
Berkat kekuatan spiritualnya yang meningkat sehingga kali ini Mumu mampu melihat sosok tersebut walau pun hanya sekilas.
Sehingga yang sedikit itu sudah bisa mengobati rasa penasaran yang selama ini bersarang di hati Mumu.
Melalui kekuatan spiritualnya, Mumu bisa melihat sekilas bahwa makhluk yang kadang kala mengawasinya dari kejauhan itu bentuknya sama dengan manusia biasa.
Dilihat dari pakaiannya yang serba putih dan berbentuk kebaya, Mumu yakin makhluk tersebut adalah seorang wanita. Apa lagi saat melihat rambutnya yang tergerai sangat panjang hingga mencapai bok*ngnya.
Sayang sekali Mumu tak sempat memindai wajah makhluk tersebut sehingga ia tak tahu makluk itu apa kah memang manusia betulan, makhluk halus atau makhluk jadi-jadian.
Tanpa sadar bulu kuduk Mumu meremang saat memikirkan makhluk halus dan makhluk jadi-jadian.
Bagai mana pun juga di dunia ini selain manusia juga terdapat makhluk hidup lainnya seperti makhluk halus dan makhluk jadi-jadian. Hanya saja alamnya saja yang berbeda.
Jika sosok tadi adalah makhluk dari alam lain, apa tujuannya mengawasi Mumu? Seingat Mumu, ia tak pernah membuat perkara dengan makhluk yang berbeda alam tersebut.
Setelah memindainya sekali lagi tanpa hasil, Mumu pun segera masuk ke dalam rumah dengan pikiran yang masih penuh dengan berbagai dugaan.
...****************...
Buk Fatimah menatap wajah anaknya dengan penuh kasih sayang. "Kamu sedang ngerjakan apa, Na? Tak masuk kuliah hari ini?"
Mirna yang sedang fokus mengetik di keyboard laptopnya langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu kamar saat mendengar pertanyaan dari mamanya.
"Ah, Mama, mengejutkan, Na saja." Mirna cemberut manja.
"Na sedang ngerjakan tugas kuliah, Ma. Hari ini Na libur, besok baru masuk lagi, Ma."
Buk Fatimah berjalan masuk ke kamar anaknya, setelah itu dia duduk di samping Mirna.
"Lanjut saja pekerjaan mu, Na. Nanti tak selesai-selesai."
__ADS_1
"Tak apa-apa, Ma. Tinggal sedikit lagi. Nanti juga selesai." Mirna tersenyum. Setiap kali melihat mamanya hatinya pasti akan terenyuh.
Papanya rela meninggalkan dia dan mamanya demi istri keduanya. Hingga kini Mirna tak tahu bagai mana kabar papanya karena sejak perceraian itu, papanya tak pernah menghubungi Mirna mau pun mamanya.
Papanya tak pernah mengirim mereka uang. Untuk biaya kuliah, mamanya bekerja keras mengurus bisnis keluarga yang penghasilan tak seberapa besar itu.
"Na...!" Panggil Buk Fatimah.
"Hmmm....ada apa, Ma?"
"Boleh mama nanya sesuatu?"
"Kok mama begitu? Hati, Na jadi deg-degan. Tanya saja langsung, Ma. Jangan bikin Na terkejut gitu."
Buk Fatimah hanya tersenyum lembut. Ditatap mata anaknya yang bulat bening itu, "Mengapa kamu masih mempertahankan statusmu sebagai orang yang sudah bersuami, Na? Mengapa tak kamu rubah? Nanti kamu bakalan kesulitan mencari pasangan lho."
Mirna terdiam. Dia tak langsung menjawab. Sebaliknya dia menggigit bibirnya sebelum berkata, "Hmmm....biar saja status Na tetap seperti itu, Ma. Paling tidak ini menjadi pengingat bagi, Na....lagi pula, Na memang tak berniat mencari pasangan di sini. Na ingin fokus menyelesaikan kuliah terlebih dahulu."
"Paling tidak kamu harus melepas status mu dulu, agar tidak menjadi masalah di kemudian hari."
Buk Fatimah memandang anaknya dengan tatapan rumit. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi tak jadi.
