masih tersegel."
Pak Amat semangat bercampur ragu, "Tapi...tapi berapa biayanya, anak muda? Bapak tidak punya uang yang banyak."
"Mengenai biaya Bapak tenang saja. Karena aura di tubuh Bapak sangat unik sehingga kali ini saya akan membukanya secara gratis, Pak. Bagaimana? Mau tak?" Mumu memandang Pak Amat sambil menaikkan alisnya.
"Kalau memang gratis mau lah ha ha...." Pak Amat tertawa senang.
"Buk, buat kan kopi untuk tamu kita!" Perintahnya. "Jadi kapan kita bisa mulai, anak muda?" Tanya Pak Amat tidak sabar.
"Sekarang juga bisa, Pak. Bapak berbaring tengkurap dulu. Saya mau membuka auranya dari arah kepala."
Mumu terpaksa berbohong. Berdasarkan cerita Buk Rofeah ia bisa menebak karakter seperti apa Pak Amat itu. Sehingga jika dengan cara biasa, ia pasti tak akan bisa mengobati Pak Amat.
Mumu segera mengeluarkan tiga batang jarum akupunturnya. Tadi ia sudah memindai bahwa terdapat penyumbatan pembuluh darah dan jaringan saraf yang tersimpul di sekitar kepala Pak Amat sehingga menyebabkan ada kendala, menerima, mengimpan serta mengolah informasi.
Kabar baiknya adalah penyakitnya belum begitu parah, tentu saja hal ini dilihat dari sudut pandang Mumu karena ia memang mempunyai kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang lain.
__ADS_1
Jika dilihat dari sudut pandang orang lain, mungkin beda lagi.