Hanya saja dalam hatinya membatin, 'Apakah anaknya telah jatuh cinta dengan Mumu? Jika dia tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap Mumu bagai mana caranya menjelaskan sikapnya ini.
Bisa-bisanya anaknya masih merasa nyaman dengan statusnya sebagai istri Mumu walau hanya sebatas pencatatan administrasi.'
...****************...
Mumu baru saja selesai mandi saat telponnya berdering. Saat melihat nama yang tertera di layar handphone, ia segera mengangkatnya.
"Mumu, kamu di mana?" Saat mendengar suara di seberang sana terkesan santai, tidak ada nada panik atau segala macam seperti setiap kali drg. Saloka menelponnya jika ada pasien yang dalam keadaan gawat, sehingga Mumu pun menjadi santai.
__ADS_1
"Saya di rumah, Pak. Ada yang bisa saya bantu, Pak dokter?"
"Ck ck ck......Enak kali hidup kamu, Mumu. Di saat orang sibuk bekerja kamu santai-santai saja di rumah."
Mendengar candaan drg. Saloka, Mumu hanya bisa tersenyum masam.
"Langsung saja Pak Dokter. Kalau mau mentraktir saya makan jangan pakai bahasa sindirian segala."
"Ha ha ha...melihat perbandingan gaji kita seharusnya kamu yang traktir aku selama satu bulan, Mumu. Bukan malah sebaliknya." drg. Saloka meringis.
Semenjak Dewan Direksi mengetahui kemampuan dan kontribusi Mumu dalam menangani berbagai macam pasien yang mempunyai riwayat penyakit yang kritis, mereka memang sudah memperbarui kontrak Mumu.
Walau pun gajinya naik seperti roket tapi Mumu percaya bahwa gajinya tidak akan melebihi pendapatan drg. Saloka itu sendiri.
"He he kalau begitu apakah tujuan Pak Dokter menelpon saya karena minta ditraktir? Sebagai bawahan, saya siap menerima perintah, Pak."
"Kamu bisa saja. Begini, Mumu." drg. Saloka mulai serius, "Ada beasiswa kuliah kedokteran dari Pemda bagi putra-putri Kabupaten Kepulauan Meranti yang berprestasi.
Jika mendapatkan nilai yang terbaik selama masa perkuliahan, maka tidak akan menutup kemungkinan bahwa akan dibiayai hingga mendapat gelar spesialis. Tentu saja dokter tersebut harus berjanji untuk mengabdi di Kabupaten ini." drg. Saloka menarik nafasnya sebelum melanjutkan.
"Jadi, RSUD kita kebetulan mendapatkan kuota sebanyak tiga orang. Kami sudah sepakat, jika kamu memang mau, maka salah satu kuota tersebut akan menjadi milikmu."
Drg. Saloka memang murni ingin menolong Mumu. Walau pun Mumu mempunyai ilmu pengobatan yang mumpuni, tapi secara formal ia tidak mempunyai gelar sehingga orang akan meragukannya. Tentu saja bagi mereka yang belum mengenal keahlian Mumu.
Walau pun setakat ini Mumu masih lancar-lancar saja dalam mengobati pasien, tapi tidak tahu nanti yang akan datang seperti apa.
Bak kata pepatah sediakan payung sebelum hujan.
Drg. Saloka tidak tahu apa kah Mumu mampu atau tidak dalam menyerap ilmu di universitas ternama. Bagai mana pun Mumu hanyalah seorang anak muda yang bukan berasal dari keluarga yang berada sehingga wajar saja jika daya tangkapnya nanti berbeda dengan mahasiswa-mahasiswi yang lain.
Oleh karena itu, dewan direksi dan drg. Saloka sudah membuat komitmen bersama bahwa mereka semua akan mengumpulkan dana pribadi mereka untuk membiayai perkuliahan Mumu seandainya nanti beasiswanya nanti bakalan dihentikan jika tidak bisa menyelesaikan perkuliahan tepat waktu.
__ADS_1
Pemda hanya akan menanggung biaya kuliah sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Makanya calon mahasiswa dan mahasisiwi kedokteran ini haruslah orang yang cerdas dan berprestasi.